• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Bilik Sastra

Ayah, Karya Justto Lasso.

29 February
09:04 2016
0 Votes (0)

Tangan mungil Ranu menyambut pahaku, begitu aku membuka pintu. Segera saja kuangkat tubuh bocah lelaki lima tahun itu. Tubuh mungilnya segera terbenam dalam dekapanku, suara tawanya pecah saat seluruh tengkuknya kuhabisi dengan ciuman.

Ranu adalah anak pertamaku, adiknya masih dalam tahap usaha, aku dan Mayang, istriku, sudah kepingin lagi mempunyai anak kedua, namun Tuhan belum mempercayai kami.

“Ranu, jangan ganggu ayah, ayah capek!” Suara Mayang tak menghentikan tawa Ranu. Aku segera membopong bocah yang rambutnya seperti rambut jagung itu ke dalam kamar. Selanjutnya, suara Mayang lebih terdengar seperti air kran. 

“Tadi Ranu belajar apa di sekolah, Nak?” Tahun ini adalah tahun pertama Ranu kumasukkan sekolah TK, baru sebulan, namun sudah tidak mau ditunggui oleh ibunya. Sebenarnya sejak setahun yang lalu, Ranu sudah merengek minta disekolahkan, apalagi jika melihat anak-anak tetangga berangkat sekolah setiap pagi, pasti ia akan merajuk untuk ikut. Namun, aku dan Mayang bersepakat untuk belum dulu mengirim Ranu ke sekolah. 

“Tadi Ranu disuruh cerita tentang ayah. Semua teman Ranu juga.” Kududukkan Ranu di dadaku, aku tidur telentang di atas kasur dengan sprei  bermotif kucing, yang baru tadi pagi dipasang oleh Mayang.

“Oya? Terus Ranu cerita apa, sayang?” bukannya menjawab, Ranu malah asyik memainkan daguku yang yang kasar karena tadi pagi tidak sempat bercukur.

“Nak, Sayang, tadi Ranu cerita apa tentang ayah?”

“Ranu cerita, ayah suka ajak Ranu jalan-jalan, sama Bunda juga. Ayah kalau malam tidak mau gosok gigi, kalau pagi suka ajak Ranu pergi buru-buru ke sekolah. Terus...Ranu juga cerita kalau ayah Ranu itu paling hebaattttt!” Mata Ranu berkedip-kedip, rasanya aku melihat ribuan bintang di dalamnya.

“Yah, semua teman Ranu juga cerita ayah-ayahnya, kata Si Raffa, ayahnya suka kentut...”  Aku tergelak mendengar cerita Ranu. Mayang berteriak-teriak dari dapur.

“Eh,Yah, kan semua teman Ranu punya ayah, terus Ayah punya tidak?”Tanya Ranu sambil mencium ujung hidungku.

Ayah? Aku?

Tiba-tiba saja aku melenting entah ke alam apa. Yang ada hanya kesunyian. Bukan, ini bukan alam kesunyian, melainkan alam kenangan. Pertanyaan Ranu, membuat kenanganku kembali hidup, kenangan masa kecil, kenangan masa aku berkelana untuk menemukan seseorang; Ayah.

Aku ingat, masa itu, aku juga pernah menjadi Ranu hari ini. berdiri di depan kelas dan disuruh untuk bercerita mengenai sosok ayah. Kala itu, teman-temanku dengan riang gembira menceritakan ayah mereka. Ayah mereka baik. Ayah mereka selalu membelikan mainan. Ayah mereka selalu mengendong mereka. Ayah mereka selalu mengajari mereka naik sepeda.

Lalu ketiba tiba giliranku, aku hanya berdiri saja. Diam mematung. Tak ada sesuatupun yang aku ceritakan. Aku binggung. Aku tidak tahu apa yang harus aku ceritakan.

Teman-teman cekikikan melihatku mematung. Bu Harsi, berkali-kali mengerakkan tangannnya, kode agar aku segera bercerita. Namun, hingga bermenit-menit lamanya, aku tetap tidak bersuara.

Akhirnya Bu Hesti, guru kelasku, kalah. Beliau menyuruhku untuk kembali duduk tanpa bercerita.

Sesampainya di rumah, seperti halnya Ranu, aku juga bercerita tentang yang terjadi di dalam kelas hari itu, pada ibu. Tapi bukan ceritaku yang kusampaikan kepada ibu, melainkan cerita teman-temanku. Waktu itu aku melihat berkali-kali Ibu mengusap mata dan hidungnya. Di akhir ceritaku, aku bertanya, “Ibu, apakah aku punya ayah?”, lalu ibu segera memelukku.

Berhari-hari setelahnya, aku terus bertanya pada ibu, apakah aku punya ayah. Tapi, ibu tak pernah menjawabnya.

Saat itu aku memang tak pernah melihat atau bertemu dengan seseorang yang bisa aku panggil ayah. Setahuku, aku hanya punya kakek, nenek, Pakde Bowo, Budhe dan Mas Anung. Iya, hanya itu, tidak ada ayah di antara mereka.

