• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Warna Warni

Tope Le'leng, Kain Tenun Khas Sulawesi Selatan.

8 November
12:10 2017
0 Votes (0)

Suku Kajang adalah salah satu suku yang tinggal di pedalaman Makassar, Sulawesi Selatan.  Komunitas masyarakat adat Kajang ini masih sangat menjaga dan melindungi peradaban mereka hingga kini. Secara turun temurun, mereka tinggal di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. Bagi mereka, daerah itu dianggap sebagai tanah warisan leluhur dan mereka menyebutnya, Tana Toa.

Sama halnya dengan Suku Baduy dari provinsi Jawa Barat, Suku Kajang juga memilik ciri khas dalam kehidupan kesehariannya, yaitu berpakaian serba hitam (tope leleng) yang ditenun sendiri dengan menggunakan pewarna alami. Warna hitam, menurut filosofi suku ini mempunyai makna sebagai bentuk persamaan dalam segala hal, termasuk kesamaan  dalam kesederhanaan. Warna hitam menunjukkan kekuatan, kesamaan derajat bagi setiap orang didepan sang pencipta.

Tope Le’leng atau sarung hitam adalah sarung khas kajang yang dibuat dengan proses alamiah dan ditenun para perempuan suku ini. Selain digunakan sehari-hari, Tope Le’leng juga menjadi syarat ketika ada upacara-upacara adat di kajang. Tidak ada ritual khusus Untuk membuat kain tenun khas suku kajang.

Proses pembuata tenun kajang memiliki ikatan dengan alam. Alat-alat tenun yang digunakan adalah warisan nenek moyang yang terbuat dari bambu dan kayu. Pada umumnya ibu-ibu di kajang menenun di bawah rumah atau biasa juga di sebut siring.

Sarung hitam atau Tope Le’leng di buat dengan proses tradisional. Pertama, mereka menanam daun tarung, selama beberapa bulan daun tarung mereka petik kemudian di rendam beberapa hari dalam baskom atau ember. Daun tarung adalah sejenis tumbuhan yang menghasilkan warna hitam yang mereka gunakan sebagai pewarna hitam untuk benang.

Dahulu, Tope Le’leng dibuat dengan menggunakan bahan baku dari kapas. Akan tetapi kini, tenun khas suku Kajang ini menggunakan benang katun putih.  Benang-benang putih tersebut kemudian di rendam beberapa hari dalam larutan warna hitam dari daun tarung yang sudah disiapkan sebelumnya. Selanjutnya benang-benang yang sudah berwarna hitam ini dijemur  pada bambu panjang di bawah terik matahari selama beberapa jam.

Setelah proses menghitamkan benang dari daun tarung selesai, benang-benang tersebut kemudian di pintal dan di masukkan kedalam alat tenun dan siap untuk dijadikan sarung.  Tope Le’leng biasanya di beri motif biru, merah dan putih, yang di buat vertikal. Motifnya tidak ramai seperti kain-kain etnik pada umumnya. Sesuai dengan prinsip masyarakat Kajang sendiri yaitu kesederhanaan.

Selain sarung hitam, mereka juga menenun “passapu”. Passapu adalah kain hitam yang digunakan sebagai ikat kepala. Setelah melalui proses panjang, sarung hitam ini kemudian dibuat mengkilat, dalam bahasa kajang di sebuat ‘garusu’. Sarung hitam dibuat mengkilat dengan menggunakan Kerang dari laut.

Tenun di Kajang bukan sekadar menciptakan lembaran-lembaran kain yang eksotis. Tapi menenun adalah cara yang senantiasa mengajarkan masyarakat berdampingan dengan alam. Tidak hanya itu, menenun bagi masyarakat suku Kajang juga merupakan bagian dari mempertahankan budaya agar masyarakat adat Kajang tetap langgeng.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00