• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Fokus

Spesies Baru Orang Utan Tapanuli Ditemukan

8 November
14:07 2017
0 Votes (0)

Indonesia resmi mempublikasikan temuan spesies baru orang utan Tapanuli yang diberi nama Latin, Pongo tapanuliensis. Habitatnya berada di ekosistem Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, provinsi Sumatra Utara. Hasil penelitian tersebut dilaporkan dalam jurnal internasional terkemuka, Current Biology, Kamis (2/11), oleh Michael Krutzen, ahli genetika dari Universitas Zurich, Swiss, Anton Nurcahyo dari Sekolah Arkeologi dan Antropologi di Universitas Nasional Australia, dan kolega. Temuan ini juga telah dilaporkan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya beberapa hari sebelumnya.

Penelitian yang dilakukan sejak 1997 itu menobatkan orang utan Tapanuli sebagai spesies ke tiga setelah Pongo pygmaeus atau orang utan Kalimantan dan Pongo abelii atau orang utan Sumatra. Secara genetik, orang utan yang populasinya kurang dari 800 individu ini mirip orang utan Kalimantan. Peneliti menduga, jenis ini berasal dari keturunan nenek moyang mereka yang berpindah dari dataran Asia pada masa Pleistosen, 3-4 juta tahun silam. Kesimpulan dari penelitian itu adalah orang utan Kalimantan, Sumatra, dan Tapanuli terdiri atas tiga garis keturunan evolusi yang berbeda.

Pengakuan dunia internasional ini rencananya akan disusul dengan penetapannya dengan status terancam punah. Ini disebabkan, jumlahnya hanya 800 individu pada luasan 15.000 hektar yang sudah terfragmentasi. Populasinya juga terpecah dalam dua kawasan utama, yaitu Blok Barat dan Timur oleh lembah patahan Sumatra, dan populasi kecil di Cagar Alam Sibual-buali di tenggara blok barat. Tidak hanya itu, antara blok barat dan timur pun terpotong jalan nasional.

Anggota tim peneliti orang utan Tapanuli dari Institut Pertanian Bogor, Puji Rianti, di Jakarta, mengatakan, tindakan mendesak diperlukan untuk meninjau ulang usulan-usulan pengembangan daerah di wilayah itu. Dengan begitu, ekosistem alaminya terjaga demi keberlangsungan hidup orang utan Tapanuli di masa depan.

Hal yang sama dikatakan oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wiratno. Menurutnya, populasi orang utan Tapanuli ini terancam oleh konversi hutan dan perkembangan lainnya. Oleh sebab itu, habitat mereka harus dikelola dengan benar, tidak ada lagi fragmentasi misalnya pembukaan lahan. Posisi habitat orang utan ini pun menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan dan mitigasi terhadap dampak dari pembangunan. Pihaknya memastikan, tidak ada investasi pembangunan yang menggunakan lahan skala besar di wilayah tersebut. Pemerintah akan mengatur lokasi bendungan tenaga air, geothermal, petani, masyarakat, dan ladang. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00