• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Bilik Sastra

Rumah

31 August
11:20 2017
5 Votes (4.2)

VOI BILIK SASTRA Angin musim gugur menguarkan hawa dingin, meniup deretan lampion yang menyala-nyala saat senja tiba di kota tua ini. Seperti empat kali musim gugur yang telah berlalu, aku berada di sebuah ruangan bercat putih dengan bau karbol yang sangat menyengat.Ruangan itu dipenuhi enam wanita tua yang tergolek di atas ranjang tanpa sekat, kecuali secarik kelambu berwana hijau pekat.

Selama empat tahun berada di ruangan itu, aku telah bersahabat dengan kelengangan ruang dan waktu.Kelengangan yang membuatku berpikir tentang banyak hal.Wanita-wanita tua yang meringkuk tenang di sekelilingku itu, tidakkah mereka memiliki kerabat dekat, keluarga, atau mungkin seorang anak yang bisa menjenguknya?

Aku tak pernah tahu jawabannya, karena setiap kali melihat keriput yang tertanam di wajah mereka, aku hanya menemukan sepucuk kesepian.Kesepian yang tak pernah bersuara.

Kesepian itu pula yang bersarang di wajah seorang wanita.Wanita berusia delapan puluh dua tahun yang terbaring lemah di depanku.Setiap kali tanganku sibuk memijit kakinya yang tinggal tulang, ia akan mendengkur dengan nafas yang teratur. Tak peduli siang atau malam, setelah tertidur nyenyakwanita itu akan membuka mata dengan satu pertanyaan yang sama.

“Apakahdiaakan datang?” tanya Amma padaku.

Aku mengangguk seraya menghela nafas panjang. Sepanjang hari, Amma telah melontarkan pertanyaan itu lebih dari delapan kali.
Ya, Amma telah lupa. Amma akan selalu lupa. Dan untuk seterusnya, penyakit Alzheimer itu akan membuatnya lupa tentang segala hal. Kecuali satu pertanyaan yang telah lama bersarang di batang otaknya, ‘Apakahdia akan datang?

***

Sembilan tahun yang lalu setelah ulang tahunku yang ke dua puluh satu, pada awal musim semi aku mulai menapakkan kaki di negeri Jackie Chan ini. Sangat berbeda dengan negara asalku, di sini kota-kota tua seolah menolak untuk mati.Tanah-tanah tandus ditanami semen dan besi, menjadi gedung-gedung menjulang tinggi yang tertata rapi.Di kanan kiri, jalanan yang dulunya lengang kini semakin bising penuh polusi.

Tak begitu jauh dari pusat kota Fo Tan, aku tinggal bersama seorang lansia yang kupanggil ‘Amma’. Kami menempati sebuah flat sederhana, yang sengaja dibangunpemerintah khusus untuk hunian para lansia.

“Sebenarnya, aku tidak suka tinggal di tempat ini.Aku lebih suka tinggal bersama anakku, tapi itu tidak mungkin.” keluh Amma suatu pagi.

“Kenapa tidak mungkin?”

“Kamu tahu, orang muda tidak suka bau pesing dan kotor.Itulah sebabnya,anakku mencarikan rumah murah ini untukku, dan mengambilmu dari Indonesia untuk merawatku.”

Semenjak saat itu, aku selalu menghindari percakapan yang berkaitan dengananak Amma.

Musim telah berganti.Mid-autumn festivalpun dimulai. Malam itu, seluruh kota menyalakan lampion sebelum senja menjatuhkan tirainya. Nada-nada menggema di setiap sudut kota, disambut denganberagam tarian klasik di bawah bulan purnama. Lentera-lentera mungil membumbung ke angkasa, sebagai ungkapan syukur dan suka cita yang diharapkan dapat menyentuh dinding langit dan istana-Nya.

Malamfestival pertengahan musim gugur tahun itu, Alzheimer belum menggerogoti ingatan Amma.Seperti halnya lansia seumurannya, Ammamengharapkan kepulangan anaknya untuk membangkitkan kembali kenangan lama.

Tepat pukul tujuh, sesuai permintaan Amma aku telahmenghidangkan steam ikan pari, daging babi asap, dan beragam masakan lainnya. Tak ketinggalan,Amma juga menyiapkan satu kotak kue bulan berwarna ungu di atas meja makan.

