• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Press Release

Penasehat Hukum Meyakini MR Bukan Tersangka

23 May
19:00 2019
1 Votes (5)

KBRN, Tarakan : Sidang Praperadilan kasus sabu yang sempat di tunda tiga hari dengan tersangka MR alias WW kembali digelar di Pengadilan Negeri Tarakan, Kamis (20/5/2019). Permohonan Praperadilan dibacakan Penasehat Hukum MR alias WW, Rabshody Roestam, Nunung Tri Sulistyawati dan Nazamuddin sementara dari Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) sebagai termohon diwakili Alvin Andrew Dias, selaku kuasa hukum

Sedikitnya ada 17 alasan permohonan praperadilan, salah satunya pemohon menderita penyakit mata yang akut, dan mengakibatkan kedua matanya tidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya. Sebelum ini, penyakit mata pemohon sudah pernah di obati, namun tidak ada perkembangan apa-apa.

“Pemohon diperiksakan ke dokter ahli mata, oleh pihak petugas penangkap. Hasilnya, kedua mata pemohon tidak berfungsi dan penyakit tersebut tidak ada obatnya. Sehingga terdakwa mengalami kebutaan untuk seumur hidupnya,” ujar salah satu Penasehat Hukum MR, Rabshody Roestam di persidangan.

Rabshody juga mengungkapkan, kebutaan MR ini sudah dialaminya sejak tahun 1987 saat duduk di kelas VI. Dokter ahli juga memastikan, melalui seluruh proses medis yang dijalani pemohon tanggal 3 Mei. Berdasarkan, hasil rekam medis dinyatakan pemohon mengalami buta secara total dan tidak dapat melihat apapun.

“Pemohon tidak dapat melakukan aktivitasnya sehari-hari dan sejak itu pula pemohon tidak dapat melakukan aktivitas apapun, kecuali menetap dalam rumahnya,” jelasnya.

Tindakan hukum yang campur aduk, tidak memperhatikan kondisi pemohon sebagai seorang yang tidak dapat melihat, tidak dapat membaca karena buta. Selain itu, BNNK Tarakan sebagai termohon ketika melakukan penangkapan pemohon tidak didahului dengan minimal dua alat bukti yang sah. Soal alat bukti ini, diatur dalam pasal 184 ayat (1) KUHAP, jika tidak terpenuhi, maka tindakan hukum tidak sah.

“Secara logika hukum, siapa saksinya, apa bukti suratnya, apa alat bukti petunjuknya, dimana keterangan ahlinya. Sebab tindakan tersebut dilakukan tidak lama setelah ditangkapnya orang lain,” tukasnya.

Pada saat Berita Acara Pemeriksaan (BAP), MR tidak didampingi Penasehat Hukum bahkan tidak pernah ditanyakan apakah akan didampingi Penasehat Hukum atau tidak. Disebutkan juga dalam permohonan praperadilan ini, BAP MR tidak dibacakan sementara MR tidak bisa membaca karena buta dan langsung dimina untuk ditandatangani.

“Tuntutan pemohon praperadilan, memerintahkan kepada termohon untuk menghentikan penyidikan terhadap pemohon karena tidak sah dan melanggar hukum. Memerintahkan termohon untuk membebaskan pemohon dari tahanan pada rutan negara, setelah putusan dibacakan,” ungkap Rabshody.

Alvin Andrew Dias, kuasa hukum BNNK langsung membacakan jawaban atas permohonan praperadilan kemarin. Selain menolak seluruh dalil-dalil dalam permohonan praperadilan, BNNK juga menyebut keterlibatan MR dalam peredaran sabu ini berawal dari pengakuan tersangka lain, YL.

“Bahwa berdasarkan alat bukti dan hasil pemeriksaan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Samarinda, barang bukti berupa kristal warna putih tersebut adalah positif mengandung metamfetamina. Maka penetapan tersangka haruslah dinyatakan sah,” tutupnya. (CRZ)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00