• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Bilik Sastra

Mutiara dalam Gubuk

29 August
11:34 2017
0 Votes (0)

VOI BILIK SASTRA Dia laksana mutiara dalam laut yang berkilau indah, yang pancarannya bisa di nikmati para nelayan yang sedang asyik dengan kail dan jala ikan mereka. Ya, dia istri tercintaku, Aminatul Romlah. Demi pendidikan anak-anak kami ia rela berpacu dengan waktu di Negeri aktor kawakan Chow Yuen Fat, aku hanya bisa pasrah atas keputusannya merantau ke luar Negeri dengan alasan merubah perekonomian keluarga yang pas-pas an, apalagi dibarengi dengan isu krisis global dunia. Makin pas saja keadaanya, jadi ia pun tak butuh banyak argumentasi menyela keberatanku. Yang makin berat, saat ditinggal sendirian di rumah. Meski ada anak-anak dan ibu-bapak mertua, rindu pada Ami itu tiada bisa digantikan oleh apa pun. Wajar dan lumrah lah bila seorang pria dewasa merindukan buaian sang pujaan? Isteri lagi. Aku berharap agar selalu di kasih iman yang kuat oleh-Nya, biar terhindar dari hal yang mendekatinya saja berdosa. Selingkuh. 

“ Bang, satu bulan lagi potonganku habis. Bulan depan aku bisa kirim lebih banyak lagi ..” Suaranya kalem dan mantap di seberang sana. Meski HP butut pinjaman yang penting bisa dipakai komunikasi dengan Ami, istri terkasih. Ia berjanji bulan depan kirim uang untuk beli HP dan baju seragam buat Si Bungsu yang sebentar lagi masuk SMP. Betapa girang anakku ini dengan berita yang akan ayahnya sampaikan nanti selepas ia mengaji. Aku saja berdebar-debar, binar do’a tersirat untukmu, Dik. Moga dirimu baik-baik saja, majikanmu juga baik selamanya. Amin..

“ Bang, bang, bang…?! Teriakannya membuyarkan lamunan sesaatku.

“ Abang ini gimana sih.. Diajak ngobrol kok malah bengong..” Tanyanya yang membuatku tergeragap. Entah, bisa-bisanya aku melamun tidak pada tempatnya. Memalukan saja.

“ I, iy,iya… Dik, Abang dengar. Sampeyan di situ hati-hati ya? Jangan banyak-banyak mikirin kampung, alhamdulillah...disini baik-baik saja” Jawabku di antara deru haru dan rindu, bahagia sekali.

“ Itu dulu dech, Bang. Ami buru-buru nih, nanti pas mau kirim uang saja ku telepon lagi. Jaga diri Abang baik-baik, rawat anak-anak dan ayah-ibu dengan cinta….” Klik.. Tut. tut..tut… Sambungan terputus, tanpa salam juga tanpa kecupan dariku. Itu pertanda kerjanya benar-benar penting dan darurat. Tapi ia selalu punya cara menghadapinya. Bila disanding dengan Cut Nyak Din, dialah penerusnya di era SBY Berboedi ini.

                Dalam pekat malam bertabur bintang hati ini kembali terasa basah, benar-benar rindu akan kehadirannya disisiku, bermanja berbalut angan tentang masa depan. Hingga hadir dalam tekad untuk mengelola uang amanah istri, biar dia segera pulang mendampingiku juga anak-anak yang tiap hari selalu menanyakan keberadaanya. Namanya juga anak-anak, meski sudah sering berbincang dengan ibunya lewat telepon tetap saja masih mencari wujud ayu bunda terbaiknya. Sama sepertiku, suaranya tidak akan mampu melawan gelora rindu yang membara dalam dada. Pelampiasanku hanya pada guling usang, ia hanya diam waktu aku perlakukan selaksa tubuh yang bernyawa. Andai ia bisa bicara, mungkin gamparan mautnya sudah kurasakan saat ini.

