• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Bilik Sastra

Sumur Munafik, Karya Ahmad Nizar Syamwil

29 February
09:01 2016
0 Votes (0)

Entah atas dasar apa aku tertarik untuk melihat sumur yang kata temanku itu adalah “Sumur Munafik”. Padahal, selain validitas data tentang keberadaannya belum jelas, cerita mengenai sumur itu seakan-akan hanyalah sebuah dongeng belaka.

“Kalau bisa menemukannya, kamu akan bisa mengetahui siapa saja yang tergolong sebagai orang munafik…” kata Kang Umar, teman satu angkatan saat bertemu pada sebuah acara diskusi kepenulisan.

“Konon sih,semua ruh orang-orang munafik dikumpulkan di sumur itu. Bahkan katanya, bukan hanya orang munafik saja, tapi semua ruh orang kafir juga berada disitu” cetusnya menambahkan. Aku terdiam. Ada perasaan ganjil dalam benakku yang membuatku penasaran. Satu persatu, potongan cerita mengenai sumur itu berbentuk seperti kepingan puzzle yang menuntutku untuk disatukan, meskipun ungkapan yang dipakai untuk menceritakan sumurtersebut adalah “Konon sih..”, “Katanya..” dan semisalnya yang biasa digunakan oleh para pendongeng.

Penelusuranku terhadap misteri yang tersimpan dibalik sumur itu mengalir begitu saja, seperti sudah ada yang mengatur. Dramatis! Berbeda orang, beda pula cerita yang aku dapatkan. Sehingga kepingan puzzle itu seakan-akan hampir utuh. Saat aku salat di MusalaMahattah, temanku si Sabik yang biasa menjadi imam disitujuga memberikan komentar mengenai sumur tersebut. Awalnya ia enggan untuk membicarakan hal-hal yang berbau mistik, namun setelah aku pancing, sepatah dua patah kata akhirnya keluar juga dari lubang mulutnya.

“Menurut sebagian kitab yang ana baca, sumur yang ente cari itu memang benar ada. Diceritakan, bahwa dulu orang-orang yang tinggal disekitar sumur itu pernah mencium bau busuk yang sangat menyengat. Dan ternyata bau itu menguap dari perut sumur tersebut. Setelah itu mereka baru mengetahui, bahwa penyebabnya adalah kematian salah satu orang kafir yang terhormat pada masa itu...”

“Terus, apakah sumur itu masih ada sekarang?” tanyaku memotong perkataan Sabik.

“Ya, kanana sudah bilang: sumur itu benar-benar ada”

“Dimana?”

“Di google banyak... ha-ha-ha” pungkasnya sambil melepaskan tawa yang sudah ia tahan dari tadi.

Aku tidak bisa membohongi hati kecilku. Semakin hari, keinginanku itu kian membuncah. Setiap kali aku bertemu dengan teman-temanku, maka menu utama yang aku suguhkan kepada mereka adalah “Sumur Munafik”. Tak heran, jika mereka menelanjangiku dengan ejekan yang membuat kupingku sakit.

“Lora, Lora..! Hari giniente masih percayahal-hal yang begituan, mana akal sehatmu?! Nyadar, bro… Nyadar…!Jauh-jauh ente dari Indonesia ke Hadhramaut untuk belajar, bukan untuk mencari hal-hal gaib.Seperti dukun santet saja. Sana salat istikhara duluminta petunjuk, apakah akalmu itu masih online atau sudah terkena hacker” temanku yang bernama Amir itu memulai ejekannya.

“Terus kalau sudah ketemu, Njenengan mau ngapain Lora?! Mau manggil arwah Abu Lahab? Atau jangan-jangan mau buka diklat membuat puisi disana?! Ha-ha-ha..”  Si Junaidi juga angkat bicara dengan terkekeh-kekeh. Saat itu aku dihakimi habis-habisan oleh teman-teman seangkatanku. Gelak tawa pun meletup-letup dari mulut mereka seperti suara granat yang merong-rong pertahanan mentalku. Nyaliku ciut. Dan mukaku pucat pasi.

