• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Bilik Sastra

Aku Mengira Ada Surga di Formosa (Pemenang Pertama Bilik Sastra Award 2017)

22 October
14:55 2017
1 Votes (2)

Aku Mengira Ada Surga di Formosa

Oleh Kaka Clearny

Hembusan angin November, membawaku terbang  memunguti  serpihan asa yang pernah terberai. Tergoda iming-iming gaji tinggi yang ditawarkan seorang calo TKI,  aku memilih formosa, Taiwan. Mengadu nasib, menggantungkan harapan-harapan pada koin-koin NT. Dengan semangat super meluber-luber, jiwa dan ragaku lesap bersama maskapai Eva Air, meliuk di birunya angkasa, menyelinap di antara gumpalan putihnya mega.

Kedua mataku berbinar merasakan angin Daratan Cina yang menyapa lembut wajah. Aku memijakkan kaki di pelataran parkir Rumah Sakit Buddist Tzu Chi, di Xindian sesaat setelah oto berplat nomor aksara Han Zi itu memboyongku untuk menemui majikan. Aku tidak sendiri, ada Mr. Chen. Ada sesuatu yang membuncah isi kepala,  hatiku membelungsing.

'Bukankah aku sudah medical check up, kenapa harus ke rumah sakit lagi?' gumamku dalam hati.

Meski begitu aku tetap mengekor mengikuti jejak Mr. Chen menuju lantai 7, ruangan nomor 23. Aroma pekat obat menyeruak di ruangan itu. Langkah kami lurus menuju ranjang yang memangku jendela. Sontak perhatianku mengarah pada sosok pria yang tergolek pulas di atas ranjang. Kedua tangannya dalam keadaan terbungkus dan terikat pada masing-masing sisi ranjang. Separuh batok kepalanya terbalut perban ada bercak darah, di hidungnya terpasang selang makan, di lehernya terdapat lubang sebagai saluran sedot dahak, di dadanya terpasang alat pendeteksi detak jantung. Dan di bagian bawah ranjang terdapat kantong urin.

Kondisi pria itu sungguh memprihatinkan. Ada dua wanita yang berdiri di masing-masing sisi ranjang.

"Selamat Petang, Nyonya Ma." Suara Mr. Chen menyapa wanita di depannya memecahkan lamunanku.

"Petang, Mr. Chen." Salah satu wanita menjawab sapaan Mr. Chen. Wanita paruh baya, bertubuh kurus, tingginya kurang lebih sama denganku 150 cm kurang sesenti. Tergambar jelas guratan-guratan penuh beban di wajahnya, kusam, matanya terlihat lelah.

"Ini Nana, baru datang dari Indonesia pagi ini, " tambah Mr. Chen.

"Nana, ini Nyonyamu," ungkap Mr. Chen padaku.

"Selamat petang Nyonya," sapaku padanya sambil menganggukkan kepala. Ada sedikit rasa gugup meski ini bukan kali pertamanya aku bekerja menjadi pembantu.

"Selamat datang," jawab nyonya, diikuti seraut senyum hambar dari wajahnya.

"Nana, tugas utamamu menjaga Tuan Ma."

"Beliau baru saja operasi di bagian kepala akibat kecelakaan." Mr. Chen memberi penjelasan singkat padaku.

Perkenalan dilanjutkan dengan penjelasan tugas dan kewajibanku yang nyonya paparkan panjang lebar. Aku sedikit tergemap, keadaan seperti ini bagai membeli kucing dalam karung.  Aku tidak membaca dengan seksama isi lembar hijau yang telah terbubuh oleh tanda tanganku itu. Semasa training di asrama PJTKI, sebelum terbang ke Taiwan. Yang ada dibenakku saat itu hanya ingin segera bekerja di Taiwan, tanpa memilah-milah bagaimana kondisi kerjanya. Pekerjaan kali ini sungguh berbeda dengan sewaktu di Singapura, yang kukira berkutat dalam urusan dapur dan kebersihan rumah. Namun kali ini berurusan dengan pesakit dan rumah sakit.

Meski begitu aku harus tetap konsisten, semua sudah terlanjur. Terikat perjanjian utang bank selama 9 bulan, aku wajib melunasinya. Aku harus tetap bekerja demi pulang membawa uang.

Mr.Chen pamit undur diri, sepesan wejangan dia wariskan padaku.

"Kerja baik-baik ya?"

"Kalau ada apa-apa hubungi aku," pesannya sambil menepuk ringan pundakku.

"Terima kasih," ungkapku sambil mengangguk.

Mr. Chen berlalu meninggalkanku, sementara sesosok wanita lain yang bersama nyonya adalah yang merawat tuan sebelum ketibaanku. Namanya Ms. Anggie, perawakan tinggi besar dan wajahnya sinis menatapku. Untuk sementara dia juga yang akan mengajariku bagaimana merawat tuan.

"Nyonya, kecil sekali dia!"

"Apa dia mampu menjaga Tuan?" ungkap wanita itu pada nyonya sambil sesekali melirikku.

"Nana pernah bekerja di Singapura selama empat tahun." Nyonya mencoba membela.

Magrib menjelang, senja di ufuk barat menyemburatkan asa yang segera tenggelam dalam dekapan malam langit formosa. Nyonya pun telah berpulang ke kediamannya, dan mempercayakanku merawat Tuan di bawah pengawasan Ms. Anggie yang memang sudah berpengalaman.

"Kamu bisa sedot dahak kan?"

