• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

EKONOMI

Tiga Pasar Tradisional di Sragen Jadi Percobaan Pembayaran Retribusi Online

2 November
15:24 2019
0 Votes (0)

KBRN, Sragen: Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sragen akan menerapkan pembayaran retribusi online dengan model e-Tikecting. Langkah ini sebagai cara transisi dari penarikan retribusi konvensional ke e-Retribusi. 

Pembayaran retribusi yang dimulai 2020 belum sepenuhnya non tunai, karena masih ada petugas yang keliling menarik retribusi seperti biasa. Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Pasar Disperindag Widya Budi mengatakan, tiga pasar akan menjadi percontohan dalam pembayaran retribusi e-Tikecting ini, yakni pasar Sumberlawang, Pasar Gondang dan Pasar Gemolong. 

"Penerapan kebijakan ini tindak lanjut dari evaluasi pelaksanaan e-retribusi di Pasar Kota dan Pasar Bunder yang tidak optimal," katanya Sabtu (2/11/2019).

Oleh sebab itu e-Tikecting menjadi trobosan untuk transisi pasar yang belum menjalankan e-Retribusi, dengan konsep masih menggunakan kartu, hanya saja pedagang bisa membayar secara tunai. Lantas program e-Tikecting ini diberlakukan di pasar-pasar kecamatan yang belum terakses bank mitra yang ditunjuk mengurusi retribusi. "Seperti di Jenar, Gesi Tangen kan bank mitra kita belum sampai sana," ujarnya.

Dia menyampaikan, pedagang nantinya akan dibekali kartu sebagai identitas pemilik los dan kios yang berfungsi untuk membayar. Dengan retribusi sistem e Tikecting maka retribusi yang dibayarkan pedagang akan langsung masuk ke rekening kas daerah sehingga tidak akan bocor.

”Ini langkah awal mengurangi kertas retribusi, kadang satu transaksi bisa melebihi satu sobekan. Tidak efektif, dengan ini lebih efektif,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Disperindag Tedy Rosanto menyampaikan saat ini ada kendala untuk pelaksanaan E-Retribusi di sejumlah pasar. Pihaknya menyampaikan untuk sistem E-Retribusi memang benar-benar non tunai, pedagang harus mengisi ulang kartu dengan saldo untuk membayar. 

"Karena pedagang yang tidak semuanya paham teknologi, ditambah malas biasanya hanya nitip ke petugas pasar. Jadinya malah menambah pekerjaan petugas. Belum lagi terkendala infrastruktur dan jaringan," jelas Tedy.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00