• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Bilik Sastra

Seutas Kasih di Admiralty

9 August
11:56 2017
0 Votes (0)

VOI BILIK SASTRA Saat mengenalnya pasti kalian akan setuju bahwa dia seorang yang ayu, keibuan dan pintar. Pandai merangkai kata pun merenda desain acara. Namanya Tria Megasakti, nama sakti yang mampu meluluh lantakkan kenyamanan hatiku. Aku yang pendatang di Hong Kong dibuatnya betah dan mudah mengakses kegiatan para pahlawan devisa disini. Aku yang sudah ber-istri dan mempunyai dua putra mulai tergoda daya tariknya.

            “ Mas tidak usah takut, saya tidak akan menuntut apa-apa. Saat pulang darisini, hubungan kita sudah ikut terbang. Tidak ada batas, tidak ada lagi sebuah hubungan spesial..” tuturnya tegas. Aku menjadi serba salah. Salah pada-Nya, pada keluarga, dan Tria yang sudah janda beranak dua.

            “ Masksudmu saat kita berjumpa di Indonesia kita tidak akan saling tegur, Tria?” Pangkasku buru-buru. Hati siapa yang akan tenang tatkala sedang melakukan sebuah perbuatan hina, selingkuh. Aku bersyukur, syetan tidak mengajakku menyewa hotel dan menikmati hidangan yang lezat itu.

            “ Anggap saja begitu..” jawabnya datar. Tanpa berpaling dia bergegas pergi, meninggalkan kantor ini dengan perasaan yang entah seperti apa.

Aku bekerja di sebuah Bank Negara, ditugaskan kemana-mana. Jarang sekali aku mengajak keluarga ikut serta. Istriku memilih dirumah, menjaga putra-putraku. Akan sangat repot saat harus mengurus visa tinggal keluarga, belum lagi surat-surat kepindahan belajar mereka. Jadilah aku seorang yang melanglang buana sendirian, bak seorang perjaka kesepian. Kehadiran Tria di Negara dinas kali ini, membuat benih-benih kesepian itu tumbuh menjadi ingin diperhatikan dan disayangi. Gayung bersambut, Tria menerimanya dengan tangan terbuka dan bersahaja.

            “ Sedang melihat apa, Ndre?” Sastra menepuk pundakku.

            “ Eh, anu, itu…Sedang melihat MTR Admiralty. Di jam-jam segini pasti ramai, aku ingin turun makan siang, Tra. Ikut?” Jawabku sekenanya. Sastra tidak curiga, ia hanya tersenyum dan menyambut ajakanku.

            “ Bolehlah…Kita ke Causeway Bay saja, ya? Satenya ngangeni..” Sastra langsung menunjuk tempat, tanpa ingin tahu aku setuju atau tidak.

            “ Ide bagus. Ayuuk!!”

                                                            *****

            Bank tempatku bekerja makin dikenal dan dipercaya disini, itu tidak lepas dari kinerja Tria yang mendesain acara dan promo geniusnya. Aku semakin dibuatnya tak perdaya. Coba aku belum beristri, pasti sudah aku lamar.

            “ Buletin akan terbit tiap bulan, Pak. Saya akan merekrut tim kecil untuk mengolahnya..” ucapnya sambil memberikan proposal kerja kepadaku. Tria sudah dikenal disini, selain aktif menulis, dia juga ajeg di organisasi.

            “ Kira-kira buletin itu ditaruh dimana saja, Mbak..” Sastra ikut bertanya. Kami berlima mengadakan rapat kemajuan bank ini.

            “ Kita bisa menaruhnya di loket remit, di organisasi-organisasi, dan di toko-toko Indonesia yang ada disini..” Jawab Tria mantap.

            “ Oke, saya serahkan isinya pada Mbak dan tim. Dana penerbitan dan honor pewarta tolong dibuat yang rapi, serahkan pada saya untuk ditanda tangani..” Aku memutuskan tanpa berpikir kerugian dan sebangsanya. Aku sudah percaya pada kinerja Tria, aku buta bahwa manusia itu tidak sempurna. Masalah pribadi dan kantor sering tercampur saat hatiku gelisah menahan perasaan padanya.