Yuet peng atau kue bulan ini merupakan hidangan spesial yang biasa disajikan saat festival pertengahan musim gugur tiba.Kue ini terbuat dari biji teratai, itulah sebabnya harga kue ini sangat mahal.Anakku sangat menyukai kue bulan ini, karena rasanya sangat lezat.Lina, kamu belum pernah mencicipi kue ini, bukan?Jangan khawatir, nanti kita makan kue ini bersama-sama.”

Hingga jarum pendek padajam dinding berada tepat di angka sembilan, ruang makan itu masih sepi. Hanya ada aku dan Amma seperti malam-malam sebelumnya.Bel rumah tak kunjung berdering, sementara asapmakanan di atas meja mulai mengalah pada hawa dingin.

“Teleponlah dia.” lirihnya.

Raut keriput itu tak mampumenyembunyikan kegelisahan yang membuat batinnya kalut.Ia menatapku erat-erat, seolah memohon agar aku segera beranjak.

Aku pun bangkit menuju meja kecil di pojok ruangan.Dengan tangan sedikit gemetar,gagang telepon mulaikutempelkan ke telinga.Aku menekan beberapa tombol, hingga akhirnya telepon tersambung. Beberapa detik kemudian, suara renyah seorang wanitadi ujung sana mengikis rasa gugup yang kupendam dalam-dalam.

“Hai, apa kabar, Lina?Apakah Amma yang menyuruhmu meneleponku?”

“Iya, Nyonya. Jadi begini, Amma…”

Belum sempat aku melanjutkan kata-kata, wanita itu dengan cepat memotongnya,

“Katakan padanya, malam ini aku tidak bisa datang untuk makan malam. Lagi pula, sekarang sudah ada kamu yang merawat Amma, jadi aku tidak perlu datang ke Fo Tan jika tidak ada hal yang teramat penting. Aku percayakan Amma padamu.Bye…”

Telepon dimatikan, dan tak lagi ada harapan.Anak Amma benar-benar tidak akan datang. Aku pun terpaku ditempat, dengan gagang telepon yang masih berada di genggaman.

Sejenak, aku melirik ke arah Amma. Wanita itu duduktegap bersama penantiannyadi depan meja makan.Seperti yang pernah ia katakan. Ia benar-benar membiarkan penantiannya berjalan seperti air pada bengawan, tanpa harus ada rasa khawatir kapan samudera akan membuatnya bermuara.

Hingga lima tahun semenjak malam itu berlalu, setiap kali festival pertengahan musim gugur tibaAmmakembali mengumpulkan sisa-sisa harapannya. Harapan sederhana bahwa suatu malam saat seribu lampion menyala,anak perempuannya akan datang dan menyantap kue bulan bersamanya.

“Apakah dia akan datang?” tanya Amma padaku, pada musim gugur terakhir sebelum Alzheimer menyerangnya.

Aku menggelengsambil meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya.

“Kira-kira, kapan dia akan datang?” tanyanya kemudian.

Aku tak menjawab.Aku tidak tahu. Mungkin dia tidak akan pernah datang, pikirku.

“Ah, mungkin bulan depan anakku akan datang, saat ia memberimu gaji.”

Aku mengangguk untuk menyenangkan hatinya.Namun aku dan Amma sama-sama tahu, setiap bulan gajiku dikirim ke rekening pribadiku, sehingga tidak ada harapan bahwa anaknyaakan datang ke rumah hanya untuk menyerahkan upahku.

Semakin lama mengenal Amma, aku semakin mengaguminya.Setiap kali harapannya patah, Amma selalu menumbuhkan kembali sisa-sisa harapan itu dengan rasa cinta seorang ibu yang tak akanlekang. Ia bilang, masih ada musim gugur berikutnya yang akan ia singgahi untuk melanjutkan rindu dan penantiannya.

Waktu itu, aku belum cukup dewasa untuk memahami perasaan Amma. Namunsejak pertama aku mengenalnya, setiap kali harapannya patah Amma akan memetik dawai-dawai guzheng di ruang tengah. Dan ketika nada-nada sendu itu sampai di telingaku, aku akan mendeskripsikan perasaan Amma melalui imajinasiku.

Kala guzheng berdenting,rintihannya menyayat pilar-pilar hati.Kian lama aku punhanyut dalamjeritan-jeritan sayup.Di suatu tempat yang hanya bisa imajiku singgahi, aku menemukan seonggok kenyataan pahit, yang tak teraba oleh kedua bola mataku ini.