Sabar, sabar…”  Lirih suara hati ini mengingatkan tindakkan tololku. Segera saja kuguyur wajah ini dengan air wudhu, menghadap-Nya adalah sarana andalan di kala jiwa dan raga di tempa nestapa duniawi. Siapa lagi pengontrol handal kalau bukan Tuhan Yang Esa? Jauh dari isteri adalah cobaan terberat, dimana tiap hari selalu terlihat pasangan muda-mudi bergandeng mesra, pasangan suami-isteri bebas bermain cinta, dan kakek-nenek saling menjaga.

                                                            *****

            Delapan bulan lagi mutiara dalam gubuk kami akan pulang, ia akan menghabiskan masa cuti yang hanya dua minggu. Sebenarnya aku ingin dia pulang terus. Tinggal digubuk yang sudah mulai terlihat bak istana. Mengkilap, karena aku sungguh-sungguh memperlakukan tempat tinggal kami sebagai Rumah menuju Surga yang indah InsyaAllah. Namun, apadaya ia bersikukuh menambah satu kontrak lagi. “Dua tahun…” Duhai.. Aku harus menunggu lagi, padahal sudah mulai banyak godaan menghampiri. Setiap berangkat kerja ke Puskesmas desa, ada seorang yang entah disengaja atau tidak selalu menyapa dengan sedikit menggoda. Satu dua kali aku anggap biasa, namun setelah beberapa kali aku merasa jengah, akhirnya aku pindah rute jalan menuju puskesmas. Meski harus jalan melingkar, bagiku itu lebih baik.

Ada juga yang selalu datang ke ruang konsultasi di Puskesmas.  Aku memperlakukannya sebagai seorang pasien yang harus dibantu. Tapi koq sering banget mengunjungiku, padahal ia kelihatan sehat. Ada saja yang ia tanyakan dan diskusikan. Mulai dari cacar air, panu, dan benjolan di payudara. Untung hanya konsultasi, namun yang membuatku agak salah tingkah adalah saat ia meminta memeriksa dadanya. Dengan reflek ia menarik tanganku, reflek pula aku menangkisnya. Wajah istri melayang layang diudara, seuntai istigfar senantiasa terucap disaat berhadapan dengan sesuatu yang mengganjal dihati. “Sabar, Majid, sabaar.”

            “ Untuk pemeriksaan organ-organ dalam, anda bisa langsung dengan Dr. Kurniawati. Ini orangnya…” Syukurlah Kurnia datang tepat waktu. Beberapa hari lalu aku meminta solusi padanya. Pasien misterius itu tampak terkejut, dan meninggalkan kami dengan tergesa-gesa. Kursi duduk pasien tertendang, menimbulkan suara gaduh.

            “ Terima kasih, Nia..” Ucapku setelah melihat pasien itu kabur tanpa menoleh lagi. Ada rasa lega menjalar di sanubari, aku harap dia tidak akan datang di hari lain.

            “ Sama-sama, Bang. Sesama dokter harus saling membantu dan melindungi. Mbak Ami masih lama pulangnya?” Pertanyaan Nia ini seolah mengaduk kembali rasa penat yang semalam kucoba redam dengan berbagai cara hingga tertidur.

            “ InsyaAllah tahun depan, Nia..”

            “ Bagus lah, semoga tidak ada rencana nambah kontrak lagi ya, Bang. Kasihan anak-anak, masa seperti ini belai kasih orangtua lebih dibutuhkan..” Nia benar, banyak anak-anak tetangga yang nakal karena ditinggal orangtuanya merantau. Aku juga pernah menjadi anak kecil dan remaja yang haus kasih sayang, demi menuntut perhatian ayah dan ibu aku banyak membuat ulah. Dari tawuran antar kelas hingga antar sekolah. Mengingat masa ini, seolah membuka kembali rasa bersalah pada mereka yang sudah susah payah mencukupi kebutuhan kami, anak-anaknya.

            “ Tugas saya di ruang ini sudah selesai kah, Dokter Majid?” Pertanyaan Nia membuyarkan pesona kenakalan masa muda.

