• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Bilik Sastra

Biarkan Dia Bernapas

7 August
15:33 2017
19 Votes (4.4)

VOI BILIK SASTRA Kukira hujan semalam berhenti pada pagi hari, ternyata percikan gerimis masih hingga dini hari. Aku tersenyum kecut ketika melihat gedung pencakar langit tengelam pada awan yang berglayut mengepul hitam. Seketika aku teringat pada Santi yang kutinggalkan di rumah kontrakkan bersama kawanku, kaki ini melangkah cepat menulusuri kubangan yang tergenang air hujan.

Bis menuju Mongkok begitu panjangan antriannya, aku membalikan jam tanganku menunjuk pukul sembilan pagi. Andai saja semalam tidak ketiduran di rumah bosku, mungkin aku tak segelisa ini aku sangat khawatir dengan keadaan Santi. Meskipun begitu, dia adalah sahabatku yang harusku jaga ketika keadaannya tak begitu baik seperti sekaramg, bulukudu sedikit meremamg karena hawa pendingin dalam bis.

Entah bagaimana bisa aku sangat mengkhawatirkan keadaannya, ponsel di saku celana jians-ku bordering nyaring membuat orang di sampingku mengernyitkan dahi. Mungkin mengganggunya, seraya aku pun meminta maaf pada orang itu. Tanganku bergetar mengangkat,telepon, terdengar suara yang sangat gelisa jantungku mulai berdebar kencang mendengar keributan di dalam telepon.

“Anna kamu di mana?”

Suara Kirana begitu sangat ketakutan, aku mencoba menenangkannya padahal diriku sendiri pun tak bisa tenang dengan baik. Aku menintanya agar menyalakan mp3 alunan ayat-ayat Allah untuk dia, napasku tertahan begitu sesak seakan begitu banyak beban dan pikiran yang menyelubungi diriku. Aku atahu Allah takkan menguji hamba-hamba-Nya di batas kemampuannya, air matiku berlinang begitu saja. Kupalingkan wajahku pada kaca bis yang tertutup mati, rintik hujan terus menebar diseluruh penjuruh Hong kong merata hingga sampai di tempat halte bisku.

Tanganku dengan lincah menekan tombol telepon, terdengan suara Kirana yang tak sabaran agar aku secepatnya datang. “Aku sudah sampai, sekarang di bawah rumuh ….”

“Syukurlah … aku hampi gila, sungguh aku tak sanggup Anna.”

“Maaf ….” Hanya kata itu yang kuucapkan padanya, dan kaki melangkah menaiki tangga yang begitu penuh dengan debu. Maklum saja ini adalah kontrakkan murah, aku tak bisa menyewah rumah yang lebih bagus atau mewah gajiku tak cukup untuk itu.

Baru saja kakiku melangkah di depan pintu, kulihat Santi memeluk lututnya dan mengerang—menangis seakan ia ketakutan tak bertepi. Tanganku mendekapnya dengan erat, kulihat ia mendongakkan kepalannya mungkin untuk memastikan siapa yang memeluknya. “Jangan khawatir ini aku,” lirihku di telinganya, dan dia pun membenamkan wajahnya di dadaku.

“Jangan tinggalkan aku, Anna ….” Suaranya lirih memelukku erat, entah apa yang akan terucap dari lisanku ketika ia memohon seperti ini. Sungguh aku tidak bisa mengiyakan permintaannya, tak mungkin aku tidak bekerja.

“Mereka datang ingin membunuhku, Anna.”

Kuregangkan sedikit tubuhku agar bisa melihatnya, matanya yang sayu seakan tak kuat lagi untuk menghadapi hidup. Aku menggeleng lembut dan mengusap air matanya yang tertahan di pipi. “Bisakah kita bicara sebentar?” suara Kirana mengejutkanku yang tengah focus pada Santi.

“Ada apa?” tanyaku sedikit kaku, karena aku paham raut wajahnya yang menandakan tidak suka dengan pemandangan di depannya.

“San, diam di sini nanti aku akan kembali. Ingat kamu tak perlu takut, paham.” Dia mengngangguk dan seraya tersenyum, di depan Kirana sudah tak sabaran sedangkan teman yang lain hanya memandang sinis padaku. Ya pasti mereka tidak suka padaku semenjak aku membawa Santi bersamaku, padahal aku pun membayar sewa untuk dia juga.

“Mau sampai kapan dia ada di sini?” katanya,”Na, pahamlah. Dia setiap malam teriak-teriak dan kita semua butuh tidur, kerja esok hari. Jika lama-lama temanmu itu selalu begitu, aku pun bisa ikut komplen.”

“Kau tak tahu, Kirana. Dia butuh kita, sungguh jika kau tahu tentang kehidupannya ….”

Kata-kataku terputus hanya hembusan kekesalan yang keluar dari lisanku, terlalu berat untuk menceritakan tentang kehidupannya. Sebernarnya aku murka pada Santi, tapi apalah daya aku tidak punya hak untuk memurkainya sedangkan Allah saja masih bisa mengampuni kesalahan hamba-Nya. Kutangkup tangan di wajahku, terasa sesak seakan tak mampu untuk melanjutkan percakapan dengan sahabatku. Dia masih terdiam menungguku untuk mengucapkan kata-kata, sayangnya lagi-lagi hanya kehampaan yang ia dapatkan.

