• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Bilik Sastra

Selaksa Permata Kusam

14 August
13:06 2017
1 Votes (5)

 VOI BILIK SASTRA Cahaya matahari mulai menembus kaca-kaca jendela bis berwarna merah itu. Menyebabkan para penumpangnya memicingkan mata, atau mengangkat tangan untuk menutupi mata mereka. Silau, terjemah dari sang otak. Satu dua tersenyum menyambut pagi mereka yang dipenuhi hangat. Satu dua malah mencebikkan mulut, panas, katanya. Memilih berpindah duduk, mencari yang lebih teduh atau tetap bertahan diterpa panas.

       Adalah Zara, salah satu penumpang yang memilih tersenyum pagi itu. Memilih menikmati sapuan hangat matahari yang berpadu hembusan angin negeri afrika. Ia masih terbuai oleh aroma musim gugur di negri kinanah saat kenek bis meminta ongkosnya. Tersenyum kikuk, salah tingkah ketahuan melamun sambil sesekali menghembuskan napas. Ia menggeleng, buru-buru diberikannya uang 1 pound kepada sang ammu yang dikembalikan dengan 1 tiket kecil.

      Hendak kembali menatap ke luar, didapatinya beberapa orang kulit hitam menaiki bis yang sama. Wajah senangnya berubah garang. Haromi, pikirnya. Ia masukkan smartphonenya ke dalam tas lalu dipeluknya tas itu erat-erat. Tak akan ada celah bagi para haromi itu untuk mengambil barang apapun dariku, batinnya.

    Zahra amat membenci haromi. Bagaimana tidak? Orang tuanya harus bersusah payah untuk membelikan saudaranya smartphone baru karena dicuri oleh gerombolan pencuri sekitar rumahnya, juga ia dan saudaranya harus membuat paspor baru yang dikenai denda 40 dollar. Ah tidak, 2 paspor 80 dollar.

     Malam itu Zara meminta saudaranya-kakak laki-lakinya, untuk menemaninya mencari buku untuk pelajarannya esok hari. Kakaknya menolak tentu saja, "Sudah malam, besok pagi saja kakak temani. Darsnya jam berapa dek?" Jam 10, jawabnya. "Kalau besok pagi masih tutup tokonya, Kak," Zara terus membujuk sang kakak. Maka, berakhirlah mereka berangkat mencari buku.

   Jam 10 malam mereka pulang. Waktu yang belum terlalu larut bagi orang-orang Mesir. Namun di sekitar tempat tinggal Zara, jam-jam itu sudah mulai sepi. Tak banyak aktivitas yang dilakukan. Ringkikan keledai dari pasar saja terdengar.

    Dari ujung jalan, Zara dan kakaknya melihat sekelompok orang-orang berkulit hitam. 4 atau 5 atau 6 kah jumlah mereka? Zara bertanya pada kakaknya, namun urung karena melihat wajah kakaknya mulai siaga, berhitung dengan kemungkinan. Tangannya mulai mencengkram pergelangan tangan sang adik yang mulai cemas. Mereka tetap berjalan, menghiraukan ketegangan yang tercipta. Atmosfir malam nan dingin mengangkasa, digantikan panas yang membuat mereka dibanjiri oleh peluh kecemasan. Akankah nadi mereka setia bersama?

   Malam itu bukian sekedar pertaruhan harta bagi dua bersaudara tersebut, tetapi juga nyawa. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan oleh sekelompok orang tersebut? Mungkin saja membunuh mereka, membuang mayat mereka di tempat tak terjangkau. Siapa yang tahu?

   Kakak Zara memberi kode. Bersiaga untuk lari kapan saja. Mengangguk Zara menjawabnya. Mereka belum punya gambaran siapa kelompok itu? Musuhkah atau sekedar pejalan. 5 meter, kakak Zara melihat salah satu kawanan mengeluarkan senjata tajam. Pisau lipat.

     Matanya melebar. Lari, perintah sang kakak. Mereka berdua lari menuju tempat keramaian. Gerombolan orang berkulit hitam itu mengejar. Berteriak meminta tolong. Persetan dengan sepatu yang lepas, selamat dulu. Ilmu belum banyak. Wkwk. Zara kesusahan, kakinya sakit menginjak batu-bu runcing yang bertebar di aspal. Ditambah buku dalam genggamannya. Sang kakak mengambil barang yang membebani adiknya tersebut. Membantu sang adik untuk berlari lagi.

   Pernah mendengar 'di saat genting, 1 detikmu sangat berharga'? Itulah yang terjadi pada mereka. Terlambat. Pisau-pisau ditodongkan pada mereka. Membentak berikan smartphone, juga dompet berisi paspor. Tak ada orang, sial sekali memang. Zara gemetar, ia takut sekali. Mulutnya bergumam dzikir, tangannya menggenggam erat baju belakang kakaknya. Sang kakakpun senantiasa berdzikir, melindungi Zara dari bentakan orang-orang durjana itu. Merasa tak mampu melawan, kakaknya memberikan smartphonenya dan dompet-dompet mereka. Keselamatan mereka berdua lebih penting sekarang. Beruntung Zara tidak membawa smartphone, jadi itu tak harus pupus dari miliknya. Hanya saja, harus digantikan dengan kehilangan buku yang baru saja dibelinya.

    "Kuliatul Banat," teriakan kenek bis membuat Zara terbangun dari ceritanya. Ia bergegas turun, dan memulai jam kuliahnya. Tersenyum saat disapa oleh teman karibnya. Melupakan sejenak kebenciannya kepada mereka si kulit hitam.

