• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Bilik Sastra

IMPIANKU

7 November
11:07 2017
0 Votes (0)

VOI BILIK SASTRA Tak banyak yang  kupinta Tuhan, hanya seulas senyum di masa depan. Saat toga disematkan, ijazah tabung aku genggam. Kebahagiaan bapak dan emak pun  mengembang. Biarkan jemari ini melukis indahnya mimpi, sebagai bakti seorang anak kepada orang tua dan bumi pertiwi.

Namaku Aminah, anak sulung dari empat bersaudara. Berasal  daerah Sekampung Udik.  Sebuah desa kecil yang mengajarkanku arti kehidupan, ketegaran, dan perjuangan. Wanita seusiaku bila di kampung telah memiliki anak dua ataupun tiga. Karena lewat tujuh belas tahun, diberi julukan  perawan tua. Sedangakn aku? Entah berapa kali lebaran dan takbir berkumandang, kuhabiskan waktu  di perantauan.

Setelah kusiapkan sarapan pagi untuk nenek, dengan cekatan kuambil tas ransel hitam untuk pergi  ke pasar.  Selain mengurusnya yang telah berusia 96 tahun, tugasku juga serabutan. Mulai dari membersihkan rumah, belanja, dan memasak.

“Paman, kangkung ini satu ikatnya berapa?”

“Dua puluh lima dolar  saja, Nona. Segar-segar loh! Kamu boleh memilih, kalau  membeli banyak aku kasih murah.”

“Terima kasih, Paman. Aku beli dua ikat saja,” seraya kuulurkan uang logam satu keping. Bertuliskan lima puluh dolar. Tidak lupa kuucapkan terima kasih kepada lelaki paruh baya itu.

Ransel hitam yang kutenteng telah penuh dan sesak. Terjejal beberapa ikat sayuran, buah, dan ikan. Serta bumbu-bumbu dapur lainnya. Sesegera mungkin kulangkahkan kaki menuju apartemen Yonglun Li, Taipei,  tempat aku bekerja. Karena untuk berbelanja pun, nenek memberiku deadline waktu. Nenek paling tidak suka, jika aku brrcakap-cakap dengan BMI lain.

“Saya pulang, Nek,” sapaku pada wanita tua yang duduk di atas sofa.

“Kamu belanja apa hari ini, Ami?”

“Hari ini saya membeli kangkung, Nek. Buah, dan beberapa lauk pauk.”

“Hmmm ... tiap hari kog makan kangkung?” tandasnya ketus.

“Lah, Nek. Kemarinkan kita masak sawi, brokoli, dan kubis? Hari ini kebetulan kangkungnya segar-segar dan murah, makanya aku beli.”

***

Lonceng jam dinding berdentang dua belas kali. Pertanda waktu makan siang telah tiba. Setelah semua hidangan tersaji di meja, lalu kupersilahkan mereka untuk makan. Jika hari Senin sampai Jumat, anak pertama nenek yang kupanggil Ta Ke datang kemari untuk  makan. Maklumlah untuk menekan anggaran pengeluaran rumah tangga, kan uangnya bisa untuk kebutuhan yang lainnya.

“Nenek, Tuan, Ta Ke. Silahkan makan.”

“Baik, Ami. Terima kasih,” timpal majikan seraya menuju ke meja makan.

Sementara mereka makan, aku membersihkan dapur dan perabotan. Selama bekerja di sini, aku tidak pernah makan bersama mereka. Selalu menunggu selesai. Dan hasilnya, hanya tersisa beberapa helai sayuran, kepala dan duri ikan. Yang tidak layak untuk dimakan.Untung ada sebotol sambal terasi yang kubeli saat libur. Sedikit memberi rasa dan menemani gumpalan nasi putih di dalam mangkuk.

 Sebenarnya ingin sekali aku memisahkan makanan sebelum kutaruh di meja. Tetapi apa yang harus disisakan? Semua menu jumlahnya sedikit. Jika kuambil duluan pasti  ketahuan. Dan tidak pantas untuk disajikan. Hanya sabar, yang bisa kulakukan.

 Teringat pesan emak  yang terngiang di benakku “Nduk, dunia ini keras, dan ia takkan pernah memberikan  kebahagiaan  secara gratis.  Harapan adalah tiang penyangga dunia. Untuk itu teruslah semangat!”

