• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Press Release

Divonis 9 Tahun, Hendrik Masih Pikir-Pikir

21 May
11:49 2019
1 Votes (5)

KBRN, Tarakan : Terdakwa yang ikut terlibat perkara kepemilikan 1 kilogram sabu yang dibawa Andi Rizki Amelia di Bandara Juwata Tarakan, Maret 2018 lalu, Hendrik alias Why menerima vonis Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tarakan, kemarin (20/5/2019). Dalam sidang, Hendrik didampingi kuasa hukumnya Rabshody Roestam dan Nazamuddin, sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU), Debby F Fauzy.

Ketua Majelis Hakim, Toni Irfan mengungkapkan, dalam putusan ini sudah mempertimbangkan tuntutan dan dakwaan JPU, maupun pembelaan kuasa hukum terdakwa. meskipun dalam petitum tuntutan JPU tidak menyebutkan meminta Majelis Hakim memutuskan bersalah, namun Majelis Hakim memutuskan berdasarkan dakwaan JPU.

“Kekeliruan pengetikan tidak mengubah materi dari surat dakwaan dan tidak membawa akibat hukum. Dari keterangan saksi-saksi dan barang bukti yang diajukan, diperoleh fakta hukum yang menjadi dasar pertimbangan majelis, bahwa pertimbangan terdakwa sudah memenuhi semua unsur 114 ayat 2 junto pasal 132 Undang-undang No. 35 tahun 2009 tentang narkotika. Dalam perkara sebelumnya, Hendrik divonis 10 tahun penjara dan saat ini masih menjalani hukumannya di Lapas Sungguminasa, selanjutnya dibawa ke Tarakan untuk perkara 1 kg sabu ini. Undang-undang No. 35 tahun 2009 tentang narkotika merupakan lex specialis, sehingga mempunyai makna komulatif terhadap sanksi pidana. Mengadili, menyatakan terdakwa Hendrik terbukti melakukan pidana pemufakatan jahat dan menjatuhkan pidana penjara selama 9 tahun denda Rp1 miliar dengan ketentuan, apabila denda tidak dibayar diganti pidana penjara selama 3 bulan,” terangnya.

Sementara itu, Humas Pengadilan Negeri Tarakan Melcky Johny Ottoh menuturkan Hendrik terbukti sebagai prekusor atau perantara dalam perkara sabu ini. Terdakwa tidak boleh menjalani pidana lebih dari batas maksimum 20 tahun penjara,“Sebagaimana dalam Perma No.3 tahun 2019, bahwa terdakwa sedang menjalani 10 tahun penjara, jadi Majelis beranggapan tinggal menjalani sisa dari yang telah dijatuhi,” ujarnya, kepada KBRN (rri.co.id).

Di lain sisi, Rabshody Roestam, kuasa hukum terdakwa Hendrik mengaku, masih akan berkoordinasi kliennya apakah akan menerima putusan ini atau menyatakan banding, dalam waktu 7 hari. Ia pun mengaku tetap menghargai putusan Majelis Hakim, namun ia tidak sependapat karena masih banyak hal yang tidak diuraikan Majelis dalam amar putusannya.

“Misalnya, tentang perbuatan terdakwa yang mana dinyatakan terbukti bersalah. Cuma dikatakan sebagai perantara jual beli, dalam hal ini kan harusnya ada penjual dan pembeli. Banyak juga fakta-fakta yang tidak sinkron dengan putusan yang dibacakan Majelis. Kalau JPU menyatakan banding, kami juga akan menyatakan banding,” tuntasnya.

Diberitakan sebelumnya, Hendrik alias Why ini merupakan salah satu narapidana Lapas Sungguminasa, Gowa, Sulawesi Selatan. Penangkapan Hendrik setelah sebelumnya dilakukan pengembangan 1 kg sabu yang ditemukan di koper milik Andi Rizki Amelia, saat hendak berangkat ke Makassar di Bandara Juwata, Maret 2018 lalu. Setelah Amelia ditangkap, berkembang ke penangkapan Lia Lusiana alias Tata, istri Hendrik dan mertuanya, Dorkas. Setelah itu, penyidik menjemput Hendrik untuk dibawa ke Tarakan dan ditetapkan tersangka, namun Daeng alias Bapak Sandi masih berstatus DPO dalam perkara ini. selanjutnya, Andi Rizki Amelia divonis pidana 20 tahun penjara, Lia Lusiana alias Tata divonis 18 tahun penjara dan Dorkas divonis bebas. (CRZ)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00