• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

DAERAH

Kuota Pupuk di Lumbung Pangan Terus Dipangkas, Petani Menjerit

16 January
18:41 2020
0 Votes (0)

KBRN Sragen: Petani di Kabupaten Sragen mengeluhkan kuota pupuk bersubsidi yang terus berkurang dari tahun ketahun. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan pupuk berkurang. Pengurangan pupuk ini cukup ironis, karena Sragen salah satu lumbung pangan Nasional.

Petani untuk memenuhi kebutuhan pupuk harus mencari ke luar daerah kendatipun dengan harga yang lebih mahal. "Kelangkaan pupuk ini disebabkan karena barang tidak ada bukan karena dialirkan ke daerah lain," ungkap Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen Suratno kepada RRI, Kamis (16/1/2020).

Suratno mengatakan, pengurangan kuoata pupuk bersubisi itu sudah terjadi beberapa tahun terakhir. Semakin parah pengurangan terjadi pada tahun ini. Pengurangan ini membuat khwatir kebutuhan pupuk tidak bisa mencukupi seluruh wilayah areal pertanian yangmencapai 142 ribu hektar. 

"Kondisi pengurangan pasokan ini sudah dirasakan petani, sudah beberapa tahun," sambungnya.

Suratno menyebutkan, keluhan ini tidak mendapatkan respon dari pemerintah. Bahkan keluhan kepada wakil rakyat di DPRD Sragen hingga kini belum direspon. Kemudian petani juga mengadukan ke Bupati. 

Suratno menjelaskan luas lahan pertanian produkstif di Sragen sekitar 142 ribu hektar, namun alokasi berkurang. Ia menyebut tahun ini dari luas lahan tersebut hanya mendapat pasokan pupuk SP 36 sejumlah 3000 ton dari kebutuhan 14 ribu ton. 

"Misalnya SP 36 hanya dapat 3 ribu ton dari 14 ribu ton. Urea cuma ada 30 ton dari kebutuhan 40 ton. Ponska 32 ton dari butuh 42 ton. Belum lagi itu dibagi dengan petani tebu dibagi dengan perkebunan, berkurang lagi," tandasnya.

Suratno mengatakan, di awal tahun pasokan pupuk subsidi ini tidak masalah, karena kekurangan diambilkan jatah musim tanam berikutnya. Namun saat akhir tahun petani akan menangis untuk mendapatkan pupuk tesebut karena stok sudah tidak tersedia. 

Bahkan akhir tahun lalu petani sragen harus membeli pupuk dari luar daerah dengan harga jauh lebih tinggi. Misalnya Ponska yang hanya 115-120 menjadi 160 ribu. Pihaknya berharap pemerintah memperhatikan Sragen sebagai lumbung pangan nasional.

"Kemarin itu sempat ada yang cari sampai Purworejo per sak Rp 160 ribu. Padahal biasanya Rp 120 ribu. Jatuhnya lebih mahal tapi gimana lagi," pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00