Ah, orang-orang sekarang memang lebih mementingkan logika saja. Jika bisa diterima oleh logika, maka mereka akan percaya, tunduk, dan bahkan bersujud. Namun jika berbenturan dengan logika, maka dengan lantang mereka akan berteriak bahwa semua itu adalah bohong, mengada-ada, khurafat, bodoh dan tolol. Istilahnya: harus rasionalisme. Padahal jika dipikir kembali, apa yang mereka namakan logika itu tak lebih hanya sebuah tempurung yang melingkari kepala mereka sendiri. Dan diluar sana masih banyak perkara-perkara yang lebih besar daripada batok kepala manusia yang belum bisa terjamah dan belum terukur oleh tempurung mereka. Surga, neraka, dan hampir semua hal-hal gaib yang diberitakan oleh Nabi tidak bisa diterima oleh akal sehat manusia. Lantas apakah mereka akan mengatan bahwa semua itu bohong, hanya karena tidak bisa diterima oleh logika?!

Ma’af, tidak usah dimasukin kehati, karena mungkin aku langi melantur.Tapimungkin hal itulah yang menjadi pendorong bagiku untuk semakin meneliti keberadaan sumur keramat itu. Seakan ada makna yang menggerakkan kedua kakiku untuk melangkah menuju sebuah tujuan. Ya, alasan sederhananya mungkin begitu.

Namun sebenarnya, alasan terkuatdibalik semua ini adalah pertemuanku bersama Syekh Rajab Al-Mastur, seorang guru sepuh yang paling disegani di kota ini. Jika ada perbedaan pendapat diantara para pakar-pakar ilmu, maka petuah beliaulah yang menjadi titik penyelesaiannya. Kalau dilihat dari perawakan wajahnya, beliau memang benar-benar sepuh. Semua jenggotnya sudah memutih. Namun, air mukanya tetap memancarkan cahaya. Setiap kali kedua mataku menatapnya, sukmaku terasa damai. Mungkin seperti itulah wajah-wajah orang saleh yang selalu dibasahi oleh air wudhu’.Aku bertemu dengannya ketika berada dalam satu Majlis Rohah yang dipinpin langsung oleh beliau. Saat itu beliau sedang membahas tentang fadilah air Zam-zam.

Kalian mungkin sudah tahu cerita bagaimana awal mula sumur zamzam itu berada. Begitu pun hukum meminumnya, seperti yang kalian ketahui adalah sunnah...” begitulah cara Syekh Rajab mengajar, tidak terlalu bertele-tele,karena yang berada dihadapan beliau kebanyakan adalah orang-orang alim, pakai jubah, pakai serban, dan di kantong saku mereka terdapat siwak dan bolpen untuk mencatat, barangkali ada penjelasan yang belum mereka ketahui sebelumnya.

“Sumur Zam-zam hanya berjarak 38 Dzira’[1]dari Ka’bah. Diriwayatkan bahwa Sayyidina Ali Ra. pernah berkata, bahwa sebaik-baik sumur yang berada di muka bumi ini adalah Zam-zam, dan sumur paling buruk dimuka bumi adalah Barhut”. Pungkas Syekh Rajab sambil meneguk secangkir kopi yang ada dihadapannya. Tapi tunggu dulu, mengapa sumur itu menjadi tempat paling buruk? Apakah itu adalah sumur munafik yang sedang aku cari-cari selama ini?

Afwan, Ya, Syaikh![2] Apakah sumur itu yang menjadi tempat arwah-arwah orang munafik dan orang-orang kafir?”.

