• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Press Release

Merasa Tidak Bersalah PH Andy Minta Banding

9 April
09:45 2018
2 Votes (4)

KBRN, Tarakan : Vonis hukuman mati yang ketuai Majelis Hakim Christo E.N Sitorus terhadap salah satu terdakwa keterlibatan sabu 11,4 kilogram yakni Andy bin Arif, dianggap tidak berpijak pada kebenaran materil oleh Donny Tri Istiqomah, selaku Penasehat Hukum (PH) Andi.

Donny menuturkan, putusan hakim tidak berpijak kepada kebenaran materiil atau kebenaran hakiki, seperti yang terungkap dan menjadi fakta persidangan.

“Padahal kebenaran materiil menjadi syarat mutlak bagi hakim dalam memperoleh keyakinannya, sedangkan ini klien kami dipidana atas perbuatan yang tidak pernah dilakukannya,”bebernya. usai sidang putusan di pengadilan negeri Tarakan. 

Menurut Donny yang berkantor di Jakarta ini, putusan Majelis Hakim jelas-jelas melanggar asas Nulla Poena Sine Culpa, artinya tidak ada seorang pun yang dapat dipidana atas perbuatan yang tidak dilakukannya.

“Putusan ini melanggar Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman,”akunya.

Kata Donny,  penegakan hukum tidak harus menghukum seseorang, melainkan menegakkan keadilan bagi semua orang. Jika ternyata seseorang itu terbukti tidak bersalah maka harus dibebaskan demi terwujudnya penegakan hukum.

“Bukan malah menghukumnya, apalagi hukuman mati dan Inilah yang terjadi kepada client kami,” kata Donny. Kepada KBRN (rri.co.id).

Dalam persidangan, bukti-bukti hukum juga sudah menyebutkan bahwa Andi yang didudukkan sebagai terdakwa ini memang benar-benar tidak bersalah. Bahwa Andy bin Arif semata-mata merupakan korban salah tangkap karena adanya konspirasi.

Ia mengungkapkan, fakta persidangan menunjukkan bahwa diangkutnya Andi dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Tarakan hanya atas dasar pengakuan dan keterangan saksi-saksi yang ditangkap oleh BNN sebelumnya. Dan ternyata di dalam persidangan pengakuan dari saksi-saksi tersebut terbukti merupakan rekayasa penyidik,“Keterangan saksi tersebut diperoleh dengan cara intimidasi dan penganiayaan fisik kepada para saksi yang kemudian dituangkan di dalam BAP, karena intimidasi dan penganiayaan fisik tersebut akhirnya seluruh saksi di persidangan memberanikan diri untuk mencabut keterangan BAP-nya,”ujarnya. 

Untuk memperkuat bahwa memang benar-benar terjadi intimdasi dan penganiayaan fisik Donny menjelaskan,  terhadap para saksi, mantan security BNN , Nursiam yang dihadirkan sebagai saksi juga membeberkan di persidangan bahwa ia melihat langsung kejadian intimidasi dan penganiayaan tersebut. “Sayangnya kesaksian mantan security BNN ini sengaja diabaikan oleh Majelis hakim,” sesalnya.

Soal munculnya pengakuan para saksi yang menyatakan bahwa sabu-sabu yang mereka ambil di Tawau adalah milik Andi merupakan karangan dan rekayasa dari Polisi BNN. Ketika para saksi ditangkap, saksi langsung dikasih foto Andi bin Arif oleh Polisi BNN dan dipaksa mengakui bahwa orang di foto itulah yang menyuruh mereka. Karena adanya intimidasi dan penganiayaan akhirnya para saksi menuruti kemauan polisi BNN.

Selain itu, Donny juga membeberkan para saksi menyatakan bahwa yang menyuruh mereka mengambil sabu-sabu adalah seorang bernama Hen dan bukan Andi. Sementara, Hen, menurut pengakuan saksi AMIN berperawakan hitam dan tinggi besar, bukan pendek kecil seperti Andi.

“Tapi Polisi BNN tetap memaksa para saksi untuk mengakui bahwa yang dimaksud Hen adalah client kami dengan menunjukkan foto Andi bin Arif dengan cara paksaaan, intimidasi dan penganiayaan fisik, dipukuli sampai babak belur bahkan gigi salah satu saksi Amin sampai patah,”tambahnya.

Ia menambahkan, sepertinya JPU memang tidak memiliki bukti apapun untuk menuduh Andy bin Arif memiliki handphone. Satu-satunya alat bukti yang disuguhkan JPU terhadap nomor handphone yang dituduhkan milik Andy hanya sebatas rekap nomor telepon keluar masuk, dan rekap sms keluar masuk, tanpa ada rekaman percakapan maupun isi sms.

Bahkan tidak ada surat dari keterangan dari provider yang menyatakan identitas yang terdaftar pada nomor tersebut adalah bernama Andy bin Arif. Ketika ditanyakan kepada saksi polisi BNN darimana mereka yakin bahwa nomor handphone tersebut milik Andy bin Arif dijawab tidak tahu, itu sudah perintah dari atasannya.

“Dari sini terlihat memang ada rekayasa yang memaksa bagaimana caranya bahwa nomor handphone yang menyuruh para saksi adalah milik Andy bin Arif walaupun tidak ada alat bukti apapun untuk memperkuatnya,” tegas Donny.

Menurutnya, putusan hakim terlihat hanya mengejar target penyelesaian kasus belaka dan semata-mata untuk kepentingan popularitas an sich sehingga mengorbankan keadilan hukum bagi terdakwa. Karena sekali lagi berdasarkan fakta persidangan tidak ada satu alat bukti pun yang melibatkan Andy bin Arif.

“Kami selaku kuasa hukum terdakwa demi keadilan hukum menyatakan Banding, dan kami akan melaporkan putusan ini kepada  Majelis Kehormatan Hakim MA, Komnas HAM, dan Komisi Yudisial, karena hakim telah menjatuhkan pidana mati atau putusan mencabut nyawa seseorang, tanpa didasarkan kepada kebenaran materiil sebagaimana yang menjadi fakta-fakta persidangan,”tutupnya. (chris)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00