Oh Emak .... Bahkan aku masih teringat, bagaimana seluruh saudara dan tetangga mencibir kita, lantaran emak berusaha mencari pinjaman uang untuk membeli beras saat adikku yang bungsu masih bayi. Kala itu, bapak belum pulang dari buruh memanjat kelapa, sedangkan kami seharian belum makan. Emak tidak bisa bekerja mencuci baju di rumah tetangga, karena baru melahirkan.

“Makanya kalau gak punya uang jangan beranak terus. Sudah tahu hidupnya susah, anak malah dibanyakin,” rutuk Bude Yati, tetangga sebelah kami yang waktu itu menjual sayuran keliling.

***

Berkat jerih payahku, tak ada lagi yang mencibir, justru mereka terharu, karena aku yang hanya seorang BMI mampu menyulap rumah berdinding bambu dengan lantai tanah merah, menjadi bangunan megah  lengkap dengan segala perabotan.  Begitulah sejatinya hidup, barang siapa mau berusaha, pasti ada jalan keluar.

Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk  berkelana sebagai buruh migran. Mulai dari Singapura, Hong Kong, dan  Taiwan destinasiku. Tak hanya bekerja, aku di sini juga meneruskan pendidikan ke jenjang perkuliahan, meski secara diam-diam. Aku ingin mewujudkan sebuah impian yang tertunda, lantaran dahulu  terbentur biaya.

“Ami ...    ...,” teriakkan nenek membuyarkan lamunanku.”

“Iya, Nek. Aku  datang.”

“Kamu ada lihat uang saya gak? Saya taruh di laci ini, tapi sekarang nggak ada.”

“Wah, aku tidak melihat, Nek. Kan nenek melarangku untuk membuka laci ini.”

“Uang saya hilang, dan   nggak ada orang lain yang masuk ke rumah ini. Cuma saya, kamu, dan anak saya.”

Aku mengigit bibir, sepasang mata ini berjuang keras menahan embun yang berdesak hendak keluar. Memuntahkan kekesalan dan sakit hati, atas tuduhan yang tak berbukti. Karena ini, bukan kali pertama nenek menuduhku sebagai pencuri. Dulu juga pernah terjadi. Di mana ia kehilangan uang lima ribu dolar. Dan ternyata, uang itu dipakai untuk memperbaiki kloset WC yang pecah.

Rupanya tak hanya sampai sini nenek mencari gara-gara. Ketika majikan pulang pun, ia tetap berpikir jika uangnya sebanyak lima belasa ribu dolar hilang. Jangankan mencuri, melihat bentuk dan tumpukannya saja aku tidak pernah. Apalagi uang berjumlah banyak, uang receh sisa belanja pun diminta lagi, jika aku pulang dari pasar.

“Ami, kata nenek uangnya hilang. Apa kamu melihatnya?” tanya Tuan Shu  penuh selidik.

“Tidak, Tuan. Saya tidak melihat, apalagi mengambil. Mungkin nenek lupa menaruh uang itu.”

“Saya tidak lupa! Saya belum pikun,” sembur nenek dengan nada  menyalak.

Akhirnya Tuan Shu menyuruhku pergi ke belakang, untuk menghindari pertengkaran dengan ibunya.  Tetapi semenjak peristiwa itu, sikap tuan dan nenek sangat berubah. Mereka berdua tidak acuh padaku. Acapkali bersitatap dengan tuan, mata itu menyiratkan kebencian.


***

Saat aku sedang  mengelap bagian mata kaki nenek,  entah disengaja atau tidak, tiba-tiba nenek menjambak ekor rambutku yang kuikat tinggi. Hingga seringaian sakit kurasakan.

Sebenaranya bisa saja aku balik memukul dia. Toh ... sudah renta ini. Tenagaku  jauh lebih kuat dibanding tenaganya, yang terbalut  kulit keriput. Namun kuurungkan.

Karena emak selalu berpesan, untuk selalu memperlakukan orangtua dengan santun“Nduk, perlakukanlah orang yang lebih tua dengan sikap terhormat. Niscaya, hidupmu kelak pun akan dihormati oleh orang lain.”

Owhh emak, betapa aku sangat beruntung atas segala budi pekerti yang Kau ajarkan.”