Aku menoleh kanan-kiri, mencari sumber suara itu. Siapakah orang yang baru saja bertanya? Mirip sekalidengan apa yang ingin aku tanyakan. Sekilas aku perhatikan, semua mata tertuju kearahku, termasuk juga pandangan Syekh Rajab. Hey, bukankah suara itu keluar dari mulutku sendiri! Astaghfirullah, apa yang telah aku lakukan tadi?! Seingatku, selama aku tinggal di kota ini, belum pernah ada orang yang memotong penjelasan beliau dengan pertanyaan. Jika memang ada pembahasan yang perlu untuk ditanyakan, maka biasanya ditulis diatas kertas lalu diajukan kepada beliau. Aku baru sadar, bahwa apa yang telah aku lakukan tadi telah mempermalukan diriku sendiri dihadapan para ulama.Seketika itu aku gugup. Jantungku berdegup kencang. Seandainya bisa, ingin sekali aku mengumpulkan kembali serpihan kata-kata yang telah berterbangan dari mulutku. Namunnasi telah menjadi bubur. Semua telinga telah mencerna perkataanku. Aku hanya bisa diam tertunduk.

“Bagus sekali pertanya’anmu, anakku! Pertanyaan yang tepat pada tempatnya” ujar Syekh Rajab seraya menatapku dengan senyum khasnya. Senyum yang dapat menetralisasi rasa gelisahku saat itu.

“Baiklah, perhatikan semuanya..!”

“Sumur Barhutterkenal dengan kedalamannya, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa sampai hingga bagian bawahnya. Sumur ini pula yang dimaksudkan oleh Al-Qur’an surah Al-Haj ayat ke-45. Dan menurut Imam Al-Zamakhsari, sumur ini adalah tempatnya arwah orang-orang kafir..”

“Kalian bisa melihat sendiri pembahasan mengenai Sumur Barhut di kitab “Faidul Qodir” karya Imam Al-Manawi pada jilid ke-3 halaman 489. Atau kitab-kitab tafsir dan kitab-kitab hadis lainnya” pungkasnya panjang lebar dengan nada lantang dan sangat ringan. Mungkin ada yang mengira, bahwa penyebutan jilid dan halaman itu terlalu berlebihan. Tapi bagiku –yang sudah sering mengikuti kajian bersama beliau, hal itu adalah perkara biasa. Bahkan, tak jarang Syekh Rajab juga menyebutkan letak baris dalam kitab tertentu. Jika masih belum percaya, silahkan saja datang kesini. Siapa pun bisa menyaksikan langsung dengan kedua matanya sendiri.

“Sumur Barhut berada disini, daerah Hadhramaut” ucapnya menambahkan.

Semenjak mendengar penuturan Syekh Rajab Al-Mastur tempo hari, tekadku menjadi bulat. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam hatiku untuk benar-benar mencari keberadaan sumur itu. Aku sudah mantap. Biarlah semua orang mau bilang apa saja. Karena bukan mereka yang akan mengantarku menuju sebuah tujuan, tapi usaha dan kemauanku sendiri.

Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa aku sangat bernafsu sekali untuk mencari sumur aneh itu. Awalnya, dorongan itu memang datang begitu saja. Namun semakin hari,dorongan tersebut semakin mengakar dalam batinku. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk memecahkan semua miteri yang melekat dalam setiap tepi sumur munafik itu. Dan akusudah putuskan juga untuk menjadikan hasil penelitian tersebut sebagai bahan utama penulisan tesis dalam tugas akhir kuliahku. Rencananya, nanti judul tesisku adalah: “Barhut Sumur Munafik: antara Mitos dan Fakta”.

Semua persiapan sudah aku lakukan semua. Surat izin sekaligus permohonan cuti untuk beberapa hari telah ditanda tangani langsung oleh Dekan kuliah. Kunci kamar dan lemari sudah aku serahkan kepada Kang Umar yang kebetulan tinggal bersamaku disatu asrama.

“Bagaimana, apakah kamu benar-benar mantap untuk melakukan penelitianmu besok pagi?” tanya Kang Umar yang dari tadi sibuk memijati hp-nya sendiri.

“Insyaallah, Kang. Oya, apakah sampeyan sudah menemukan mobil untuk perjalanan saya besok?”

