• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

KESEHATAN

Endemis DBD di Sragen Alami Pergeseran, Dataran Tinggi Mulai Terserang

7 January
14:35 2020
0 Votes (0)

KBRN,  Sragen: Penyebaran endemis Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sragen kini telah mengalami pergeseran. Daerah yang sebelumnya tidak tersentuh DBD, pada tahun 2019 lalu mulai ditemukan warga terjankit akibat gigitan nyamuk aedes aegypti itu.

Misalnya daerah yang biasa nihil kasus DBD seperti Kecamatan Sambirejo dan juga Kecamatan Dawung bagian timur. Kedua tempat tersebut merupakan dataran tinggi berada di lereng Gunung Lawu.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen dr Hargiyanto mengakui daerah pegunungan belakangan sudah ada kasus DBD.  Menurutnya, hal ini terjadi karena anomali cuaca dan juga dampak pancaroba.

“Seperti Sambirejo itu dulu tidak ada karena daerah dingin. Tapi dengan pergeseran cuaca ini Sambirejo jadi panas, itu sudah mulai ada. Kemudian Dawung atas seharusnya tidak ada, tapi sekarang ada,” ungkap dr Hargiyanto.

Namun demikian Hargiyanto mengklaim kasus demam berdarah di Sragen tahun 2020 ini berbeda jauh dengan tahun lalu. Dimana pada awal tahun 2019 lalu angka DBD meningkat signifikan. Kendatipun disebut-sebut sebagai dampak siklus tahunan, namun menurut Hargiyanto karena kuruangnya kesadaran masyarakat akan menjaga kebersihan.

“Sekarang dengan rutin PSN (pemberantasan sarang nyamuk) digencarkan disetiap lokasi kasus juga menurun. 2020 ini dipastikan nihil. Data yang masuk ke kami dari Puskesmas masih nihil semua,” ujarnya.

Dia menyebutkan, data yang masuk dari  seluruh Puskemas awal tahun ini baru suspect, yakni berjumlah 17 kasus. Susfect belasan kasus itu terjadi di antaranya di Kecamatan Kalijambe ada 5, Tanon 3, Gemolong 2, kemudian Sukodono, Sragen, Tangen termasuk Dawung satu kasus.

“ini ada 17, tapi baru suspect ya, belum positif. Ini data yang masuk ke kami, tapi terus kita pantau dari data DD elektronik ini,” katanya.

Meskipun masih dalam kondisi dugaan, namun pihaknya tidak mengendorkan PSN di setiap wilayah. Hargiyanto mengatakan, ribuan kader Jumantik (juru pemantau jentik) dan Kader Posyandu dan PKK intens melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk.

“Kita tidak bisa memantau gerakan masyarakat untuk mebersihakan lingkunganya. Tapi yang kita lihat hasilnya. Kalau ada kasus, dilihat banyak jentik, berarti kan PSN kurang. Makanya seluruh kader Posyandu, PKK, semua jadi kader jumantik,” tandasnya.

Pihaknya berharap tanpa ada komando masyarakat selalu memantau jentik nyamuk di bak mandi. Menguras, menutup tempat tempat air dan memanfaatkan atau mengubur barang bekas tidak terpakai.

“Antisipasi dengan PSN pasti, tempat-tempat yang airnya sulit di kuras kita kasih abatisasi. Agar tidak terjadi seperti kemarin. Sebab kalau daerah yang sulit air menguras air ya eman eman. Intine PSN selalu diingatkan.”

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00