            “ Ya, kalau Pak Andre sudah setuju. Lanjutkan saja, Tria. Mungkin dengan adanya buletin, bank kita menjadi tahu keinginan nasabah.” Adji, sekretarisku setuju. Ah, menjadi atasan itu memang gampang-gampang susah, Bro..

Sejak diputuskan membuat buletin, dana yang biasanya kusalurkan ke beberapa media menjadi berkurang. Ada satu yang langsung kuputus kontrak lewat Tria, sampai sekarang aku masih merasa berdosa pada media itu. Semoga mereka tidak salah paham.

Tim bentukan Tria ber-anggotakan empat orang, mereka berbagi tugas. Ada bagian sirkulasi dan iklan, reporter, dan keuangan. Untuk layout, editor dan keredaksian dipegang Tria sendiri. Awal terbit hingga edisi 12, semua berjalan baik-baik saja. Antrian di loket makin panjang. Induk dan cabang makin menunjukkan perkembangan memuaskan. Aku pun semakin yakin bahwa Tria memang bisa diandalkan. Namun, desingan di tram malam itu menggugah relung hati yang mengajak pada kebaikan dan kejujuran.

            “ Menjadi simpanan pengusaha itu tidak enak, lo!” Seorang ibu muda yang duduk tak jauh dariku berbicara pada seorang disampingnya.

            “ Ya, iyalah.. tiap saat ditinggal dinas. Iya, kalau di tempat dinas godaan bisa ditentang, kalau tidak? Kamu harus hati-hati, Ning. Jaga suamimu dengan do’a terbaik..” Pesan itu membuatku tertunduk malu, teringat keberadaan istri dan dua putraku. Tanpa berpikir panjang lagi, kuberanikan diri menelpon sang bidadari itu.

            “ Assalamu’alaikum, Aa..” Suaranya merdu, Bro. Hati yang panas langsung sejuk.

            “ Alaykumussalam, Diajeng. Apa kabar?” Deru nafasnya yang halus terdengar di pendengaranku.

            “ Alhamdulillah sehat, Aa.. Anak-anak sedang hafalan di Masjid Al-Hidayah, biasanya akan pulang selepas Isya’..” Jawab istriku.

Suka duka berjauhan sering menjadi perbincangan diantara kami, istri yang terbiasa kutinggal pun sudah bisa menyelesaikan masalah dirumah tanpa harus menanyakannya padaku. Ia berdalih suami kerja sudah lelah, bila bisa dilakukan sendiri apa salahnya sang istri yang melakukan. Anggap saja itu ibadah, Ridha Allah Swt ada pada suami.

            “ Diajeng..Adakah do’amu terputus untukku?” Pertanyaan aneh.

            “ Aa ini bicara apa sich? Saya selalu berdo’a untuk kesehatan dan kelancaran rezki Aa, dimanapun berada. Agar anak-anak bisa terus sekolah dan kita bisa menabung untuk ibadah haji..” Tuhan, aku menangis mendengar jawaban ini. Untung istri tidak menyadari, hatiku menggumam keras “Uangmu sebagian kau berikan Tria, buat anaknya dan ibunya..”

            Astagfirullah al adziim…” ucapku spontan.

            “ Ada apa, Aa? Harusnya kan Alhamdulillah…apa saya salah ucap?” tanyanya menahan heran. Aku pun salah tingkah dan segera minta maaf.

            “ Istri yang baik itu selalu memaafkan, Aa..Saya percaya dan yakin Aa adalah suami dan ayah yang baik dalam keluarga ini. Saya ridha Ya Allah…” Istriku ikut menangis dengan kejujuran hubunganku dengan Tria.

            “ Beneran dia janda, Aa?” tanyanya penasaran.

            “ Iya, Diajeng, Awalnya hanya bersimpati, kok lama-lama aku jadi jatuh hati. Maafkan aku, ya?” ucapku gugup.