“Belum. Semua mobil yang sudah saya hubungi tidak ada yang bisa mengantarkanmu besok. Menurutku, lebih baik urungkan saja niatmu itu” ucap Kang Umar membuatku kaget. Bagaimana mungkin dia menyuruhku untuk membatalkan penelitian ini. Padahal dia sendiri yang selalu bercerita mengenai sumur itu dengan semangat yang berapi-api. Benar-benar tidak masuk akal.

“Lah, bagaimana Kang Umar ini. Bukankah sampeyan sendiri yang sering memberi saya dorongan agar melakukan observasi langsung mengenai validitas keberadaan sumur itu?!”

“Sebenarnya, ini tidak ada kaitannya dengan penelitianmu. Ini murni..”

“Ah, sudahlah, Kang. Tak usah berbelit-belit. Pernyataan sampeyan hanya membuat orang lain plin-plan”. Ucapku memotong perkataan Kang Umar dengan nada lantang. Aku sudah marah dengan keputusannya yang terlalu absurd itu.

“Terserah kamu mau bilang apa!” balas Kang Umar dengan suara menggelegar. “Aku hanya ingin menasehati, itupun kalau  kamu mau. Saya kasihan kalau nyawamu itu harus menjadi tumbal atas penelitian ini. Semua bus yang saya hubungi tidak ada yang mau bukan tanpa alasan. Merekasemua bilang, kalau alamat yang kamu tujuitu terlalu beresiko bagi keselamatan nyawa mereka”.

“Nyawamu hanya satu. Jika sudah lenyap, maka cita-citamu untuk membangun bangsa dan negara dengan ilmu yang selama ini engkau peroleh akan sia-sia. Ingat, penelitianmu ini bukan masalah valid atau tidak. Tapi masalah hidup dan mati!” jawab Kang Umar untuk yang kesekian kalinya. Dan jawaban yang terakhir itu membuat sekujur tubuhku meneteskan keringat dingin. Bulu kudukku berdiri. Tiba-tiba, rasa was-was menghantui benakku.

Aku hanya bisa pasrah. Tatapan mataku hampa tertuju kearah koper yang sudah siap untuk dibawa pergi. Dalam batinku, harapan itu telah sirna. Satu bundel tesis yang akan dipersentasikan saat tugas akhir kuliahku nanti hanya bayangan belaka. Semuanya sia-sia begitu saja. Mungkin benar kata Amir beberapa waktu lalu, aku harus salat istikhara untuk meminta petunjuk dari Tuhanku.

Dalam sujudku, aku meminta dengan sungguh-sungguh supaya Allah Swt. menerangi jiwaku yang gulita dengan cahaya petunjuk-Nya. Mungkin selama ini aku terlalu terobsesi dengan penelitianku, sehingga mata hatiku buta untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, benar dan salah, hitam dan putih.

Setelah malakukan salat, aku membuka kembali lembaran-lembaran materi tesisku yang telah aku kumpulkan selama beberapa bulan terakhir. Seharusnya, tiga bulan lagi aku sudah bisa menyelesaikan studi kuliahku jika semua tesisku rampung dan disetujui oleh dosen penguji. Tapi jika memang harus tertunda, aku akan berusaha untuk menerimanya dengan ikhlas. Karena mungkin itu lebih baik bagi diriku.

Sebelum terlelap tidur, aku teringat keteduhan wajah ibuku yang telah lama aku tinggalkan. Sudah empat tahun lebih aku merantau di bumi Hadhramaut ini yang sangat jauh dari kampung halaman. Aku merindukan sosok ibuku yang menjadi tumpuhan setiap keluh kesahku. Setiap ada masalah, biasanya aku menceritakannya kepada ibu sekaligus meminta saran dan do’a dari beliau. Lalu setelah itu, ibu akan mengelus ubun-ubunku sambil membacakan bait-bait syair ini berulang-ulang. “Ya Arhamarrahimin * Ya Arhamarrahimin”. “Ya Arhamarrahimin * Farrij ‘alal muslimin...”