Ibu baru memberitahu aku, tentang ayah, saat aku naik ke kelas dua SD. Sore itu, di musim hujan, dengan sepiring singkong goreng dan segelas besar teh manis, aku duduk berdua-dan 

memang seperti itu selalunya, hanya kami berdua- dengan ibu di teras rumah. Sesekali tempias hujan mengenai mukaku.

“Nur, ayah sekarang sudah tidak ada bersama kita. Ayah sekarang ada di satu tempat yang jauuuhhh. Kita tidak bisa menemuinya sekarang. Saat ini ayah berada di satu tempat yang indah sekali, Nak, penuh dengan bunga-bunga.” Suara ibu ditimpali hujan yang jatuh di daun-daun jambu air. Pohon jambu yang nantinya akan menjadi tempatku menghabiskan waktu.

“Kenapa kita tidak menyusul ayah, Bu? Janur ingin punya ayah, seperti teman-teman.” Aku sama sekali tidak melirik singkong goreng yang masih panas, pandanganku menembus rintik-rintik air yang semakin lama semakin pekat.

“Tidak bisa, Nak, nanti, kalau Nur sudah besar akan tahu di mana rumah ayah sekarang. Kalau Nur ingin main sama ayah, di situ,” telunjuk ibu mengarah ke rindang pohon jambu air. “Ayah Nur akan sering datang kesitu, menemui Nur.”

Setelah sore yang hujan itu, aku tak lagi pernah bertanya pada ibu mengenai ayah. Bahkan ketika aku hanya bermain dengan ulat bulu serta semut merah di bawah pohon jambu, karena ayah tidak pernah benar-benar datang dan menemuiku di tempat itu. Walaupun tidak seperti yang ibu katakan saat sore gerimis hari itu-tentang ayah yang akan datang ke bawah pohon jambu air, namun aku selalu bermain di tempat itu, setiap hari, setiap sore sepulang dari sekolah, ajakan bermain dari teman-teman sudah tidak menarik lagi bagiku.

Bahkan aku menangis meraung-raung ketika ada tiga orang petugas PLN memangkas sebagian pucuk pohon jambu di depan rumah.Memang, pohon jambu kami sudah terlalu tinggi, sehingga pucuk-pucuknya mengenai kabel yang tepat membentang di atasnya.

Selanjutnya, masa kanak-kanakku dipenuhi oleh bayangan dan impian mengenai sosok ayah. Pernah, satu hari, ada seorang lelaki tinggi besar datang ke rumah, oleh ibu aku disuruh untuk memanggil ayah. Tapi aku diam, jangankan memanggilnya ayah, saat lelaki itu menanyai aku kelas berapa saja tidak kujawab.

Tak kutemukan sedikitpun sosok ayah dalam diri lelaki yang rambutnya klimis itu. Aku bahkan benci dengan bau minyak wanginya yang seperti bunga kenanga. Setelah kejadian ittu, ibu tak pernah lagi mengenalkanku dengan lelaki dewasa yang disuruhnya aku memanggil ‘ayah’.

Seterusnya, aku selalu mencari sosok ayah dengan diam-diam selain di bawah pohon jambu. Dijendela ruang guru , di pasar sayur ketika diajak ibu belanja di hari Minggu, di rumah Pak RT saat ikut ibu pengajian, di jalan depan rumah saat bapak-bapak komplek tengah kerja bakti membersihkan selokan. Hasilnya nihil, tak pernah kutemukan ayah di tempat-tempat itu.

Aku ingat betul, pernah beberapa kali aku benar-benar menanggis, membutuhkan kehadiran ayah. Seperti ketika aku kelas lima SD, saat acara perpisahan kepala sekolah dan seluruh wali murid diundang. Teman-temanku, semua datang bersama ayahnya, sedangkan aku? Tidak ada wali murid yang datang mewakiliku. Ibu lebih memilih masuk kerja, karena kalau tidak perusahaan akan memotong uang gajinya, dan bisa-bisa ibu kehilangan jatah uang belanja tiga hari.

Di deretan kursi paling belakang, kusembunyikan mukaku di atas meja. Air mataku tumpah, ketika kupaksakan melirik ke arah teman-temanku, yang manja bergelendot di bahu-bahu besar ayah mereka.

Di akhir acara, Pak Rusdi, guru kelasku, memelukku erat. 

Lalu, sepanjang masa remajaku, banyak sekali hal-hal yang membuatku terus merindukan kehadiran sosok ayah.  Bahkan, sewaktu masa orientasi siswa baru ketika aku masuk SMA, aku hanya tercenung di depan kelas ketika tiba giliranku untuk menceritakan secara singkat mengenai keluarga. Kata-kataku berubah menjadi tanda titik, ketika aku selesai berceritamengenai ibu yang seorang pegawai adminitrasi di sebuah pabrik plastik. Hanya sosok Ibu yang aku bisa ceritakan di hadapan kelas.

Namun, aku tak pernah lelah mencari sosok ayah dalam hidupmu, hingga ketika kehidupan yang sesungguhnya menempaku. Aku tak lagi mencari-cari sosok laki-laki dengan cambang kasar itu, karena aku mulai menemukan di mana ia berada.