“Jika kau tak memberitahu kita, mana ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Akhirnya dia menyuarakan pertanyaannya, dan seketika menyadari sesuatu kesalahanku. Kirana benar, jika aku tak berbicara tentang dia mana ada yang mengerti dengan keadaannya.

Aku menghela napas panjang seakan baru bisa bernapas bertahun-tahun, mataku tertuju pada Kirana yang berada di sampingku. Di menyodorkan sekaleng kopi panas yang dibelinya tadi ketika kita berdua melewati toko seveneleven, aku menerimanya dengan senang hati.

“Minumlah dulu, dan ceritakan padaku, Na.” katanya sembari memandang orang yang berlalu-lalang,”mungki aku bisa membantumu, jadi kamu tak sendiri menghadapinya.”

Entah mengapa tanganku dengan begitu saja memeluknya, dan terasa buliran bening mengalir di pipiku. Aku menangis Ya Allah, rasanya begitu sangat legah begitu mendengar temanku ingin membatu. Meskipun tidak tahu itu adalah nyata atau hanya sekedar meneguhkan diriku, setidaknya aku tak sendiri menghadapi ini semua. Aku tak ingin meninggalkan Santi dengan keadaannya seperti ini, dia sakit dalam dan luar, ia butuh orang untuk menguatkannya agar mampu berdiri lagi menghadapi kenyataan yang sudah dibuatnya sendiri.

“Dia mengalami gangguan mental, Ra. Sejak dia tahu suaminya bermain serong dengan ibunya, dan yang lebih parahnya dia hamil bersama orang Pakistan lalu dia menggugurkannya. Sudah tiga kali dia menggugurkannya. Dia ….”

Aku tak melanjukan ceritaku, Kirana memintaku untuk diam dan seketika dia menangis menyembunyikan wajahnya. Mungkin dia pun merasakan apa yang aku rasakan, betapa kejam ibu dan suaminya berbuat sekeji itu, jika suaminya tak begitu mana mungkin Santi berpacaran dengan orang Pakistan. Namun itulah kehidupan, kita tak bisa menghindarinya. Jika memang sebuah cobaan bisa membuatnya paham bahwa hidup di dunia ini tidak saja berkumpul dengan orang yang baik, namun kita pun diminata untuk bertentangan dengan orang yang buruk.

*****

Semenjak obrolanku bersama Kirana waktu itu, semakin banyak teman perantauan di Hong kong membatu proses pemulihan Santi. Sungguh, aku hampir takut karena kupikir tak ada satu orang pun yang akan peduli dengan kondisi sahabatku. Aku mampu bernapas lega, ketika mendatangi ejen Santi yang telah membawanya ke negeri beton ini, dia memberikan waktu agar sahabatku bisa pulih dan tidak dipulangkan ke Indonesia. Jika dia pulang pun keadaan tidak akan membaik, sebab ia akan bertemu suaminya dan ibunya yang telah berbuat tak senonoh. Kuingin dia pulang dengan fisik yang baik dan mampu menerima apa pun kenyataan.

“Terima kasih, Na ….” Tangannya merangkulku dengan lembut, kulihat wajahnya semakin segar dan lebih bernyawa. Aku selalu menyempatkan waktu mendatanginya di bording house milik ejen Santi , di luar sana hujan masih mengguyur negeri beton ini dan suhu udah benar-benar menuru drastis.

“Aku membawa mantel dan baju dingin untukmu ….” Kata-kataku tertahan melihat raut wajahnya terbenam di mantel yang dia lilitkan di leher, “Apa kamu baik-bsik saja?”

Dia hanya mengangguk pelan dan mengangkat wajahnya, terlihat senyum yang penuh keikhlaskan. Santi memegang lembut baju yang ada di tanganku, aku pun bertanya kembali, “Apakah kamu ingin menyobanya?”

Entah berapa kali lisanku menyajikan pertanyaan yang konyol, bahkan dia belum menjawab satu pertanyaan dariku.

“A—aku, baru bisa bernapas, Na.” Akhirnya dia berbicara juga, setelah lama aku menunggu jawabannya.

“Itu bagus, San. Aku senang mendengarnya, tak perlu khawatir Allah tak akan menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuan.”

“Kamu benar, setelah aku mengikhlaskan semuanya dan meskipun masih terasa sakit. Setidaknya aku tak lagi dibayang sebuah ketakutan dan kekesalan. Pada akhirnya aku sendiri yang akan menderita ….” Dia menghela napas, seperti baru saja menghirup udara segar. “Dan ini membuatku mampu bernapas, seperti layaknya manusia yang normal. Oya salam balik buat Mbak Kirana, ya Na ….”

Aku mengangguk tersenyum lega, berkat Kirana dan teman satu kontrakkan semuanya terselesaikan dengan baik. Andai waktu itu aku tak memberi tahunya, mungkin aku masih dalam kegamangan untuk mengatasi semuanya. Satu yang selalu kupegang dalam hidupku, ketika Allah memberi ujian pada kita, Allah pun pasti memberi jalan untuk menyelesaikan. Asal kita mau sabar dan tawakal pada-Nya karena Dia selalu bersama orang-orang yang sabar dan pantang menyerah.

 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00