            “ Apakah Aa akan menikahinya? Atau hanya berhubungan tanpa kejelasan?” tanyanya menohok egoku sebagai seorang lelaki.

            “ A..a. Aku belum berpikir sejauh itu, Dinda. Aku masih ragu, yang kuyakini hanya mencintaimu saja..” kata-kata ini meluncur begitu saja. Bayangan perjumpaan pertama dengannya melintas seketika, rona-rona cinta itu berpendaran di langit Admiralty. “Tuhan..Berilah aku ilham yang terbaik. Aamiin.” Batinku mengiba pada-Nya. Berharap ada keajaiban dibalik kejujuran.

            “ Istikharahlah, Aa. Bila hatimu mantap poligami, saya ridha dan ikhlas. Bila hatimu ragu, bimbang dan galau, segeralah taubatan nasuha. Sepertinya Aa jarang tahajudan, mangkanya sering goyah..”  Ya, Tuhan…istriku benar adanya. Aku jarang bersujud disepertiga malam-Mu akhir-akhir ini.

            “ Insya Allah, Dinda. Mohon do’a terbaik dan ter-ikhlasmu, ya?” pintaku sebelum mengakhiri percakapan.

            “ Selalu, Aa. Jaga kesehatan, ya? Wassalamu’alaikum..” Klik.

                                                            *****

            Semilir angin bisa kunikmati saat berada dalam Tram, hari ini aku pergi Jum’atan di Masjid Wanchai. Berharap ada celah ampunan untukku dari-Nya.

            “ Apa kabar, Pak Andre..” Sapa Bapak Karim saat kami berjumpa. Beliau menjadi sosok bapak buat teman-teman PMI (Pekerja Migran Indonesia) di Hong Kong. Bawaannya sederhana dan ramah. Hati ikut teduh saat bersamanya.

            “ Alhamdulillah baik, Pak..” jabatku tersenyum. Hati memberi sinyal untuk bertanya atau berkonsultasi pada Bapak Karim. Namun, kepalaku menolak dengan dalih Pak Karim pasti sibuk..

            “ Besok aku akan ke Admiralty. Bisakah aku mampir, Pak?” Tanyanya setelah melihatku hanya diam dan menunduk.

            “ Bisa…Sangat bisa, Pak. Senang sekali bapak bisa berkunjung ke kantor..” jawabku dengan binar lega. Mungkin ini cara Tuhan mengirimkan keajaibannya.

Benar saja, Pak Karim datang sesuai janjinya, tepat waktu dan to the point.

            “ Pak, saya dapat pengaduan dari Mbak-mbak dan ibu-ibu di Taklim. Bahwa Ibu Tria sudah menjadi istri bapak, sedangkan mereka juga tahu bapak mempunyai keluarga di Tanah Sunda sana. Kedatangan saya ingin meminta penjelasan tentang kabar itu. Saya tidak ingin ada ghibah di Taklim..” Pak Karim berkata tegas. Apa tadi? Tria sudah menjadi istriku? Astagfirullah

            “ Siapa yang mengabarkan itu, Pak? Kalau saya menikah disini pasti bapak tahu dan menjadi saksinya..” Kata-kataku terbata.

            “ Jadi, Bu Tria belum menikah dengan Pak Andre, begitu?” Potong Pak Karim.

            “ Iya, belum. Kenapa beredar berita seperti itu, Pak?” Tanyaku heran.

            “ Saya juga kurang paham, Pak. Namun, Bu Hasni yang biasa berbincang dengan Bu Tria mengatakan begitu. Apakah antara bapak dan Bu Tria ada hubungan lain selain pekerjaan, Pak?” Tanyanya menggetarkan sebagian jantungku.

