• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

FEATURE

Amri Cahyono eks Gafatar, Ciptakan Filter Air Siap Minum

2 February
21:59 2016
0 Votes (0)

KBRN, Yogyakarta : Di tengah stigma atau penilaian negatif masyarakat terhadap Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), ternyata mantan anggota organisasi tersebut ada yang memiliki keahlian khusus menciptakan teknologi tepat guna dengan biaya terjangkau, bahkan tidak mengandalkan aliran listrik dalam pengoperasiannya.

Amri Cahyono (34) mantan anggota Gafatar asal Kota Yogyakarta, mendesain sebuah filter atau alat penjernih air mentah yang siap minum menggunakan bahan yang sangat mudah diperoleh, diantaranya dua buah pipa pralon berukuran panjang masing-masing 80 centimeter dengan diameter 4 inchi, menghabiskan biaya sekitar 500 ribu rupiah saja.

Keahliannya tersebut ia praktekkan di kompleks Youth Centre Kabupaten Sleman pada hari Selasa (2/2/2016), yang menjadi lokasi penampungan sementara bagi eks Gafatar setelah berhasil dijemput pulang dari Provinsi Kalimantan Barat.

Lulusan Teknik Lingkungan salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta tahun 2005 itu menuturkan ide awal pembuatan alat tersebut, yaitu ketika dirinya melakukan eksodus ke Mempawah Kalimantan Barat bersama rekan-rekannya yang lain sejak bulan November 2015 silam. Lokasi tersebut merupakan daerah sulit air bersih, karena karakteristik tanahnya berupa lahan gambut.

Ketika menggali sumur, ternyata air yang keluar sangat tidak layak dikonsumsi, terkadang berwarna hitam, kuning, coklat dan sebagainya. Sehingga waktu itu dirinya melakukan penelitian awal sekitar satu bulan untuk menjernihkan air, bahan yang digunakan berupa tawas dan kapur dengan konsentrasi tertentu, menyesuaikan tingkat kekeruhan air yang akan dikonsumsi.

”Setelah beberapa kali uji coba pakai tawas saja tidak bisa karena tetap berwarna, akhirnya pakai kapur dengan konsentrasi tertentu, bisa 1:1 atau 1:0,5 biasanya satu sendok kapur dengan tiga sendok tawas”, ujar dia.

Tetapi karena air dari lahan gambut yang dikonsumsi tetap terasa tidak enak bahkan berbau tidak sedap, akhirnya eks Gafatar yang berada di sana kata Amri, akhirnya mengkonsumsi air sungai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti memasak, mandi dan minum.

”Karena alasan kesehatan kita buat alat tersebut, bersama teman-teman yang lain kita buat teknologi tepat guna ini yang mudah dan bisa menghidupi 400 orang, pada waktu itu kita membuat 10 rangkaian alat dalam waktu sebulan”, tuturnya.

Ia menjelaskan, pipa pralon sebagian filter air yang dipasang pada tower kayu setinggi dua meter menggunakan tiga lapisan penyaring, diantaranya terbuat dari karbon aktif untuk menghilangkan bau, batuan zeolit sebagai penejernih air, serta pasir aktif berbahan dasar pasir kuarsa untuk menghilangkan kandungan logam berbahaya.

”Bahan baku untuk membuat saringan filter air banyak terdapat di alam, di toko-toko bahan kimia juga ada”, akunya.

Disamping itu, juga digunakan bak (tandon) pengendap untuk mengolah air yang masuk setelah disedot menggunakan pompa listrik, dimana proses pengolahannya menggunakan tawas serta kapur selama kurang lebih dua jam. Waktu berada di Mempawah dirinya membuat bak penampungan berekapasitas 30 ribu liter, air bersih siap minum kemudian dialirkan menggunakan teknologi gravitasi setelah endapan lumpur diangkat ke permukaan bak tampung untuk dibuang.

Menurut Amri, semakin pelan aliran air ke bawah maka kualitas air yang dihasilkan semakin bagus karena kandungan logam serta zat organik banyak terserap. Bedasarkan hasil uji laboratorium kesehatan, kualitas air bersih siap minum meski dalam kondisi mentah terlihat sangat bagus.

”Pipa pralon kita bikin sedemikian rupa sehingga bisa menyedot secara otomatis ke bawah, kita meminimalisir penggunaan listrik bahkan olahan air sungai langsung bisa diminum dan tidak ada yang sakit”, lanjutnya.

Jika nanti ada masyarakat yang tertarik membuat filter penjernih air hasil karyanya, dirinya mengaku siap membantu untuk membuat karena alat tersebut dirasa sangat bermanfaat bagi sesama, untuk mengubah cadangan air yang kurang layak dikonsumsi menjadi air yang siap minum.

”Nanti kita lihat saja, kalau ada yang minta dibantu akan kita bantu, alat ini bisa mengolah air yang kadar besi dan kapurnya tinggi”, ucapnya. (WS/BSL 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00