• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Hari Ini Dalam Sejarah

Hari Ini Dalam Sejarah

3 October
13:21 2017
0 Votes (0)

VOI HDS PETA atau Pembela Tanah Air atau Ky?do B?ei Giy?gun adalah tentara sukarelawan Indonesia yang didirikan pada tanggal 3 Oktober 1943 di Indonesia oleh pemerintah kolonial Jepang pada waktu itu. Pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, berdasarkan perjanjian kapitulasi Jepang dengan blok Sekutu, Tentara Kekaisaran Jepang memerintahkan seluruh batalion PETA untuk menyerahkan senjata mereka. Presiden Republik Indonesia yang baru saja dilantik, Sukarno, mendukung pembubaran ini ketimbang mengubah PETA menjadi tentara nasional, karena tuduhan blok Sekutu bahwa Indonesia yang baru lahir adalah kolaborator Kekaisaran Jepang bila ia memperbolehkan milisi yang diciptakan Jepang ini untuk dilanjutkan. Sumbangsih dan peranan tentara PETA dalam masa Perang Kemerdekaan Indonesia sangatlah besar. Demikian juga peranan mantan Tentara PETA dalam kemerdekaan Indonesia. Beberapa tokoh yang dulunya tergabung dalam PETA antara lain mantan presiden Soeharto dan Jendral Besar Soedirman. Mantan Tentara PETA menjadi bagian penting pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Untuk mengenang perjuangan Tentara PETA, pada tanggal 18 Desember 1995 diresmikan monumen PETA yang letaknya di Bogor, bekas markas besar PETA.

3 Oktober 1965 Jenazah Para Korban Gerakan 30 September Ditemukan Di Sumur Lubang Buaya.

Gerakan 30 September atau yang sering disingkat G 30 S PKI atau Gestok Gerakan Satu Oktober adalah sebuah peristiwa yang terjadi malam tanggal 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965 di mana enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia. Enam jenderal senior dan beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta yang disalahkan kepada para pengawal istana (Cakrabirawa) yang dianggap loyal kepada PKI dan pada saat itu dipimpin oleh Letkol. Untung. Panglima Komando Strategi Angkatan Darat saat itu, Mayjen Soeharto kemudian mengadakan penumpasan terhadap gerakan tersebut. Keenam pejabat tinggi yang dibunuh tersebut adalah:

Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI Raden Suprapto, Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan, Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo. Jenderal TNI Abdul Harris Nasution yang menjadi sasaran utama, selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudan beliau, Lettu CZI Pierre Andreas Tendean tewas dalam usaha pembunuhan tersebut. Para korban tersebut kemudian dibuang ke suatu lokasi di Pondok GedeJakarta yang dikenal sebagai Lubang BuayaMayat mereka ditemukan pada 3 Oktober 1965.

03 Oktober 1990, Jerman Barat dan Jerman Timur Bersatu Kembali.

Negara Jerman secara resmi dipersatukan kembali pada tanggal 3 Oktober 1990 ketika enam negara bagian Jerman Timur yaitu BrandenburgMecklenburg-Vorpommern, SachsenSachsen-AnhaltThüringen, dan Berlin bersatu secara resmi bergabung dengan Republik Federal Jerman (Jerman Barat). Untuk itu harus dibuatkan konstitusi baru yang memasukkan keenam negara bagian Jerman Timur tersebut. Untuk memudahkan proses penyatuan kembali Jerman dan untuk meyakinkan negara-negara lain, Jerman Barat membuat beberapa perubahan kepada "Undang-undang Dasar". Pasal 146 diubah sehingga Pasal 23 dari konstitusi berlaku agar dapat dipakai untuk Penyatuan kembali.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00