• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Bilik Sastra

JODOHKU LELAKI TURKI

11 August
15:09 2017
0 Votes (0)

VOI BILIK SASTRA Disumpahin tidak laku dengan lelaki Indonesia, aku malah dapat lelaki Turki.

Awalnya aku agak takut dengan sumpah bapak kos yang membenciku. Alasannya sederhana. Aku tidak memberinya oleh-oleh saat baru pulang dari Eropa.

Selama ini aku memang kesulitan menemukan orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidup. Aku sempat dekat dengan 5 lelaki dan 2 diantaranya siap serius denganku. Tapi aku melarikan diri karena rasa tidak nyaman.

Usiaku sudah 25 tahun dan aku mulai resah dengan masa depanku. Aku baru keluar dari pekerjaan ditambah sikap bapak yang mendesakku untuk segera berumah tangga agar aku lebih bersikap dewasa.

Selama hampir 1 tahun aku merasa terombang-ambing penuh ketidakpastian. Tanpa pekerjaan, mencoba mendaftar S2 di Jerman dan IPB, hingga meminta beberapa lelaki asing untuk menikahiku. Aku mirip orang gila dan tak ada seorangpun yang bisa kuajak bicara.

Mei 2012, aku menceritakan kegalauanku menemukan pasangan pada seorang lelaki Turki yang sudah kuanggap kakakku sendiri. Kami berkenalan di HC saat aku masih berada di Finlandia tahun 2010. Namanya Harun.

Aku tak menduga ternyata niat awalku yang hanya iseng mengajak Harun menikah malah ditanggapi serius. Dia setuju menikahiku dan datang ke Indonesia di bulan November.

Perasaanku antara senang dan bingung. Aku tak pernah bertemu Harun langsung. Selama ini kami hanya mengobrol di dunia maya. Tapi ada perasaan yakin kalau dia jodohku. Aku terus berdoa dan memantapkan hati. Kami pun rutin mengobrol hampir setiap hari di skype.

Ibuku menerima keputusanku untuk menikah dengan Harun tapi bapak malah murka dan berusaha menakutiku kalau aku bisa jadi korban perdagangan manusia.

Aku mendadak kembali ragu dengan keputusanku setelah aku menerima kabar penerimaan dari JLU Jerman dan IPB untuk S2. Aku ingin melanjutkan kuliah tapi aku juga ingin menikah. 3 temanku menyarakan agar aku memilih menikah karena kuliah bisa ditunda, tapi 2 temanku yang lain menyarankan agar aku memilih kuliah dengan alasan aku mematangkan karir lebih dulu. Aku akhirnya meminta tanggapan Harun. Dia mendukungku untuk S2 tapi juga agak keberatan kalau harus menunggu 2 tahun lagi. Aku akhirnya memutuskan untuk memilih menikah.

Harun datang di awal November 2012. Aku dan ibuku segera menghubungi KUA.

Ternyata syarat pernikahan dengan orang asing tak mudah. Rencana pernikahan kami sempat ditunda karena pihak KUA menginginkan lembar pernyataan dari kedutaan Turki di Indonesia yang menjelaskan bahwa Harun adalah penduduk asli Turki dan belum menikah. Harun sempat marah dengan para pegawai KUA karena mereka menolak lembar asli berbahasa Turki yang telah dibawanya langsung dari Turki.

“Ini sudah menjadi prosedur di Indonesia Mr. Harun,” kata pegawai yang masih muda. “Yang diperlukan adalah surat keterangan dari kedutaan Turki di Indonesia. Yang ada kepala suratnya.”

Pegawai KUA yang lebih senior, Pak Imron, akhirnya memberikan jalan tengah. Aku dan Harun bisa menikah terlebih dulu tapi surat keterangan dari kedutaan harus segera diserahkan 3 hari kemudian.

Pernikahanku rasanya seperti lelucon. Kami menikah di kantor KUA dengan wali bapak dan ibuku sementara saksinya adalah 3 pegawai KUA. Aku hanya mengenakan baju terusan yang agak kusut dan sepatu kets. Harun menggunakan sandal jepit, kaos hitam, dan celana olahraga. Ibuku yang belum selesai mengajar di SMA masih menggunakan baju batik resmi seragam sekolahnya. Hanya bapakku yang lumayan rapi dengan baju batik dan peci hitam.

Ketua KUA yang menjadi penghulu pernikahan kami bingung dengan bahasa yang harus dia pakai. Dia tidak mengerti bahasa Inggris. Kedua orang tuaku juga tidak mengerti bahasa Inggris. Pak Imron lalu menyarankan agar pernikahan kami menggunakan bahasa Indonesia dan Arab. Dia menyuruh Harun membaca niat ijab qabul yang telah ditulisnya di secarik kertas.

Para saksi dan penghulu kembali bingung dengan cara Harun membaca tulisan Arab. Yang seharusnya dibaca a oleh Harun dibaca e. Sang penghulu sampai minta Harun untuk mengulangi 3 kali. Aku kemudian menjelaskan kalau memang cara membaca orang Turki agak berbeda dengan orang Indonesia. Akhirnya para pegawai KUA paham dan kami melanjutkan acara iajb qabul. Acara pernikahanku tak lebih dari 30 menit.

Resepsi pernikahanku juga sederhana. Harun melarang aku dirias. Dia juga melarang ada acara musik di pernikahan. Hanya tetangga dekat rumah, teman-teman Ibu, beberapa temanku, dan keluarga besar kami saja yang hadir karena acara pernikahan kami yang mendadak.

Pak Imron menagih janjinya 3 hari kemudian. Kami harus menyerahkan surat dari kedutaan. Aku dan Harun agak frustasi karena kami tidak bisa menikmati bulan madu. Esoknya kami berangkat ke Jakarta. Kami hampir selalu bertengkar selama di perjalanan karena sopir taksi tidak tahu lokasi kedutaan Turki sehingga hampir selama 30 menit kami hanya berjalan berputar-putar. Harun akhirnya memutuskan untuk jalan kaki karena dia yakin sopir taksi itu telah menipunya. Harun juga tidak bersedia makan di warung yang menurutnya tidak bersih sehingga aku yang tidak tahu seluk-beluk Jakarta harus mengantarkannya mencari rumah makan.  

Di akhir November, kami terbang ke Turki. Rasanya agak sedih berpisah dengan ibu tapi aku juga merasa bahagia karena akhirnya doaku terkabul. Aku ingin tinggal di luar negeri.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00