• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Bilik Sastra

Kenanga Tinggal Kenangan

25 September
20:21 2017
2 Votes (5)

VOI BILIK SASTRA Aku berangkat ke kotanya sebelum cahaya kemerahan merekah di timur. Dengan pesawat paling awal, diantar hawa dingin dan kabut bulan November yang menusuk tulang. Mungkin dia tak mengira bertahun-tahun setelah menghilangkan jejak, aku akan menemukannya. Tentu saja demi keinginanku membawanya pulang, sebagai pertanggung-jawabanku kepada orang tua Kenanga.

"Nak Ilham, Kenanga minggat!"

"Dia meninggalkan sepucuk surat Nak Ilham!" Masih jelas dalam ingatan bagaimana janda 60 tahun yang tubuh ringkihnya basah kuyub menerjang hujan. Seorang ibu yang mengadopsi Kenanga menangis tersedu di hadapanku dengan secarik kertas di tangannya.
"Ibu terima kasih atas penjagaanmu selama ini, maafkan Kenanga Bu.

Kenanga akan kembali membawa kemenangan."

Kenanga yang tiba-tiba menghilang, dua hari setelah aku membawanya kepada orang tuaku, sebagai calon istri. Kepergian misterius Kenanga, sepucuk surat, ibunya yang tua renta dan sebatang kara, menyisakan tanya di benakku. Bagaimana mungkin Kenanga setega itu?

Aku dan Kenanga tumbuh bersama sebagai teman bermain satu desa hingga benih-benih cinta itu datang ketika mendewasa. Kenanga perempuan sederhana, gandes, luwes, merak ati. Perempuan yang ketika bertemu siapa saja ia selalu senyum, tak ayal Kenanga disukai banyak orang. Kenanga juga seorang guru desa yang dicintai anak didiknya.

Empat puluh delapan purnama sudah aku mencoba mencari jejaknya. Dan kini kudengar kabar Kenanga menjadi perantau di negeri Jacky Chan. Dari kesaksian tetangga desa yang merantau kesana.

Khalayanku terbang bersama angin musim dingin melewati beton-beton pencakar langit di Negeri Bauhinia. Suara-suara pesawat yang hilir mudik membuyarkan lamunanku. Suasana bandara Internasional Hongkong lumayan sibuk ketika kuhempaskan tubuh di kursi ruang tunggu. Entah mengapa perasaan sedih menyeruak dalam hati. Terlalu cengeng, jika lelaki menangis. Namun, aku tak kuasa menahan perasaan itu kini. Di wajahku ada mendung pekat yang mungkin menurunkan hujan air mata. Aku merasa bersalah pada ibu angkat Kenanga.

"Bang Ilham!" Sudut mataku menangkap bayangan perempuan yang muncul di pintu bandara memanggilku.

"Maafkan aku terlambat, Bang!" ungkapnya terengah-engah dan kami kemudian berjabat tangan.

"Aku yang seharusnya meminta maaf Rin," kataku, "Telah merepotkanmu."

Rarina nama perempuan itu, tetangga desaku yang dulu juga sama-sama menjadi guru seperti Kenanga. Rarina juga yang memberitahuku tentang keberadaan Kenanga. Rarina memang telah lama bekerja di Hongkong bahkan lebih dulu dari Kenanga.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, aku dan Rarina kini berada di sebuah warung bergaya Indonesia.

"Bang, kita makan disini saja ya?" tawarnya padaku, "Insyaallah semua menu halal."
"Wilayah inilah yang disebut Causeway Bay," jelasnya, "Kota unik yang merupakan pencerminan pusat perbelanjaan di Hongkong.

Ini memang kali pertama aku menginjakkan kaki di Hongkong. Kalau bukan demi Kenanga, aku tak akan mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk bisa datang ke negeri ini. Dari sekian tahun dilalui, aku sering mendengar cerita tentangnya, melihat letaknya di lembar peta, pun mempelajarinya dalam kekhusyukan yang nyata. 