"Coba kamu praktekkan sekarang!" Suruh Ms. Anggie dengan nada agak tinggi. Entah apa yang terjadi, dia memperlakukanku dengan sinis. Kucuaikan saja, toh dia bukan majikan.

"Aku bisa, Ms. Anggie," jawabku lirih.

"Selamat malam, Tuan."

"Namaku Nana."

"Nantinya aku yang akan merawatmu."

"Permisi Tuan, aku akan membantumu sedot dahak." Aku memperkenalkan diri pada Tuan sebelum melakukannya.

Tuan tak bersuara karena di bagian leher ada semacam lubang nafas dan itu dijadikan jalan saat sedot dahak, dia hanya mengangguk sebagai tanda setuju. Sesekali dia melirik ke arah Ms. Anggi, sorotan mata tuan bak pisau  tajam. Dahinya mengernyit, bibirnya komat-kamit, namun tak terdengar suara.

Kulakukan dengan perlahan penuh kehati-hatian. Aku ingat pesan nyonya yang kenapa kedua tangan tuan terikat. Karena otak tuan bagian pengendali saraf motorik  belum benar-benar pulih, hal ini menimbulkan gerak reflek memukul, mencakar, mencabut setiap apa saja yang ada di dekatnya dan dia tidak sadar hal itu.

Saat aku sedang menyedot dahak pada sedotan ketiga, tiba-tiba pembungkus tangan tuan sebelah kanan terlepas. Reflek tangan kanannya menampar wajahku sangat kuat, aku tersungkur menepi ranjang. Tangannya tak terkendali mencabut selang makan, menarik alat yang terpasang pada lehernya. Seketika darah segar muncrat bak air mancur dari lubang sedot dahak itu, tangannya tak berhenti mencakar-cakar tubuhnya sendiri.

"Dokter!"

"Suster!"

"Tolong!" Terdengar teriakan Ms. Anggie, wajahnya menggambarkan ketakutan.

Aku dengan gegas memencet tombol darurat di tepi ranjang, agar pertolongan segera datang. Kuraih tangan kanan tuan, darah itu menyembur keluar mengenai wajahku. Ada sembilan perawat, tiga dokter yang datang menanganinya. Sesekali aku turut membantu membasuh darah yang mancur tak terkendali itu. Sementara kulirik Ms.Anggie yang berdiri menepi, terlihat sedang berbicara di telepon.

Tak lama tuan dibawa masuk ke ruang ICU, dan nyonya pun datang bersama kedua putrinya. Wajah mereka penuh kegelisahan berderai air mata. Namun reaksi nyonya membuatku nanap terpatung.

"Pergi Kau, aku tak ingin melihatmu!" Dengan suara yang begitu lantang hingga beberapa penghuni ruang lantai 7 keluar menyaksikan pengusiran nyonya padaku. Dia melempar tas yang berisi baju-bajuku, berserakan di lantai.

"Tapi, Nyonya... !" Aku berusaha menjelaskan, Nyonya berlalu tak pedulikanku.

"Tak punya pengalaman jangan kesini," ejek Ms. Anggie yang mengikuti langkah nyonya.

Dengan tubuh berlumur darah, kupunguti baju-baju. Beberapa pasang mata mengawasiku penuh iba ada pula yang mencaci, menyumpah serapah. Selanjutnya dalam lunglainya sang tubuh, wajah bagai tersulut api, dada terpanggang, rasanya seperti ada hawa panas berdesak-desak, menggerapai kerongkongan, menggumpal di rongga hidung, berjalar pelan, lalu bermuara di balik kelopak mata, kubiarkan saja air mata merembes mengalir pelan di pipi. Mindaku seolah masuk dalam delusi dan berbisik agar aku tak perlu takut.

Tanganku merogoh ke dalam tas, kuraih telepon genggam yang hanya memiliki tiga fungsi, menelepon, mengirim SMS, dan mengajarkan keikhlasan.

"Selamat malam, Mr. Chen!"

"Aku... ." Dengan nada terbata-bata aku mengubungi agen, namun belum selesai  berucap dia sudah memotong pembicaraan.

"Ya, aku sudah tahu."

"Bermalam saja di rumah sakit."

"Besok aku jemput." Mr. Chen berkata dengan nada ketus, sepertinya dia sudah tahu apa yang terjadi.

Bulir-bulir bening  tak berhenti menetes, isak tangis lirih memecah keheningan malam yang semakin larut. Bahkan satu-satunya pelindung di negeri ini menelantarkanku. Aku ingat Ibu, aku ingin mengadu padanya. Tapi tidak, ini kecerobohan yang kubuat sendiri. Aku tidak boleh membebaninya. Aku tidak memahami isi kontrak kerja, ambisi untuk segera mengeruk NT mematahkan nalar, itu kelalaianku.

Dinginnya AC  lobi rumah sakit membawa lamunku pada sebuah perenungan. Kejadian hari akan jadi pengalaman tak terlupakan seumur hidup. Belajar, belajar, dan belajar dari setiap skenario hidup yang terjadi.

"Kamu pergi mandi dulu!" Seorang perawat tiba-tiba mendekatiku sambil mengulurkan sebungkus roti dan sekaleng susu.

"Malam ini aku boleh bermalam di kursi ini?" izinku padanya.

Dia mengangguk tanda setuju. Aku menghabiskan malam di bangku ruang tunggu rumah sakit hingga pagi, menanti agency datang menjemput. Menjadi TKI itu bagai melempar dua sisi mata uang, mempertaruhkan nasib. Entah, saat kita lemparkan mata uang, nasib akan jatuh di salah satu sisi mana, nasib baik atau buruk.

Hongkong, 20 September 2016

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00