• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Editorial

Dewan Kemananan PBB Gagal Berdiri di Belakang Resolusi Cegah Amerika Pindahkan Kedutaannya

19 May
09:26 2018
0 Votes (0)

Disusun oleh Besty Simatupang

KBRN, Jakarta : Dewan Kemananan PBB Gagal berdiri di belakang resolusi Cegah Amerika Pindahkan Kedutaannya
Peresmian pemindahan kedutaan besar (kedubes) Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem,  14 Mei lalu, menyisakan pedih bagi warga dunia. Bagamana tidak dewan keamanan PBB yang digadang gadang serta diharapkan mampu menjadi pihak yang tbertanggung jawab terhadap keputusan Amerika serikat yang menjadikan yerusalem sebagai ibukota israel ternyata  gagal untuk mencegah Amerika Serikat memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv itu. Padahal sebelumnya di akhir  tahun 2017 / KTT LB OKI membahas mengenai keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) atas status Yerusalem sebagai Ibu Kota israel di lakukan di Istanbul. KTT ini menghasilkan komunike final yang mendorong negara di dunia mengakui Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota Palestina.
 
Sebagai tanggapan atas pengakuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, bahwa Yerusalem merupakan Ibu Kota Israel, kembali akhirnya pertemuan OKI ini menjadi sangat krusial. KTT Luar Biasa OKI yang digelar di Istanbul pada Jumat malam waktu setempat,  yang diharapkan akan menghasilkan “Final Communique” atas tindakan kekerasan terhadap warga Palestina yang melakukan aksi protes atas peresmian kedutaan besar Amerika Serikat di Yerusalem karena menentang hukum internasional, dewan keamanan PBB dan resolusi Majelis Umum PBB.

Indonesia selaku anggota OKI pastinya sangat menyesalkan terjadinya pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem tersebut. Pertanyaan nya mengapa Dewan kemanaan tidak  berdiri di belakang resolusi dan memastikan resolusi itu  memiliki makna. Jika tidak, akan berisiko merusak kredibilitas sistem internasional

Padahal jelas jelas Resolusi itu juga menggarisbawahi bahwa Kawasan Timur tengah  tidak akan mengenali perubahan apa pun pada resolusi 4 Juni 1967, termasuk berkaitan dengan Yerusalem, kecuali yang disetujui oleh para pihak melalui negosiasi. Israel menganggap semua Yerusalem sebagai ibu kotanya.sementara  Palestina menginginkan bagian timur kota sebagai ibu kota negara masa depan mereka sendiri.

Sebagian besar negara juga menganggap Yerusalem Timur, yang dianeksasi Israel setelah merebutnya dalam Perang Timur Tengah 1967, merupakan rumah bagi situs-situs yang dianggap suci bagi umat Muslim, Yahudi, dan Kristen.
Pastinya Indonesia mengharapkan, hasil KTT Luar Biaa OKI distambul pekan ini mampu mewujudkan masyarakat internasional yang  semakin kuat dan bersepakat , bahwa langkah sepihak Amerika Serikat itu tidak sesuai dengan hukum internasional. 
KTT Luar Biasa OKI  digelarakibat adanya  aksi kekerasan yang dilakukan tentara Israel terhadap pengunjuk rasa yang meninggal maupun luka-luka saat aksi demo penolakan peresmian kedubes Amerika Serikat 14 Mei lalu itu dapat menghaslilkan solusi terbaru bagi kawasan di yerusalem dan sekitarnya serta masyarakat dunia umumnya guna terwujudnya perdamaian.  (Sumber Foto : Antara)

Tentang Penulis

Agus Rusmin

Reporter Senior RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview

Berita Terpopuler

Berita Terfavorit

00:00:00 / 00:00:00