• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Bilik Sastra

Surat Untuk Fatimah

30 August
11:11 2017
4 Votes (4.3)

Oleh: Rosidah binti Musa

VOI BILIK SASTRA Minggu yang panas, dia berdiri tepat di depan toko seveneleven sepatu hak tinggi lima senti menjulang tubuhnya yang mungil. Gerak-geriknya yang tak sabaran karena setiap orang lewat pasti memandangnya sinis, bagaimana tidak. Pakaian yang ia kenakan seperti baju yang kurang bahan, namun sepertinya dia tak peduli dengan pandangan orang yang lewat di depannya.

“Sorry I’m late,” seruh seorang lelaki yang jangkung nan gagah.

Wanita itu memalingkan wajahnya lalu berjalan mendahului lelaki bule yang mengejutkannya tadi. Wajahnya sedikit masam dan menampik tangan lelaki itu, yang mencoba untuk menggandengnya. Dia tetap mengatupkan bibir, tak ada sedikitpun kata-kata yang terlontar. Langkahnya semakin cepat tak peduli ia menabrak mbak-mbak yang berlalu-lalang.

“Aku sudah minta maaf padamu, ok ….”

Langkahnya terhenti tepat di depan Hotel Regal, namun ia hanya memandang lelaki itu dan menghela napas karena orang disekitarnya memandang dengan raut wajah yang penasaran. Akhirnya ia menggandeng lengan lelaki itu, dan menghentikan taksi.

Jhon merasa gembira karena kekasihnya kembali seperti semula, dia sadar dengan kesalahannya telah terlambat dan membuat wanita itu menunggu berjam-jam kepanasan. Namun seketika Nuri kembali murung, ia melepaskan tangannya dari Jhon. Ia pun kebingungan dengan tingkah Nuri, tapi dia  tak berani untuk menegur wanita yang ada disamping.

Taksi pun laju menulusuri jalanan yang lenggang menuju sebuah diskotik yang ada di daerah Wanchai, bagi Nuri kesenangan datang dari tempat yang bising padahal jika ia melangkah beberapa menit samapailah di Masjid Ammar. Dia mendahuli Jhon yang tengah membayar taksi, dari jauh ia sudah disambut oleh sahabatnya Mira, yang sama satu angkatan waktu di PT.

Namun seketika ia terperanjat Nuri menampar Mira, Jhon melihat itu langsung berlari dan menyeret tangan Nuri yang masih terangkat ingin menampar sahabatnya lagi. Tapi sanyangnya ia ditahan oleh Jhon dan pergi dari tempat itu, hatinya masih membara melihat kekasihnya menahan dirinya. Nuri melepaskan genggaman tangan Jhon dan menghampiri  Mira yang masih berdiri diambang pintu diskotik.

“Ada hubungan apa kamu dengan dia?” tunjuk Nuri kearah Jhon yang terheran-heran, wajahnya begitu ketakutan dan gugup.

“Maksud kamu apa sih, Ri ….” Dia masih memegang pipinya yang meraah, dan Mira pun bringsut ke dalam namun sayangnya tangan Nuri lebih cekatan dia menarik sahabatnya ke luar dari tempat itu.

“Aku belum selesai bicara, dan ini apa?” Sebuah foto mesra Mira dan Jhon yang tengah bercumbu, seketika membuat dia tersentak kaget bagaimana bisa sahabatnya memiliki foto perselingkuhannya.

Jhon di belakang kebingungan dan pada akhirnya dia mengatakan yang sebenarnya, sungguh Nuri tak percaya dengan kata-kata kekasihnya. Tidak mungkin dia mengkhianati dirinya, padahal semua telah ia berikan pada lelaki bule itu. Bahkan harta berharganya telah dia serakan, saat itu juga Jhon memutuskan hubungannya dan memeluk Mira masuk dalam diskotik.

Tangannya ingin merai tubuh Jhon namun sayang tak sampai, dia sudah berlenggang bahagia dengan sahabatnya. Nuri tak paham mengapa sahabatnya begitu tega berbuat seperti itu, padahal dia sudah menganggapnya saudara sendiri.

Langit tiba-tiba mendung, rintik hujan pun kini membasahi bumi Hong kong. Dia berjalan seperti tak ada tujuan, tangannya bergetar membelai perutnya yang kini membuncit. Matanya tertujuh pada segerombolan wanita berhijab mereka tertawa riang seperti tak ada beban,sungguh malu ketika ia melihat teman-teman sesama perantauan yang begitu tekun dan mampu istiqamah di jalan-Nya.

Tak ada manusia yang sempurna di dunia ini, Nuri tahu ini semua adalah kesalahannya. Dia tak bisa menyalakan siapa pun, bahkan sudah menjadi pilihannya, dulu. Tapi sekarang dia menyadari apa yang dilakukannya adalah sebuah kesia-siaan saja, hujan semakin deras membasahi tubuhnya yang kurus kering. Diseberang jalan terlihat ada toko obat, langkahnya perlahan mendekati toko itu dengan tubuh basa kuyup ia menyapa penjaga toko. Namun seketika Nuri terdiam entah obat apa yang akan dia beli, dia teringat ucapan sang ibu di kampung halaman.

“Anak adalah anugrah dari Allah yang dititipkan untuk kita jaga dan untuk kita didik.” Itu pesan yang teringat olehnya, Nuri pun keluar dari tempat itu dan berlari menghampir hampir menabrak seorang ibu setengah baya yang tengah berjalan menujuh Masjid Amar.

“Maaf ….” Suaranya sedikit canggung dan takut. Namun ia mencoba memberanikan diri mengucapkan salam dan wanita di depannya pun membalas salamnya dengan lembut.