Tanpa terasa, aku menitikkan airmata yang membasahi pipi dan jiwaku. Ketika itu, sepertinya ada suara sms masuk di hp-ku. Tapi sudahlah, besok saja akan kulihat, aku sudah terlanjur lelah untuk malam ini. 

Akhir-akhir ini aku sudah mulai melupakan jauh-jauh penelitian tentang sumur yang penuh dengan misteri itu. Saat ini, aku memilih untuk lebih fokus terhadap nasib kuliahku kedepan. Aku harus mengambil langkah cepat mengenai masalah tesisku. Meskipun harus aku akui, bahwa membuat rancangan penulisan tesis dari awal, sama saja dengan mengumpulkan reruntuhan bangunan yang telah roboh untuk disatukan kembali. Semangat dan dorongan yang aku miliki tidak sama seperti dulu lagi. Aku hampir frustrasi.

Saat seperti ini, aku merasakan betapa pentingnya sebuah motivasi untuk menyegarkan kembali sendi-sendi kehidupanku. Kondisi jiwaku sudah terkulai lemah. Hari demi hari aku lewati tanpa bergairah. Mungkin kondisi seperti inilah yang membuat sebagian orang yang lemah imannya memilih untuk bunuh diri saja, karena –bagi mereka,masalah yang sedang menimpanyaadalah rintangan terbesar yang telah menutup jalan hidupnya. Seperti mata seseorang yang tertutupdengan sehelai daun.Ia tidak akan bisa melihat apa-apa kecuali kegelapan. Ia akan menganggap bahwa dunia ini sangat kecil dan sempit seperti sehelai daun tersebut. Padahal, dunia dengan segenap planet yang mengelilinginya jauh lebih besar dibanding sehelai daun. Sehelai daun bisa menutup mata untuk melihat dan akal untuk berfikir. Bahkan, sehelai daun juga bisa membutakan kedua mata untuk melihat keagungan Tuhan semesta alam. Aku hanya bisa menghela nafas dalam-dalam sambil beristighfardan berdo’a, semoga diberi ketabahan hati dan kekuatan iman.

“Sudahlah jangan murung terus. Nanti bisa kerasukan jin” Suara Kang Umar memecahkan lamunanku.

“Menuliskan satu kalimat saja untuk bahan tesis barumu, itu lebih baik daripada membuang waktu dengan planga-plongo gak jelas. Hidup ini santai saja, gak usah ambil pusing” celotehnya tak kunjung habis.

“Ya, itu karena sampeyan tidak merasakan masalah yang sedang saya hadapi” timpalku sinis.

“Lora.. Lora.. Ucapanmu itu adalah dalih orang-orang yang putus asa untuk menolak nasehat orang lain. Siapa sihyang tidak memiliki masalah didunia ini?! Toh dunianya saja sudah masalah apalagi orang-orangnya he-he-he...”

“Sudahlah, aku tidak akan menambah masalahmu dengan ceramahku ini. Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari salah satu santri Syekh Rajab. Katanya, beliau memintamu agar menemuinya setelah Majlis Rohah nanti malam dikediamannya”

“Beneran, Kang?”

“Iya. Katanya, tiga hari yang lalu dia sms ke hp-mu tapi tidak ada balasan”.

Ternyata, rumah Syekh Rajab tidak seluas ilmunya. Dibagian depan terdapat ruang tamu yang menghadap langsung kearah pintu gerbang. Terlihat foto guru-gurunya berjejer rapi dibagian dinding ruang tamu. Dan dibagian lantainya, dihiasi dengan permadani berwarna hijau, yang membuat pemandangan mata lebih sejuk.

Aku belum tahu pasti alasan Syekh Rajab memanggilku kesini. Sudah hampir setengah jam aku menunggu, namun tuan rumahnya belum datang juga. Padahal, Majlis Rohah sudah selesai dari tadi.

