• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Pesona Indonesia

Tradisi Mencak Sumping

7 September
14:37 2017
0 Votes (0)

VOI PESONA INDONESIA Berjumpa lagi dalam Pesona Indonesia. Hari ini kami akan memeperkenalkan anda Tradisi Mencak Sumping. Jadi tetaplah bersama kami di RRI World Service Voice of Indonesia. Selain melalui gelombang pendek, anda juga dapat mendengarkan siaran kami melalui www.voi.co.id.

pada peringatan Idul Adha kemarin, sekitar 50-an perguruan silat hadir di Dusun Mondoluko, Desa Tamansari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, untuk memeriahkan tradisi Mencak Sumping. Baik pesilat tua, muda maupun anak-anak datang untuk memeragakan silat mereka. Mereka memeragakan silat dengan tangan kosong ataupun dengan senjata seperti tombak, pedang, dan clurit. Tradisi Mencak Sumping digelar  untuk membersihkan desa dari marabahaya. Pada tradisi itu, seluruh jawara silat dari wilayah Kabupaten Banyuwangi berkumpul untuk menampilkan jurus silat di hadapan masyarakat dan tamu undangan yang datang. Mencak (pencak) dalam bahasa lokal berarti kemampuan bela diri.

Tradisi Mencak sumping selalu digelar saat hari raya Idul Adha. Pagi harinya masyarakat menjalankan sholat Ied terlebih dahulu, kemudian menyembelih hewan kurban. Siang hari, setelah sholat dzuhur dan tamu mulai berdatangan, Mencak Sumping digelar hingga larut malam. Saat para kaum lelaki sedang menyembelih hewan kurban, para wanita sibuk memasak sumping. Sumping adalah kue tradisional yang terbuat dari pisang dan adonan tepung, kemudian dibungkus dengan daun pisang. Mereka memasak sumping dengan tungku tradisional menggunakan kayu bakar.

                                             Tradisi Mencak Sumping dimulai, saat atraksi  silat mulai diperagakan. Satu-persatu para pendekar dari puluhan perguruan mulai unjuk diri. Awalnya mereka hanya bermain tangan kosong sembari menunjukkan jurus-jurus ringan. Setelah itu mulai muncul satu dua pendekar yang menggunakan ragam senjata tajam. Mulai dari celurit, pedang,  tongkat hingga belati. Tak hanya itu, beberapa perguruan bahkan menampilkan atraksi beradu. Dua orang pendekar saling bertarung, adu jurus dan kekuatan. Uniknya, jika ada pendekar yang menang, ia akan "menyumpal" mulut lawannya yang kalah dengan sumping. Adegan ini sering memancing gelak tawa para penonton tradisi ini.

pada umumnya warga Dusun Mondoluko punya kemampuan bela diri. Kemampuan ini diwariskan turun- temurun dari nenek moyang mereka. Dahulu mereka diwajibkan untuk belajar bela diri, agar mereka dapat melindungi diri sendiri dari kekejaman penjajah VOC Belanda. Sedang Tradisi Mencak hadir saat terjadi pagebluk atau wabah penyakit  di Dusun Mondoluko yang menyebabkan banyak warga meninggal dunia secara mendadak. Mereka pun kemudian menggelar acara bersih desa dengan memberikan sesaji di tiap simpang jalan desa dan mengkumandangkan adzan serta shalawat. Mereka juga menggelar selamatan di dua makam sesepuh desa yaitu Buyut Jarat dan Buyut Surat. Setelah prosesi itu dilakukan, sedikit demi sedikit pagebluk hilang. Karena Dusun Mondoluko tidak memiliki kesenian, akhirnya mereka menggelar mencak silat diiringi dengan musik-musik tabuhan dengan mengundang jawara silat daerah lain sebagai wujud syukur karena pagebluk hilang. Untuk suguhan kepada tamu yang datang, masyarakat setempat  membuat sumping.

demikianlah edisi Pesona Indonesia kali ini, dengan topik  Tradisi Mencak Sumping. Kita akan berjumpa kembali esok dengan topik-topik menarik lainnya.// Dora

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00