Aku tak lagi cemburu ketika ada anak TK yang digendong ayahnya, aku tak lagi merutuk kalau Pakdhe Heri, tetangga sebelah rumah, asyik bermain dengan Tian, anaknya yang masih berusia tujuh tahun di depan rumah.

Sejak lulus dari bangku SMA, aku mulai samar-samar menemukan sosok ayah yang selama belasan tahun kucari-cari.

Hidup menempaku menjadi seorang lelaki muda yang harus mampu menghidupi diri sendiri, serta ibu. Berbekal beasiswa yang kudapat, aku menempuh pendidikan di Universitas Negri. Setiap sore aku gunakan untuk bekerja, apa saja. Mulai dari menjaga toko, membantu pedagang soto sore di depan kampus, hingga menjadi pelayan di sebuah kafe.

Ibu tak lagi pergi bekerja sejak aku kelas tiga SMA, kesehatannya tidak baik. Aku kasihan sekali dengan ibu.

Saat itu, benar-benar menjadi masa terberatku. Saat itu juga adalah di mana aku paling menginginkan kehadiran sosok ayah di sampingku, di samping ibu. Namun di sisi lain, saat itu menjadi titik balik, di mana aku sadar bahwa ayah telah berada di surga, dan tak akan pernah mungkin mengujungiku di bawah pohon jambu air di depan rumah.

Tentang kehadiran ayah di bawah pohon jambu, seperti kata ibu, aku baru tahu apa sebenarnya yang dimaksud oleh ibu.

Di bawah pohon jambu itu, tanpa aku sadari, ada satu pokok bunga lili bakung berwarna oranye. Bunga itu tidak tumbuh sepanjang waktu, hanya tumbuh ketika bunganya akan mekar saja, setelahnya tak ada bekas apa pun. Begitu, selalu terulang sepanjang bulan, sepanjang tahun.

Dan tanpa kusadari, ayah memang selalu datang menemaniku bermain di bawah pohon jambu, lewat kuntum bunga lili bakung yang munculnya tidak pernah kusadari. Terima kasih Ayah, telah menemaniku bermain! Aku sayang Ayah.

Ibu pula yang memberitahuku mengenai bunga lili bakung itu, bahwa itu adalah bunga terakhir yang sempat ditanam oleh ayah, sebelum beliau berangkat bekerja ke Malaysia dengan menumpang perahu kayu. Menurut cerita ibu, perahu kayu yang ditumpangi oleh ayah dan dua puluh teman lainnya terbalik di tengah lautan. Hanya lima jasad yang diketemukan dari tragedi tersebut, jasad ayah tidak termasuk dalam lima itu.

Setelah ibu mengungkap rahasia kedatangan ayah di bawah pohon jambu, pelan-pelan aku mulai tahu dan menemukan sosok ayah idamanku. Ia adalah ayahku yang sebenarnya, yang hangatnya selalu membangunkanku setiap pagi, menghangatkanku kala hujan tak berhenti turun di siang pada musim penghujan.

Iya, aku telah menemukannya, dan aku tak lagi mencari-cari sosok itu pada kelebat bapak-bapak dengan perut buncit, atau oom-oom botak. Ayahku lebih hebat dari semua sosok yang kukagumi saat SD, ayahku lebih hangat dan nyaman ketimbang ayah teman-temanku.

Bersamanya, aku mulai menapaki kehidupan yang sesungguhnya. Aku banya belajar darinya. Tentang arti perjalanan, seperti halnya ketika pagi menjelma siang dan menapaki malam. Aku belajar bagaimana harus berbagi, seperti ketika matahari harus berbagi waktu dengan rembulan. Aku belajar semua darinya, ayahku.

“Ayahhh...!”

Ranu memekik keras di telingaku.

“Ayah punya tidak?” Pangeranku masih asyik dengan jambangku yang kasar, setiap kali tangan mungilnya diusap-usapkan ke daguku, mataku rasanya hendak terpejam saja.

“Besok pagi ya, Sayang, sehabis sholat subuh, Ayah akan mengenalkan Ranu dengan ayahnya Ayah, kakek Ranu.” Mendengar jawabanku, muka Ranu berpendar penuh bahagia.

“Janji!” Jari kelilingnya diulurkan padaku, aku mengaitkan dengan kelingkingku.

“Iya, asal Sayang besok pagi kalau dibangunkan untuk sholat subuh tidah susah, janji!” Aku ganti mengulurkan kelingkingku, yang langsung disambut dengan penuh semangat olehnya.

“Janji!”

Suara keras Mayang dari dapur membuat kami segera bangkit, aroma kolak pisang bikinannya membuat kami berdua semakin cepat bergegas ke meja makan.

Suara Ranu seperti peluru yang ditembakkan berkali-kali, kegirangan karena makanan kesukaannya sudah matang. Dan aku yakin, esok pagi, kalau aku tunjukkan padanya siapa ayahku, dia pasti akan lebih kegirangan.

Benar, besok pagi, ketika ia berkata, “Ayah, sinar mataharinya hangat!”, maka akan kujawab, “Iya, Nak, karena matahari itu adalah ayahku, kakekmu.”

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00