Dentingan itu menceritakan sepotong rindu. Rindu yang bernasib sama seperti helai-helai dedaunan di musim gugur. Saat angin menderu, melaju kencang dan mengoyak dedaunan itu, maka helai demi helai dedaunan akan jatuh terhempas. Namun diantara helai yang terjatuh itu, masih ada ratusan helai dedaunan yang terus bertahan, dan menautkan raganya pada ranting-ranting penantian. Seperti itulah aku mengartikan nada-nada sendu, tentang sepotong rindu yang takkan pernah habis dan akan terus tumbuh.

Dan pada sepotong rindu yang ia simpan itu, kurasa Amma sepenuhnya sadar bahwa anak semata wayangnya telah melupakan jalan pulang menuju ke rumah. Rumah, tempatnya bersemayam selama sembilan bulan. Sebelum iamengenal pesta dansa dan hingar-bingar mayapada.

***

“Gu… Gu…” jemari tua itu menarik-narik lenganku.

“Apa, Amma?” tanyaku seraya mengusap dua butir keringat yang menyembul dari keningnya.

“Zheng…” sambungnya pelan.

“Guzheng?!” pekikku.“Amma ingin bermain guzheng?” aku kembali menanyainya.

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang Amma ucapkan.Selama empat tahun Ammatelah melupakan guzheng, alat musik serupa kecapi yang menemaninya sejak Amma masih belia.

Ting…

Nada yang telah lama tenggelam kini muncul kembali.Dentingannya menggetarkan sunyi ruangan, membangunkan raga-raga yang mendambakan mati.

‘Ting… Tinggg…’

Sepuluh menitakhirnya berlalu.Amma berhenti memetik dawai guzheng itu.Mata tuanya menatapku hangat.Aku pun melihat seulassenyum pada bibirnya yang pucat.Senyum sederhana yang sejak lama kurindukan.

Dalam diam, batinku melafalkan sejuta doa. Saat melihat Amma duduk di tepian ranjang dan memainkan guzheng tuanya, aku mencoba meyakini bahwa ingatan Amma akan pulih kembali. Tak peduli, entah sampai kapan, aku berharap Ammaakan terus memainkan dawai-dawai guzhengnya.

Aku ingin Amma tetap bertahan pada rindu dan penantiannya. Mungkin esok, mungkin lusa, mungkin saja, anak Amma akan datang dan mengecup kening Amma, seperti yang Amma lakukan saat anaknya masih balita.

Mata cekung Amma tak berhenti menatapku.Bibir pucatnya mulai bergerak pelan.Kalimat yang keluar dari mulutnya, seperti kidung tua yang tak bisa kucerna.Ia lantas menarik lenganku. Tubuhnya tiba-tiba mengejang hebat.Tangannya mencengkeramkuat.

Tak lama kemudian tubuh wanita tua itu ambruk di atas ranjang.Aku ingin teriak, tapi tak sampai.Suaraku tercekat di kerongkongan. Terus-menerus, aku goyang-goyangkan tubuh renta itu.Air mataku mulai mengucur, namun untuk memanggil namanya saja aku tak mampu.

Tak peduli, seberapa parah lagi Amma akan lupa, tak peduli seberapa sering lagi Amma akan bertanya, aku hanya ingin keajaiban yang lain segera datang. Biarkan wanita tua itu tetap di sini, biarkan guzheng tua itu terus berdenting. Oh Tuhan, biarkan angin musim gugur membawa kebahagiaan untuknya, sekali lagi…

***

Hari berganti.Dan aku melihatribuanAmma terbalut ragayang berbeda.

Di antara gedung apartemen yang berjajar-jajar, aku menjumpai Amma, iasedang mendorong gerobak sampah,langkahnya limbung dengan nafas terengah.Di depan pasar tradisional, Amma bertubuh bungkuk sedang mengumpulkan karton-karton bekas, untuk ia tukar dengan semangkuk nasi sebagai menu makan malam.Di bawah jembatan, aku melihat tangan lusuh Amma yang gemetaran sedang membuka nasi bungkus murahan, tanpa segelas air putih di depannya.Di samping terminal bus, aku menemukan Amma yang lain, jalannya terseok,mengais-ngais tempat sampah untuk mengumpulkan botol-botol bekas.

Merekaadalah wujud lain dari Amma, yang telah sembilan tahun aku kenal.Pada raga mereka tertanam sebuah rahim. Rahim tua yang kebanyakan orang menganggapnyasama seperti rumah renta. Dan rumah-rumah renta itu, seharusnya tidak dilupakan begitu saja oleh para penghuninya.

Hong Kong, 10 Agustus 2017.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00