***

Hujan membungkus malam. Guntur dan petir bersahutan. Pada bulan April hingga Mei, Taiwan kerap dikunjungi hujan lebat dan angin kencang. Di musim semi, merupakan transisi dari musim dingin ke musim panas. Di dalam kamar kecilku, kupandangi layar pipih berwarna putih--laptop kesayangan. Sarana untuk aku belajar, dan mengikuti tutorial online di akademik.

Jika ditanya lelah? Sudah pasti kujawab “Iya”. Tetapi karena impian yang menggebu, rasa lelah itu hilang dengan sendirinya. Sebuah masa depan yang lebih baik dan bisa me jadi kebanggaan keluarga. Itulah IMPIANKU. 

Kling!

Sebuah panggilan di messengger masuk. Rupanya dari sahabatku, Dewi. Ia menanyakan, kenapa skypeku hingga kini belum menyala. Padahal lima menit lagi kelas online dari dosen akan dimulai.

“Ayo, Ami. Semangat. Ini adalah semester akhir kita. Dan pastikan kita harus  WISUDA di tahun nanti. Bukankah ini impian terindahmu? Ibarat berlari, kita telah berada di ambang finish. Jangan sampai semua pengorbananmu selama ini sia-sia, hanya karena sebuah kecengengan di dalam hidup.”

“Tapi, Wi--“

“Heii, mana Ami yang kukenal dulu? Setahuku Ami wanita yang tegar dan tidak mudah menyerah.

Sedihku hilang. Malasku terbang. Dewi  memang sahabat  yang baik, dan mengerti aku. Bahkan, dialah satu-satunya teman yang tahu, jika selama ini aku berkuliah secara diam-diam. Tanpa sepengetahuan tuan dan nenek.

“Siapa kamu? Istriku bukan! Adikku bukan! Kog di sini mau sekolah,” maki tuan, ketika dahulu aku berpamitan hendak berkuliah “Saya menggajimu untuk menjaga nenek, jadi kerjakan tugasmu sebaik mungkin. Tidak usah aneh-aneh.” Itulah kata-kata yang tuan lontarkan saat aku meminta izin untuk melanjutkan sekolah.

Sebenarnya niatku meminta izin secara baik-baik. Tetapi sayangnya, bukan izin yang kudapat.  Justru caci maki yang kuterima. Hingga akhirnya aku memutuskan berkuliah secara sembunyi-sembunyi.Tak mudah memang, acapkali pengiriman module datang, aku  harus memberi security di apartemen dengan dua bungkus kopi, dan biskuit.


“Tuan, kalau ada kiriman barang atas namaku tolong terima dan simpan dahulu ya. Nanti jam istirahat, aku akan turun untuk mengambilnya,” ucapku pada satpam apartemen.

“Kalau boleh tahu, bentuk paketan apa itu?”

“Hanya berupa buku kog. Dan tidak perlu membayar.”

“Oke, kalau begitu.”

“Terima kasih, Tuan. Dan ini ada  sedikit camilan untuk nanti sore.”

“Wah, terima kasih, Nona.”

“Sama-sama, Tuan.”

Ujian di ambang mata. Lagi-lagi aku masih bingung, bagaimana harus mendapatkan izin agar bisa libur dua kali di bulan ini. Karena, sebenarnya tuan hanya memberikan jatah satu kali libur dalam sebulan. Terpaksa kali ini aku harus meminta bantuan agensi.  Beliau baik sekali, memperlukanku seperti anaknya sendiri. Bahkan, di tengah penentangan yang dilakukan oleh tuan atas niatku bersekolah, beliau memberi dukungan seratus persen.

“Kuliahlah! Karena hanya dengan ilmu, dan pendidikan, engkau mampu merubah dunia. Maka rubahlah duniamu, menjadi indah dan penuh warna.”tuturnya memberi semangat.

Bukan tanpa alasan beliau baik padaku. Dahulu, saat kali pertama aku menginjakkan kaki di Formosa. Nasibku kurang beruntung. Di dalam job kerja yang kutandatangani ketika di PJTKI, tugasku menjaga nenek. Ternyata, aku dipekerjakan di pabrik. Harus membersihkan area pabrik  yang luasnya seperti lapangan bola, serta berketinggian tingkat lima. Belum lagi harus memasakan tujuh belas orang setiap hari. Tidak ada seorang TKW pun yang betah bekerja di sana terlalu lama. Satu sampai dua bulan, pasti mereka kabur. Tetapi aku, mampu bertahan hampir dua tahunan. Dan oleh sebab itulah agensi mengagumi kesabaranku. Hingga akhirnya ketika aku sudah tidak kuat lagi, ia menjemput dan mempekerjakanku di sini. Bagiku, mimpi buruk itu telah terlewati.