***

    Zara keluar dari gedung kuliah saat pergantian jadwal, ia memilih pulang karena mengantuk. Smartphone Zara berbunyi, ia tertegun melihat layarnya. Adalah pengingat kalender yang berbunyi, mengingatkan hari terakhir book fair di negri kinanah tersebut. Buru-buru diceknya dompet, dan didapatinya masih ada beberapa lembar ratusan pound di dalamnya. Telah diputuskan, ia akan pergi ke Cairo International Book Fair tersebut, walau sendirian. Ntahlah kemana teman-temannya. Sepertinya masih sibuk mengurusi berbagai hal yang tidak diketahui oleh Zara.

     Zara memilih hunting novel-novel berbahasa inggris karena semua kitab muqorror dan kitab talaqi yang diambilnya sudah dibeli pada kunjungan-kunjungan sebelumnya. Didengarnya teriakan-teriakan para penjual di stand-stand buku novel yang mengobral buku dengan harga murah. Zara memilih beberapa novel, lalu beranjak menuju stand makanan.

     Zara menghampiri teman-temannya yang terlihat berada di salah satu stand. Saling sapa mereka lontarkan. Tanpa diundang, tiba-tiba datang seorang anak kecil berkulit hitam bersama ayahnya. Menegur Zara, lalu menyodorkan smartphone miliknya. Zara melihat itu berang, merampas benda kepunyaannya dari tangan anak itu dengan kasar. Menatap garang, bertanya darimana didapatkannya. Anak itu gemetar, ayahnya menjawab bahwa itu tertinggal di salah satu stand novel. Dan anaknya melihat hal itu, lalu mendesak sang ayah untuk mencari si pemilik. Zara tak percaya, malah menuduh mereka si kulit hitam ingin mencuri smartphonenya. Teman-teman Zara menatap tak percaya. Inikah balasan Zara pada anak kecil itu? Zara tak peduli. Ia memilih pergi, meninggalkan teman-teman dan 2 orang kulit hitam tersebut.

  Di belakangnya, teman-teman Zara mengucap puluhan maaf kepada anak dan bapak berkulit hitam itu. Bilang, mohon mengerti, Zara pernah kecurian oleh orang hitam. Jadi, ia sangat shock mendapati smartphone nya berapa di tangan mereka. Sang bapak mengangguk lalu beranjak pergi.

  Zara kembali menuju stand-stand tempat menjual novel. Dihampirinya salah satu toko dan mulai melihat-lihat.

  "Sini lihat! Buku yang ini masih bagus, masih dibungkus. Tapi karena sekelilingnya buku kusam,  dianya terlihat kusam juga. Seolah-olah sudah menjadi bekas," suara pribumi mesir itu tertangkap oleh indra pendengaran Zara. Ia tertegun. Terlalu naif dirinya menafsirkan kehidupan. Terlalu sombong raganya atas kebenaran. Ternyata hal sekecil itu tak terperhatikan?

  Ia menangis dalam diam. Dicarinya kembali bapak  dan anak berkulit hitam yang menghampirinya tadi. Hukum alam semakin kejam saban hari. Menyamaratakan segala sesuatu yang hakekatnya berbeda. Zara dapati rasa sakit di hatinya. Bagaimana mungkin seorang yang bukan siapa-siapa sepertinya menghakimi semua orang adalah sama saja? Bagaimana mungkin seorang penuntut ilmu sepertinya menaruh prasangka yang  berbahaya terhadap orang lain yang telah menolongnya? Dimana adabnya? Dimana ilmunya?

   Zara terus mencari, dan didapatinya anak dan bapak berkulit hitam itu sedang duduk di dekat seorang kakek tua yang sedang menggesek gitar menghibur orang-orang. Dibelinya beberapa buku anak sebelumnya, lalu dihampirinya mereka berdua.

   Mengucap salam. Sang bapak tersenyum menyambutnya, membuat Zara kikuk. Lihatlah betapa bapak ini tidak menaruh dendam padanya. Tidak menaruh prasangka buruk tentangnya. Zara meminta maaf. Puluhan kali. Oh betapa ia merasa malu, kenapa bisa ia melakukan hal seperti tadi.

   Disapanya anak kecil yang menatap takut padanya. Diberikannya buku anak-anak yang sudah dibelinya kepada si anak berkulit hitam tersebut. Bertanya siapa namanya? Bapaknya bertanya dalam bahasa ibu mereka, anak itu menjawab. Zara mengulang pertanyaannya dalam bahasa sang anak, Kefa, jawabnya. Zara meminta maaf pada anak itu menggunakan bahasa arab, yang ditranslate sang bapak ke bahasa mereka. Anak itu mengangguk, mulai membuka buku bacaan yang baru saja diberikan oleh Zara.

***

   "Filosofinya, jika lingkungan itu buruk, yang bak permatapun tetap akan samar hawa keindahannya. Yang diam indah berkilau akan dihakimi sama dengan yang berkicau tak terdidik. Tak semua orang bisa menyadari keindahannya, hanya orang-orang tertentu. Pemilik bermata jeli. Pemerhati yang baik. Maka jadilah kita salah satu diantaranya," Zara mengakhiri cerpen kehidupannya. Ia belajar bahwa mata manusia amat lemah dalam menilai. Karenanya sejak hari itu, kehati-hatian senantiasa menyelimuti hati dan pikirannya. Tak akan ia biarkan dirinya menilai seseorang sembarangan. Tak akan dibuatnya sebuah permata itu kusam.

     Itu janjinya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00