• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Press Release

DKP Kaltara : Petani Rumput Laut Nunukan Tidak Masuk Wilayah Malaysia

5 February
19:47 2019
1 Votes (3)

KBRN, Bulungan : Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) meminta seluruh pembudidaya perikanan maupun sumber daya laut lainnya, untuk tidak melanggar jalur transportasi laut serta melewati batas negara di wilayah perairan Malaysia.

Kepala DKP Kaltara Amir Bakri menjelaskan, Tertangkapnya 22 petani rumput laut di Nunukan oleh petugas Malaysia, pada Minggu (20/1/2019) menjadi perhatian semua petani rumput laut, agar tidak terjadi kedepannya.

“Alhamdulilah 31 Januari 2019 lalu, semua dikembalikan (Pulangkan), setelah melalui proses dengan pelanggaran melakukan aktifitas rumput laut di wilayah Malaysia sementara hasilnya dijual ke Nunukan (Indonesia).” Jelas Amir bakri kepada media Selasa (5/2/2019).

Ditegaskan Amir, persoalan tersebut tidak sepenuhnya menjadi kelalaian DKP Kaltara, karena sudah memberikan pemahaman dan memasang tanda batas zonasi rumput laut yang boleh dikelola warga Indonesia khususnya di Kaltara dengan memasang bouy (tanda batas) yang tidak boleh dilewati.

”Namun karena animo masyarakat menjadi petani rumput laut cukup tinggi karena harga pasaran menjanjikan, sedangkan luas wilayah untuk mengelola rumput laut terbatas, membuat beberapa petani rumput laut memilih untuk bekerja di wilayah terlarang (Malaysia). “bebernya.

Ditambahkan Amir upaya lain akan dilakukan DKP Kaltara Yakni, meningkatkan pengawasan dalam mewujudkan penataan perizinan budidaya perikanan.

Selain itu mengupayakan terwujudnya memorandum of understanding (MoU) dengan jabatan perikanan Tawau, Sabah, Malaysia terkait pengelolaan wilayah perairan simpang tiga Tawau, Sabah, Malaysia. Mengingat daerah perairan tersebut memiliki tingkat kesuburan yang tinggi bagi budidaya rumput laut. Selain itu jaraknya relatif dekat dengan Wilayah Nunukan.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00