***
Soal-soal  ujian  di depan mata. Berbekal niat dan mengucap bismilah, satu persatu soal kukerjakan. Satu harapan,  mendapat nilai memuaskan yang bisa kupersembahkan pada bapak,emak. Sebagai hasil jerih payah dan keringat yang bercucuran selama kami berpisah. Entah berapa tetes airmata tercurah, berapa besar kerinduan menggumpal.

Selesai Ujian aku dan teman-teman pergi ke toko Indo, untuk mencicipi masakan nusantara. Kebetulan matahari mulai condong meninggi, serta perut kecilku sudah kelaparan. Pada saat inilah aku bisa merasakan menu makanan nusantara yang mengobati rinduku pada kampung halaman.

Kembali aku sendiri bersama malam, bersama langit jernih  yang mengumbar bintang-bintang. Dan remang-remang lampu menghiasi pinggir-pinggir jalan. Kusandarkan tubuh lelahku di kursi bus bernomor 215 yang akan membawaku pulang ke tempat kerja. Sesegera mungkin, inginku menuju kantung tidur, merebahkan lelah. Yang mendera.

Kutekan bel pintu rumah, karena nenek tak pernah membiarkanku membawa kunci jika bepergian. Aku bercedak kaget. Saat mengetahui anak bungsu neneklah yang membukakan pintu untukku.

“Cece, Apa kabar?”

“Kabar baik, Ami. Sudah pulang liburannya?”

Perasaanku tidak nyaman. Kenapa semua anak nenek berkumpul di rumah? Sebenarnya apa yang terjadi? Mungkinkah ada hubungannya dengan uang nenek yang ia bilang hilang tempo hari lalu? Belum sempat kuletakkan tas punggung berisis buku dan alat lainnya. Tiba-tiba cece memanggilku untuk duduk di ruang tamu. Dan seketika itu juga perasaan was-was menyelimuti. Jangan-jangan, mereka akan memulangkanku ke Indonesia sekarang juga? Belum sirna rasa penasaranku, cece dengan cepat membuka percakapan.

“Ami, atas nama nenek saya minta maaf, karena telah berburuk sangka padamu. Sebenarnya kalau saya pribadi yakin benar, kamu tidak mencuri uang itu,” terangnya,”Karena kamu sudah lama bekerja di sini, serta merawat nenek dengan baik-baik.”

Aku terdiam, bingung. Kenapa cece berkata seperti itu? Dan ia tahu dari mana, jika bukan aku yang mengambil uang itu. Belum hilang sejuta tanya dalam hati. Cece langsung menjelaskan; jika tadi nenek sempat tidak enak badan. Tensi darahnya mencapai 185. Dengan cepat Tuan Shu menelepone anak-anak nenek yang lain, agar turut serta mengantar ke rumah sakit. Setelah mium obat dari dokter, tensinya kembali normal. Hingga tidak perlu menjalani rawat inap, dan diperbolehkan pulang. Berhubung kamar nenek sempit, sedangkan anaknya berjumlah empat orang datang semua, terpaksa bantal-bantal yang berada di samping kanan-kiri nenek tidur, ditumpuk menjadi satu.  Ketika itulah tumpukan uang itu ditemukan di bawah bantal oleh anak kedua nenek yang kupanggil Er keke.

Aku  terharu mendengar cerita itu, tak sadar telaga ini berkaca-kaca. Kemudian buliran bening itu jatuh. Bahagia. Kebenaran akan tetep tampak, meskipun harus mengalah terlebih dahulu.

Dengan langkah gontai aku menuju kamar nenek, ia tengah tergolek lemah di tempat tidur. Matanya yang sayu, mengingatkanku pada sosok emak. Wanita yang selama ini sangat  kurindukan. Wanita yang rela menghabiskan waktunya untuk menungguiku ketika aku sakit. Dan wanita yang selalu mendoakanku dengan penuh keikhlasan, untuk meraih kesuksesan.

“Emak, tunggulah aku kembali. Kan kuukir  senyummu indah berseri.”

Taiwan, 27 Mei, 2017

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00