            “ Oh, sudah Dokter Nia. Silahkan melanjutkan tugas lainnya..” Balasku dengan gagap. Kurniawati adalah Dokter muda yang baru bekerja beberapa bulan di puskesmas desa kami. Dia adik kelas istri di SMEA dulu, menikah tahun kemarin.

Sepulang dari puskesmas, aku sudah disambut dengan anak-anak yang baru pulang dari mengaji. Melihat senyum mengembang dan semangat belajar mereka, hari seolah berjalan cepat. Apalagi kalau di hari itu ibu mereka menelpon, bisa dipastikan semua serba cepat dan rapi.

            “ Ayah, capek ya?” Tanya Fauzan, si sulung saat melihatku rebahan sesudah Shalat Maghrib. Biasanya kami akan membahas PR sekolah dan mengaji ulang pelajaran di mushala.

            “ Sedikit sakit kepala, Nak. Capek juga, bagaimana pelajaran hari ini?” Senang juga mempunyai jagoan seperti dia. Fauzan suka membantu pekerjaan ayahnya ini, terutama dalam hal membantu si bungsu Fauziyah mengerjakan tugas-tugas sekolah. Bangga juga memilikinya, karena ia selalu menyumbangkan trophy untuk sekolah dalam berbagai even. Dia suka bulu tangkis dan sepak bola, idolanya Taufik Hidayat dan Zine Zidane. Kedua tokoh ini seolah menjadi semangatnya dalam pertandingan.

            “ Ayah, istirahat saja, nanti saat adzan Isya’ saya bangunkan..” Tambahnya sambil menutup pintu kamar. Rabbi..jagalah selalu iman keluarga kami, tunjukilah selalu jalan yang lurus. Aamiin.

                                                                        *****

            Fajar hari ini begitu menyegarkan, kami bersiap menjemput Ami di Bandara Juanda, Surabaya. Pesawat akan mendarat jam 19:45 WIB, masih lama sebenarnya. Namun, kami merasa tidak ingin mengecewakan sang mutiara itu. Khawatir terlambat dan dia menunggu. Lebih baik kami yang menunggu, tak tega rasanya bila mutiara itu harus duduk meratapi ubin ruang tunggu bandara. Atau berdiri mondar mandir menunggu jemputan. Getar rindu itu akan terobati sebentar lagi.

Meretas Sakinah,

Puisi ini tercipta sebagai pengantar hati bertemu dengan istri tercinta

Dawai pertemuan mengulir benih-benih asa

Tersua aku dan dia…

Di Jelaga aliran kehidupan,.

Buliran kasih sayang menghampiri

Di kala senja terpilin muara kelam

 

Pantai indah hiasi sekeping cinta

Melahirkan seuntai niat untuk bersama, selamanya

Meretas sakinah hingga Jannah-Nya

Mengemas sebagian taqdir dalam dekap ibadah

 

Mutiara itu kembalikan senyumku

Yang telah lama menahan gejolak jiwa

Tuhan..Restuilah pertemuan ini

Izinkanlah kami membangun sebagian Surga-Mu digubuk ini

 

                                                            *****

            Pertemuan di bandara berjalan dengan indah, anak-anak bahagia bertemu dengan ibunya, berebut tukar cerita. Seolah lembaran-lembaran kisah selama dua tahun itu akan selesai dalam satu malam. Duhai..Kapan giliranku, batin ini meratap.

Ami tanggap dengan perasaan suaminya, setelah anak-anak tertidur barulah ia berbagi kisah denganku. Wajahnya tetap ayu, namun agak kurusan dibanding keberangkatannya.

            “ Yang penting sehat, Bang..Bersyukur perjalanan kita dimudahkan..” Tuturnya sambil mengajakku mengambil air wudhu. Dia merasa sudah lama tak berjama’ah dengan imam rumah tangganya. “Tuhan..Terima kasih atas benih cinta suci ini.”

 **Malang Kota Bunga, 2011

 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00