“Sebentar ya, Mas! Syekh masih ada urusan di rumah”. Salah satu santri Syekh Rajab tiba-tiba menghampiriku. Kalau dari tampangnya, dia seperti orang Indonesia. Mungkin, dia juga yang mengirimkan sms kepadaku beberapa waktu lalu.Setelah berselang beberapa menit, Syekh Rajab akhirnya datang menemuiku.

“Selamat datang, anakku. Masyaallah,aku kagum atas keberanianmu saat bertanya dihadapan para ulama kemarin. Namamu siapa?” Syekh Rajab memulai perbincangannya.

“Lora Muhammad Ziyad Zarnuji Amri”

“Aku hanya menanyakan namamu, bukan ayah sama nenek moyangmu!”

“Lora, Syekh” balasku lirih.

“Baiklah, anakku! Setelah kamu bertanya kepadaku beberapa waktu lalu, sebagian dari santriku ada yang cerita tentang dirimu. Katanya, kamu sedang melakukan penelitian terhadap keberadaan sumur Barhut untuk bahan tesismu. Benarkah begitu, anakku?” tanya Syekh Rajab untuk yang kesekian kalinya. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala saja. Oh iya, meskipun Syekh Rajab sudah mengetahui nama panjangku, beliau tetap memanggilku dengan kata-kata “anakku”. Disini, hal seperti itu biasa digunakan oleh seorang guru terhadap muridnya, supaya lebih mendekatkan rasa kekeluargaan diantara mereka.

Perbincangan bersama Syekh Rajab ternyata cukup menyenangkan. Selain berilmu tinggi, beliau juga humoris. Sesekali, cerita lucunya membuat mulutku tak kuasa menahan tawa. Aku juga bercerita mengenai kendala yang aku temui dalam penulisan tesisku. Setelah itu, beliau mengajakku menuju ruangan perpustakaan. Dan disitu kedua mataku terbelalak melihat tumpukan kitab-kitab yang mengelilingi setiap sudut ruangan. Kanan, kiri, depan, belakang semuannya kitab.  “Bagaimana tidak alim kalau kitabnya sebanyak ini” gumamku terkagum-kagum.

“Lihatlah kitab ini, anakku. Ini menjelaskan tentang Sumur Barhut” Syekh Rajab memberikan satu kitab yang masih belum dicetak dan masih ditulis denga tulisan tangan asli. Setelah melihat nama pengarangnya, ternyata kitab tersebut adalah karangan Syekh Rajab sendiri. Subhanallah, ternyata bukan hanya alim, beliau juga produktif dalam berkarya. Dalam kitab tersebut Syekh Rajab menaruh perhatian khusus mengenai Sumur Barhut.Pada bagianmukadimahnya, beliau menyebutkan bahwa kitab tersebut merupakan hasil penelitian yang beliau lakukan selama hampir 3 tahun. Beliau juga dengan tegas menyatakan siap bertanggung jawab atas semua yang  tertulis dalam kitab tersebut. Bukan hanya di depan para pembaca saja, tapi juga dihadapan Allah Swt.

Insyaallah kitab ini bisa menemani penulisan tesismu tanpa harus pergi langsung kesana. Tidak usah diganti. Lanjutkan saja judul tesismu itu: “Barhut Sumur Munafik: antara Mitos dan Fakta”. Pungkas Syekh Rajab seraya menyunggingkan senyum khasnya.

Melihat dukungan dari Syekh Rajab Al-Mastur, semangatku untuk menulis tesis tentang sumur munafik bangkit kembali. Tapi aku masih bingung, darimana beliau mengetahui sedatail itu mengenai penelitianku. Bahkan, beliau juga hafal judul tesisku. Padahal, judul itu masihkusimpan rapat-rapat dalam angan-anganku.

Dzira’ adalah ukuran hasta, dari siku sampai ke ujung jari tengah.

Afwan, Ya, Syaikh: Ma’af, guru!

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00