Aku menatap kagum deretan beton-beton pencakar langit. Bola mataku seanggun pelangi. Warna-warni rasa saat berada tepat di pusat mode Asia. Alamak, begitu megahnya. Yang kudengar negeri ini dirias dengan kerlap-kerlip neon bila malam mendatang. Ah, tak heran sekarang jika banyak tenaga kerja Indonesia betah bertahun-tahun mengais rezeki disini. Hongkong surganya buruh migran aku kira julukan itu memang sesuai. Begitu pun Kenanga, hingga tak pernah berkirim kabar kepada ibunya.

"Bang... Bang... !"

"Bang Ilham melamun?" suara Rarina membuatku terbangun dari lamunan.

"Aku merindukan Kenanga," ungkapku lirih.

"Sabar, Bang," bujuknya, "Tapi Bang Ilham harus berbesar hati setelah mendengar kabar tentang Kenanga ya?"

"Sebagai sahabat aku hanya bisa menyumbang nasihat pada Kenanga, tentang pilihan hidupnya sungguh aku tak boleh ikut campur terlalu dalam, Bang." Penjelasan Rarina penuh iba.

Kurayapkan pandangan ke setiap jengkal sudut yang dipunyai warung ini. Langit hatiku berdesir, "Tolong segera bawa aku menemui Kenanga, Rin?"

"Bang!"

"Kita akan menemui Kenanga ketika langit gelap, Bang."

Aku kaget, "Memangnya apa yang telah terjadi?"

"Status Kenanga tak lagi sama denganku Bang."

"Aku tidak paham Rin!"

"Begini Bang, Kenanga dulu adalah pekerja migran Indonesia, pekerja rumah tangga, di Hongkong. Namun setelah kontrak kerja habis ia tidak pulang ke Indonesia ataupun memperpanjang kontrak hingga berstatus overstayed dan akhirnya bisa tinggal di Hongkong dengan berbekal recognized paper alias menjadi warga paperan. Menurut Konsul Kejaksaan Konsulat Jenderal Republik Indonesia Hongkong, seseorang yang mengajukan recognized paper berarti minta perlindungan ke pemerintah Hongkong, meminta suaka, karena tidak lagi ingin kembali ke tanah airnya. Dalam konteks Kenanga itu bermakna, ia sudah tidak mau lagi alias menolak kembali ke Indonesia. Kenanga beralasan takut, karena jiwa dan nyawanya terancam jika pulang kampung. Alasan itu disampaikan, agar suaka dan permohonan perlindungannya dikabulkan. Demi menjunjung hak asasi manusia, pemerintah Hongkong mengabulkan dan memberikannya recognized paper."

"Orang paperan tidak dibolehkan bekerja di Hongkong. Selama menunggu ada negara lain yang bersedia menerimanya sebagai warga negara, tentu saja bukan Indonesia yang sudah dia tolak. Pemerintah Hongkong memberikannya subsidi rutin berupa uang HK$1,500 untuk sewa rumah, plus bahan makanan pokok. Tentu saja jumlah sebesar itu tidak cukup untuk bertahan hidup di negeri dimana konsumerisme dibangga-banggakan."

"Oleh itu Kenanga layaknya bermain petak umpet dengan petugas imigrasi, bekerja secara sembunyi-sembunyi mendapatkan penghasilan tambahan. Kenanga bekerja di klub malam Bang," panjang cerita Rarina.

"Apa?" aku terduduk lemas, seolah tak kurasakan aliran darah di tubuhku mendengar cerita Rarina. Aku tidak percaya. Kenangaku mana mungkin seberani itu.

Hidup ini terasa begitu paradoks bagiku. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkan dan dicita-citakan harus kulalui. Menyatu dalam ruang takdir Allah SWT yang tidak satu makhluk pun sanggup mengubahnya. Aku mengerti hal itu. Tapi, aku merasa lemah untuk menerima semua kenyataan ini. Ingin rasanya bisa terbang tinggi, seperti elang yang pernah kuabadikan lewat kamera. Ingin rasanya aku keluar dari peredaran bumi, merengkuh bintang gemintang yang bercahaya di langit kelam. Melepaskan segala keterikatan dunia.

***

Astaghfirullah hal adzim. Dari ruangan yang bersuasana gelap yang hanya bermodalkan lampu sorot yang berputar putar, lampu ambience yang menempel di dinding dan diiringi alunan musik yang dibawakan oleh disc jockey melalui sistem PA sehingga pengunjung manggut-manggut mengikuti iramanya. Aroma minuman diuretik menyeruak di dalam ruangan. Asap rokok membumbung dari bibir-bibir pengunjung. Terlihat beberapa lelaki dempal berkaos ketat hitam.

