• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Bilik Sastra

Istri Pemuja Dewandaru

10 August
14:22 2017
2 Votes (4.5)

VOI BILIK SASTRA Sulung, teman zaman abu-abu putih sepekan yang lalu meneleponku. Dia menceritakan perihal kesuksesannya bekerja sebagai TKI di Hongkong. Bahkan suaminya adalah seorang warga negara Hongkong. Suaminya seorang pebisnis yang membuka belasan toko Indonesia di Hongkong. Sebagai teman yang baik aku mengucapkan selamat atas keberhasilan karier dan kehidupan rumah tangganya, tapi sebagai perempuan dan istri ada rasa iri yang datang menepi hati.

Satu semester sudah, orderan batu bata Mas Poer tak lagi beroperasi karena langkanya stok pasir. Penambangan pasir di Desa Taman Sari dan Taman Satriyan, Kecamatan Tirtoyudo telah ditutup karena wilayah tersebut merupakan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Praktis tak ada serupiah pun masuk ke dompetnya sebagai nafkah untukku dan Fiza, anak semata wayang kami. Aku harus menghemat uang tabungan yang tersisa. Cukup tidak cukup, harus dibuat cukup. Aku berprinsip lebih baik makan seadanya daripada harus berutang ke tetangga. 

Aku mencoba bersabar dengan ini tapi sesabar-sabarnya istri, mana ada yang tahan enam bulan tanpa tambahan uang? Sebagai istri, aku tak tega membiarkan suamiku menanggung penghidupan kami seorang diri. Mas Poer tak memiliki keahlian lain selain mencetak batu bata. Ia pernah gegar otak dan koma selama sepuluh hari akibat kecelakaan lalu lintas semasa remaja. Mas Poer tak bisa bekerja di bawah terik matahari terlalu lama, ia akan pusing bahkan pingsan.

 Di saat seperti ini aku ingin bekerja apa saja yang gajinya bulanan, paling tidak ada pemasukan pasti. Aku pun mencoba membuat kuih muih yang kutitipkan di warung-warung. Namun baru dua minggu berjalan hasilnya nihil, tidak menambah pemasukan malah membuatku gulung tikar. Mahalnya bahan baku tak sebanding dengan harga jual kuih muih. Kalau aku patok dengan harga tinggi pastinya tak ada orang yang mau beli. Kalau aku jual dengan harga murah, aku yang tekor. Aku pun berhenti membuat kuih muih. Aku teringat ajakan Sulung bekerja ke Hongkong. Aku ingin mengubah nasib. Sebagaimana terjadi pada masa sekarang, ada banyak istri yang mengadu nasib ke negeri orang menjadi Buruh Migran Indonesia.

 Ketika sinar matahari mulai meredup di langit barat. Semilir angin tenggara meniup pelataran rumah kami. Mas Poer baru saja pulang merumput untuk tiga ekor kambing domba, tabungan hidup kami. Di serambi belakang yang menghadap kandang kambing aku menyambutnya dengan secangkir kopi panas.

"Assalamuallaikum, Mas!" sapaku sambil menjerembabkan cangkir kopi di atas bangku bambu.

"Rumput langka?" tanyaku lagi.

Mas Poer menjawab salamku, aku mencium punggung tangannya kemudian kami berdua duduk di atas bangku bambu.

"Ya, begitulah Bune, sudah bawaan musim kemarau. Yang penting kita telaten dan sabar."

"Fiza mana?" tanya Mas Poer kemudian menyruput kopi, "Kok sepi?"

"Sepulang mengaji pakde mengajaknya ke bazar kampung sebelah," ujarku.

Sambil memilin ujung jilbab, hatiku dibuat gelisah oleh unek-unek yang ingin aku utarakan pada Mas Poer. Lidahku begitu kelu, tak kuasa menahan rangkaian kata yang hendak terucap.

"Mas!"

"Ehmm, itu Mas!"

"Ada apa Bune?"

"Ada yang ingin aku sampaikan pada sampean!"

"Iya, katakan!"

"Kok bingung gitu!" Mas Poer merapatkan tubuhnya padaku dan merangkulku. Aku merasakan hawa panas tubuhnya menjalar ke tubuhku dan membuatku berkeringat. Aku tarik napas sebagai tenaga agar unek-unek di kepalaku mampu keluar.

"Mas, Sulung, temanku yang suaminya orang Hongkong itu mengajakku bekerja disana. Dua tahun saja Mas! Aku mencari modal, agar kita punya toko kecil-kecilan, mumpung usiaku masih bisa diterima bekerja disana Mas Poer," ungkapku tanpa jeda.

Tubuh Mas Poer perlahan merenggang dari tubuhku, rangkulannya pun dilepasakan, mimik wajahnya memucat menggambarkan kekecewaan. Tak sepatah kata pun terlontar dari bibirnya. Suasana hati Mas Poer seolah diaminkan oleh langit yang gelap menyambut maghrib.

"Izinkan aku, Mas! rengekku.

***

Hari-hari kami selanjutnya diliputi pertengkaran semenjak aku mengungkapkan keinginanku untuk bekerja ke Hongkong. Bahkan aku sudah melupakan prinsipku dengan menumpuk utang di warung tetangga. Mas Poer sering sakit-sakitan karena memaksakan dirinya bekerja di konstruksi yang notabene membuat kepalanya harus terpanggang di bawah sinar matahari. Itu ia lakukan semata-mata demi memenuhi kebutuhan kami sekeluarga dan agar aku tak pergi menjadi TKI. Aku semakin tidak tega melihat Mas Poer. Aku tak bisa tinggal diam.