“Kamu basa kuyup, Nak. Sinilah masuk, kita berpayung bersama ….”

Nuri tersentak dengan prilaku wanita setengah baya itu, ia sangat beda dengan temaan seperantauan lain yang memandangnya sinis. Ada bulir bening yang hangat menggenang dipelupuk mata, hatinya bergetar ketika mendengar adzan asar dari masjid. Sang ibu pun berhenti dipersimpangaan jalan atara Masjid Amar dan hotel.

“Tanganmu dingin sekali, Nak. Apakah kau tak membawa baju ganti?”

Dengan gugup ia pun menjawab sang ibu disebelahnya,”Aku tak membawa, Bu,” lirihnya, tertunduk malu.”Apakah aku boleh masuk ke masjid itu, Bu?”

Sang ibu  melihat seksam gadis yang ada disebelahnya, seketika ia membuka tas ransel dan mengeluarkan gamis hitam dan merengkuh tangan Nuri untuk mengambil gamis itu. Ia begitu tersentak, antara ingin menerimanya dan tidak, namun tak mungkin jika ia masuk tempat ibadah memakai pakaian seksi yang dikenakannya sekarang. Sang ibu pun membimbing untuk mencari toilet yang tak jauh dari masjid, dia pun menunggu Nuri berganti pakaian.

“Masya Allah, cantiknya kamu, Nak.”

Nuri tersipu malu, ia memegangi perutnya yang sedikit buncit, dan menutupinya dengan tas. Namun sepertinya sang ibu lebih paham dan seraya mengelus pundaknya.”Dapat berapa bulan, Nak?”

Dia  ragu untuk menjawab pertanyaan sang ibu, napasnya seakan tersekat begitu saja. Ada jeda yang panjang, Nuri masih mengatupkan bibirnya.”Tak perlu malu, Nak. Setiap orang pasti mempunyai kesalahan, dan anak yang tengah kamu kandung itu adalah sebuah titipan yang harus dijaga, meskipun hasil dari kelalaian kita. Jangan pernah berpikir untuk membunuh darah daging sendiri, dosa Nak ….”

*****

Kini kandungannya semakin membesar, dia berkilah kepada sang majikan tentang kehamilannya dan ia pun percaya dengan alasan Nuri. Dia telah berubah tak seperti dahulu, bahkan ia sudah mengikhlasankan semuanya, namun rasa sakit itu kembali ketika ia menerima surat udangan dari sahabatnya, Mira. Betapa hancurnya perasaan wanita muda itu, menanggu pedihnya cabaran hidup. Tapi itu sudah menjadi pilihannya dulu, dia tak bisa mengutuk siapa pun selain bersyukur dan melanjutkan hidup kembali di jalan-Nya.

Dengan air mata yang berderai sepucuk surat kecil ia tuliskan untuk sang malaikat kecil yang kelak terlahir di dunia, dia tidak menghapus Jhon dari kehidupannya, bahkan ia tulis nama itu dalam bait yang tertulis rapi. Nak, kuharap kelak jika kau terlahir ke dunia. Kau tak pernah membenciku atau merasa hina, karena kau anak yang tak berdosa dan jika kelak nanti teman-temanmu menanyakan keberadaan ayahmu katakanlah, bahwa ayahmu tengah berusaha untuk mencukupi hidup kita. Kuharap kau tak pernah malu atau pun kesal padaku, Nak. Sungguh ibu sangat bersyukur dengan kehadiranmu menemani kehidupan ibu. Ibu sayang padamu, anakku.

Itulah selarit surat kecil untuk sang buah hati, ia sangat bangga pada dirinya meskipun tanpa Jhon, Nuri bisa menjalani semuanya dengan baik. Sekarang hanya buah hatinya yang kelak akan menjadi tumpuan hidupnya, dan dia tak pernah berpikir akankah ada seseorang yang ingin mendapingi hidupnya—menerima apa adanya Nuri.

*****

Gadis berhijab mungil itu tersenduh menutup surat usang dan mengembalikan kepada umminya yang sedari tadi memperhatikan setiap lekukkan wajahnya. Fatimah, tidak menyangkah ternyata selama ini wanita yang ada di sampingnya ternyata bukanlah ibu kandungnya, ia benar-benar tidak mengerti.

“Apakah ini semua nyata, Ummi?” tanyanya lembut,”Ummi tidak bohong pada Fatimah ‘kan. Mi?”

Wanita tua itu menggelengkan kepala, ia memalingkan wajahnya. Dia tidak mau Fatimah melihatnya menangis, begitu besar perjuangan Nuri untuk melahirkan Fatimah. Ia tak sanggup mengenang bagaimana ketika ia menitipkan surat kecil itu padanya, wanita muda itu pergi ketika dia melahirkan si cantik Fatimah dan kini bayi iyu telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa, lekuk wajahnya yang begitu mirip dengan Nuri dan matanya yang kecoklataan emas seperti Jhon. Sungguh, Fatimah adalah wanita cantik nan shalehah ia hidup bersama Ummi Maysaroh seorang wanita yang telah menikah dengan penduduk Hong kong dan ia pun sudah membimbing ibunya hijrah.

Fatimah memeluk Ummi Maysaroh yang tengah tersenduh, ia tahu tak sanggup rasanya memberi tahu wanita muda di hadapannya. Namun dia tak boleh egois, dan Fatimah wajib tahu siapa ibu dan ayahnya. Setelah semuanya diceritakan, Fatimah pun tekad pergi ke Cilacap untuk mencari keberadaan keluarga ibunya. Hanya berbekal surat kecil yang usang dan foto sang ibunda tercinta, membawanya terbang ke Indonesia.

“Ibu, Fatimah sayang ibu ….” 

Ma on shan 21 Desember 2016

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00