"Bang Ilham, meja paling ujung itu Kenanga!" Rarina bersuara sambil menunjuk ke arah perempuan yang duduk di sudut ruangan.

"Aku tunggu di luar Bang."

Getar di dadaku sedikit berbeda. Entah, terharu, gembira, rasa yang bergemuruh membuatku berkeringat. Perlahan aku mendekati Kenanga. Kuamati dari jauh, kemudian jengkal demi jengkal semakin jelas bagaimana wujud Kenanga saat ini. Oh, tidak! Ada apa dengan Kenanga? Aku rasa dia bukan Kenanga. Tapi, tahi lalat di hidung perempuan itu seperti milik Kenanga.

Perempuan itu berbusana menyerupai laki-laki. Kemeja denim yang dilipat ke atas sehingga terlihat lukisan tato di kedua lengannya. Rambutnya merah fanta dengan gaya punk. Sesekali menghisap rokok yang dijepit jari tangannya yang lentik itu. Sesekali menenggak Carl's berg beer. Aku mempercepat langkah, kutarik tarik tangan perempuan itu. Dia terkejut. Tenaganya kuat sekali ketika menolakku, hingga menyenggol kaleng beer di hadapannya, dan tumpah. Aku terus menariknya keluar klub. Aku seperti dirasuki sesuatu, aku kalap, aku tidak terima Kenanga menjadi seperti ini.

"Hey...!" Kenanga meronta, "Stupid!"

"Who is you?"

Aku ingat betul suara yang keluar dari bibirnya, itu suara Kenanga. Ya, aku tidak salah, wanita yang kutarik tangannya ini adalah Kenanga.

Kini telah berada di parkiran klub. Kulepaskan tangannya. Ia tampak marah sekali. Kami berpandangan dalam sejengkal jarak untuk beberapa menit, membisu tanpa kata, bahkan nafas kami yang tadinya terengah-engah pun seolah tak terdengar. Aku dan Kenanga seperti sepasang kekasih melepas kerinduan yang telah dipisah jarak dan waktu.

"Kenanga ayo pulang bersamaku?" rayuku, "Ibu sangat merindukanmu."

"Kau sebut siapa?" Kenanga geram, "Aku Ken, bukan Kenanga!"

Urat-urat di lehernya menyembul keluar, "Namaku KE-NE-DY!" Kenanga mengeja nama mencoba menegaskan.

"Kenanga sudah mati!"

"Mati sejak dia ditegaskan agar menjauhi pria berdarah ningrat bernama Ilham. Kenanga anak yang dipungut di jalanan oleh seorang janda. Kenanga gadis yang tidak jelas asal usulnya haram mendekati Ilham."

"Sekali lagi kutegaskan aku bukan Kenanga!" cecarnya.

"Kenanga? Apa kau bilang?" Aku mulai memahami apa yang Kenanga cecarkan.

"Sudah pergilah!" usirnya kepadaku, "Kenanga tinggal kenangan."

Kenanga beringsut meninggalkanku dan masuk ke dalam klub tergesa-gesa. Aku berusaha mengejarnya. Namun di ujung pintu seorang pria mabuk menghalang-halangi Kenanga. Pria itu memegang botol beer dan memukulkannya ke kepala Kenanga.

"Kenanga!" jeritku.

Aku melihat tubuh Kenanga tersungkur ke lantai dengan cairan merah mengalir di kepala dan hidungnya.

 Hongkong, 14 Mei 2017

 Cerpen ditulis oleh pemilik nama asli Nila Noviana dengan nama akun facebook sekaligus nama pena Kaka Clearny. Dara Blitar kelahiran 1986 saat ini aktif sebagai pekerja migran di Hongkong. Pernah menjuarai lomba Festival Sastra Migran FLP Hongkong. Buku kumpulan cerpen pertamanya berjudul pasungan wulandari. Alamat email yang masih aktif nila00123@gmail.com. Terima kasih. (Cerpen Nila Noviana)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00