            “ Ya, hubungan kami hanya di pekerjaan, Pak. Tidak ada hubungan lain, apalagi mem-peristrinya. Meski istri saya mengizinkan, saya harus berpikir seribu kali lagi. Saya takut tidak bisa berbuat adil, Pak. Bukankah Rasulullah menganjurkan kita untuk bertahan dengan istri satu saja?” Akhirnya kata hati yang terpendam itu keluar dengan sendirinya. Aku ingin tetap setia pada satu cinta, Bro..

            “ Syukurlah kalau begitu. Saya akan mengabarkan kebenaran ini pada mereka. Semoga Bu Tria menerima keputusan Pak Andre dengan lapang dada. Cinta itu membutakan mata hati, Pak. Hati-hati, jaga hati..” Pak Karim mengingatkan.

            “ Baiklah, saya pamit dulu. Saya ada urusan lain di Wanchai. Lain waktu kita sambung lagi, jangan lupa Kamis depan kita ada rapat di Masjid Al-Falah.”
            “ Aduh, maaf, Pak. Saya kelupaan kalau ada pertemuan manasik disana. Terima kasih sudah diingatkan, Pak.” Balasku jujur.

            “ Sering-seringlah berkumpul bersama kami, biar makin banyak pengalaman dan bertambah kosa kata Kantonis yang dihapal. Saya tunggu kehadiran Pak Andre..” Pak Karim memutuskan dengan mantap.

            “ Baik, Pak. Insya Allah..” Seutas kasih dari Pak Karim dan istri tercinta membulatkan tekadku untuk mengakhiri petualangan cinta sesaat dengan Tria. Apa pun alasannya, selingkuh itu dosa dan maksiat sepanjang hayat. “Allahu.. Ampuni hamba-Mu ini” pintaku dalam hati.

                                                            *****

            Bedug Adha masih berkumandang indah, Allahu Akbar Walillahilhamdu… Langkahku mantap menemuinya. Mengorbankan masa cuti ke Indonesia, guna menyelesaikan cinta sedepa ini.

            “ Maafkan aku, Tria. Mungkin aku yang salah kira, salah langkah dan salah menaruh hati. Aku putuskan untuk tidak melanjutkan hubungan gelap ini, aku takut pada Tuhan yang telah menganugerahiku istri soleha…” Aku memulai pembicaraan di Taman Admiralty, sesuai janji bertemu hari itu.

            “ Baik… Saya juga pamit pulang, Mas. Anak saya mau masuk SD, saya ingin mendampinginya. Selamat Tinggal! Semoga keluarga kalian bahagia dan sakinah. Aamiin..” Balas Tria sambil berdiri, bergegas pergi. Aku reflek mencegahnya.

            “ Tunggu! Dirimu belum menjelaskan kenapa Pak Karim dan teman-teman di Masjid menganggap aku suamimu, bukankah itu fitnah, Tria?” Kulihat dia meremas kedua tangannya, memilin ujung kerudungnya.

            “ A..ak, aku juga minta maaf, Mas. Mereka berkata begitu karena aku yang mengatakannya. Aku hanya ingin mereka memberi ruang untuk berdua pada kita, ah sudahlah..” Ia terisak, entahlah itu airmata buatan atau sungguhan. Secara aku sudah mulai tidak mempercayainya. Jangankan urusan asmara, urusan kerja saja dikiranya aku kurang teliti. Emang kalau sudah dekat denganku semua bisa dihalalkan? Oh, tidaak. Aku masih mencintai barang halal yang diridhai-Nya.

            “ Sebenarnya tidak perlu begitu, Tria. Aku juga berharap dirimu bahagia dan menemukan cinta yang lebih baik dariku.” Ucapku sambil menyerahkan sebuah amplop, mungkin tidak seberapa. Namun, aku yakin barang itu pasti berguna dan dibutuhkannya.

            “ Terima kasih, Mas. Saya akan belajar menata hati lagi, assalamu’alaikum..” Dia kubiarkan pergi. Hati dan pikiranku tidak lagi berat. Plong, Bro. Alhamdulillah…

Setia memang butuh pengorbanan dan ketakwaan. Hmm… I miss you, Diajeng.

Karya: Anna Ilham

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00