Pikiranku seperti kapas beterbangan tak tentu arah. Aku seolah mendapat bisikan gaib mencari jalan pintas untuk kaya dengan mengikuti ritual pesugihan ke Gunung Kawi. Kecupetan ekonomi membuat logikaku telah, dirasuki hal-hal mistis. Tekadku semakin bulat pergi ke Gunung Kawi, dengan membohongi Mas Poer untuk menjenguk bude di Jombang barang dua tiga hari. Aku tidak mengajak serta Fiza.

Aku pun pergi ke Malang pada hari Kamis malam Jumat Kliwon. Gunung Kawi letaknya lumayan jauh dari Kota Malang, melalui Kabupaten Kepanjen aku naik ojek dengan menempuh perjalanan 2 jam. Beberapa kali melalui tanjakan dan tikungan tajam. Dari sana hawa pegunungan terasa begitu dingin. Sesampainya di lokasi masih harus berjalan kaki, kira-kira 200 meter. Jalan yang dilalui tidak lebar, sekitar 2 meter dengan kemiringan tanjakan lebih dari 20 derajat. Sungguh melelahkan, namun tekadku sudah seratus persen untuk mengikuti ritual pesugihan Gunung Kawi. 

Gunung Kawi memang dikenal sebagai tempat untuk mencari kekayaan (pesugihan). Konon, barang siapa melakukan ritual dengan rasa kepasrahan dan pengharapan yang tinggi maka akan terkabul permintaanya, terutama menyangkut tentang kekayaan. Aroma dupa menyebar kemana-mana menambah suasana mistis. Sebelum gerbang utama, di kiri kanan jalan setapak berderet-deret penjual aneka kembang segar untuk sesajen. Ada juru kunci yang menjelasakan tata urutan juga mantra ritual.

Bagian penting dari ritual adalah tirakat di bawah pohon dewandaru. Pohon yang dianggap akan mendatangkan keberuntungan. Pohon yang termasuk jenis cereme Belanda, yang oleh orang Tionghoa disebut sebagai shian-to atau pohon dewa. Aku tidak sendirian berada di bawah pohon itu. Ada banyak peziarah yang juga melakukan hal yang sama. Kami bersama-sama duduk di bawah pohon sambil menunggu jatuhnya daun dewandaru. Untuk memanfaatkannya sebagai azimat. Jika berhasil mendapatkannya, biasanya daun dewandaru dibungkus dengan selembar uang kemudian disimpan di dalam dompet.

Aku mulai komat-kamit merapal mantra yang tertulis pada selembar kertas yang diberikan sang juru kunci di bawah pohon keramat itu. Belum setengah jam bertapa tiba-tiba saja, aku merasa ada selembar daun yang jatuh ke pundakku. Tetapi, pada saat yang bersamaan, sejumlah orang yang berada di dekatku pun melihat daun dewandaru itu jatuh di pundakku.

Mereka pun berteriak, "Daun dewandaru jatuh, daun dewandaru jatuh!

Tentu saja mereka mendekatiku dan berupaya merebut daun dewandaru itu. Beberapa orang, kebanyakan kaum pria, menggeledah paksa pakaianku untuk mendapatkannya. Mereka mengeroyokku bak maling yang tertangkap basah warga. Mereka tak memperdulikanku seorang perempuan. Mereka membuka pakaian dalamku secara kasar, mengangkat gaun pakaian, bahkan membuka celana dalamku hingga nyaris telanjang bulat, seolah hendak diperkosa. Mereka memeriksa dengan teliti dimana daun dewandaru itu berada. 

Aku hanya bisa menjerit kemudian menangis pilu saat pria-pria rakus itu meraba tubuhku. Aku terus meronta, melawan hingga kehabisan tenaga. Dalam lunglainya tubuh, pandanganku kabur, lamat-lamat kudengar suara mereka yang sedang membolak-balikkan tubuhku.

***

Kurasakan seseorang meraba lembut jari-jemariku. Isak tangis lirih Fiza memanggil-panggilku, juga suara Mas Poer yang berusaha menenangkannya sampai ditelingaku. Aroma obat yang begitu pekat membuatku tersadar aku berada dimana. Aku dapat merasakan jarum infus terpasang di punggung tanganku. Kelopak mataku begitu berat untuk dibuka.

"Maafkan istrimu ini, Mas!"

"Maafkan kekurang-ajaranku, Mas!" ucapku terbata-bata. Aku perlahan bangkit meraih Fiza dan memeluk Mas Poer.

"Bune sudah siuman?" timpal Mas Poer, "Bune berbaring saja."

Tatapan Mas Poer begitu sayu, menggenggam erat jemariku. Fiza sangat gembira melihatku siuman, dia mengeratkan pelukannya.

"Sekali lagi maafkan aku, Mas!" Mas Poer mengangguk dan mencium punggung tanganku, tetes hangat air matanya jatuh di atas tanganku. Ini pertama kalinya, aku melihat Mas Poer menangis.

Kalbuku diliputi ribuan sesal. Aku telah melakukan dosa besar dengan menyekutukan Allah SWT. Aku bersalah pada Mas Poer, meragukan perannya sebagai seorang kepala keluarga, membohonginya demi sebuah nafsu ingin menjadi kaya dengan cara haram. Aku lalai bahwa ujian hidup adalah sebuah kepastian. 

"Bune, kita harus segera bertobat kepada Allah SWT," ujar Mas Poer.

 Hongkong, 2017

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00