• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Warna Warni

Talawang, Pertahanan Terakhir Suku Dayak

25 September
10:49 2017
0 Votes (0)

Pada Warna Warni edisi kali ini kami akan mengajak Anda untuk mengenal talawang yang merupakan perisai khas suku dayak.

Peperangan, perseteruan atau pertarungan adalah suatu hal yang tidak pernah hilang dari sejarah peradaban manusia. Suku dayak Kalimantan Tengah sangat mencintai perdamaian namun jika mereka merasa ditekan maka mereka akan melakukan perlawanan. Mandau digunakan sebagai alat perang utama suku dayak. Untuk melengkapi pertahanan, mereka menggunakan perisai yang bernama Talawang. Sama halnya dengan mandau, talawang merupakan benda budaya yang lahir dari kepercayaan masyarakat Dayak terhadap kekuatan magis. Selain itu, talawang juga memiliki sisi estetis yang ditunjukkan pada motif ukirannya.

Talawang dibuat dari kayu ulin atau kayu besi. Namun, ada juga yang terbuat dari kayu liat. Kayu jenis ini merupakan bahan pokok yang sering digunakan dalam pembuatan talawang. Kayu-kayu tersebut dipilih karena selain ringan, juga mampu bertahan hingga ratusan tahun. Seperti perisai pada umumnya, talawang berbentuk persegi panjang yang dibuat runcing pada bagian atas dan bawahnya. Konon, ukiran pada talawang memiliki daya magis yang mampu membangkitkan semangat hingga memberikan kekuatan bagi orang yang menyandangnya.

Seiring berjalannya waktu, talawang mengalami pergeseran nilai kegunaan. Jika dahulu talawang digunakan sebagai pertahanan terakhir dalam berperang, kini talawang lebih berfungsi sebagai benda pajangan yang bernilai estetis sekaligus ekonomis. Satu buah talawang bermotif indah bisa dihargai ratusan hingga jutaan rupiah. Harga tersebut sebanding dengan keindahan motif yang ditawarkan para pembuatnya. Selain itu, bersama dengan mandau, talawang juga masih digunakan sebagai properti dalam pertunjukan tari Suku Dayak, seperti tari mandau dan tari pepatay.

Talawang juga dijadikan lambang provinsi Kalimantan Tengah. Hal ini sesuai dengan moto mereka yaitu “Isen Mulang”. Yang berarti pantang mundur, moto yang sangat sesuai bagi suku dayak yang selalu pantang menyerah menjalani kehidupan keras di lebatnya hutan Kalimantan. Baiklah pendengar, demikian informasi mengenai sejarah barong yang merupakan warisan budaya Indonesia . Terimakasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada Warna Warni edisi berikutnya.// Nuke

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00