• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Warna Warni

Cerita Penduduk Tanah Alas

7 August
10:39 2017
0 Votes (0)

Tanah Alas adalah sebuah wilayah di Aceh Tenggara yang menjadi tempat tinggal suku Alas. Kata "alas" dalam bahasa Alas berarti "tikar". Hal ini ada kaitannya dengan keadaan daerah itu yang membentang datar seperti tikar di sela-sela Bukit Barisan. Suku Alas telah bermukim di lembah Alas, jauh sebelum Pemerintah Kolonial Belanda masuk ke Indonesia. Keadaan penduduk lembah Alas telah diabadikan dalam sebuah buku yang dikarang oleh seorang bangsa Belanda bernama Radermacher.

Marga Pale Dese merupakan penduduk yang pertama sekali menduduki Tanah Alas, namun tidak punya kerajaan yang tercatat dalam sejarah. Kemudian hadir pula Deski yang bermukim di kampong ujung barat. Nama Alas diperuntukkan bagi seorang atau kelompok etnis, sedangkan daerah Alas disebut dengan kata Tanoh Alas. Kata "Alas" berasal dari nama seorang kepala suku yang merupakan cucu dari Raja Lambing, beliau bermukim di desa paling tua di Tanoh Alas yaitu Desa Batu Mbulan. Raja Lambing adalah nenek  moyang dari marga Sebayang di Tanah Karo dan Selian di Tanah Alas.

Diperkirakan pada abad ke 12 Raja Lambing hijrah dari Tanah Karo ke Tanah Alas, dan bermukim di Desa Batumbulan, keturunan dan pengikutnya adalah marga Selian. Raja Lambing menyerahkan tampuk kepemimpinan Raja kepada Raja Dewa menantunya. Raja Dewa dikenal juga dengan nama Malik Ibrahim, yaitu pembawa ajaran Islam yang termasyhur ke Tanah Alas. Bukti situs sejarah ini masih terdapat di Muara Lawe Sikap, desa Batumbulan. Malik Ibrahim mempunyai satu orang putera yang diberinama ALAS dan hingga tahun 2000 telah mempunyai keturunan ke 27 yang bermukim di wilayah Kabupaten Aceh Tenggara, Banda Aceh, Medan, Malaysia, dan tempat lainnya.

Dalam menyebarkan agama Islam di tanah Alas, Malik Ibrahim membuat kesepakatan dengan adik-adik iparnya. Kesepakatan itu adalah syi’ar Islam yang dibawa oleh Raja Dewa diterima oleh seluruh kalangan masyarakat Alas, tetapi adat istiadat yang dipunyai oleh Raja Lambing tetap dipakai bersama. Meskipun masyarakat Alas menganut agama Islam namun mereka tetap menjalankan tradisi animisme yang diwariskan oleh Raja Lambing. Dalam pribahasa, mereka menyebutnya hidup di kandung adat, mati di kandung hukum (Islam). Oleh sebab itu jelas bahwa asimilasi antara adat istiadat dengan kebudayaan suku Alas telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.

Sebagian besar suku Alas tinggal di pedesaan dan hidup dari pertanian dan peternakan. Tanah Alas merupakan lumbung padi untuk daerah Aceh. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Muliadi Imami (2013), ia menemukan beberapa ciri khas budaya menolong masyarakat Alas. Suku Alas melakukan tolong menolong dalam hal tolong Menolong di Bidang Sosial Ekonomi, Tolong Menolong di Bidang Pertanian dan Tolong Menolong dalam Acara Adat Istiadat. (Nuke)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00