• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

KESEHATAN

Kematian Ibu dan Bayi di Sragen Masih Tinggi

26 June
22:58 2019
0 Votes (0)

KBrRN, Surakarta: Angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Sragen masih cukup memperihatinkan. Data dari Dinas Kesehatan (DKK) menyebutkan 2017 lalu terdapat 11 ibu melahirkan meninggal dunia. Sedangkan 2018 lalu meningkat jadi 15 ibu. Sementara periode Januari sampai Juni 2019 terdapat empat ibu dan 53 bayi meninggal dunia. 

Kepala Dinas Kesehatan (DKK) Sragen, dr.Hargiyanto menyebutkan kematian ibua saatmelahirkan rata-rata preklamsi berat dan pendarahan. Sedangkan bayi disebabkan bawaan dan juga adanya infeksi. 


"Sampai hari ini kita empat ibu, dan bayi 53. Faktor ibu tetap rata rata pendarahan dan preklamsi berat, kalau anak ada bawaan kemudian infeksi," kata dr Hariyanto saat ditemui RRI di Harris Hotel Solo, Rabu (26/6/2019).

Disinggung upaya yang dilakukan DKK, pihaknya menyebutkan sudah melakukan berbagai hal untuk menekan angka kematian tersebut. Selain mengoptimalkan peran bida-bidan kemudian rumah sakit rujukan. Bahkan dokter spesialis sudah turun ke klinik dan puskesmas, seperti dokter anak dan obgin.

"Perbaikan rujukan ini misalnya bidan desa saat melakukan rujukan ibu melahirkan harus sudah terencana dan berjenjang. Artinya rujukan pasien ke RS harus memastikan RS sudah siap agar jangan sampai terlambat penanganan," tandasnya. Selain itu juga memperbaiki koneksi rumah sakit dengan puskesmas.

Bupati Sragen Kusdinar untung Yuni Sukowati perihatin melihat tingginya kasus kematian ibu dan bayi di bumi Sukowati. Bupati menyebut peningkatan kematian Ibu dan bayi salah satu faktor penyakit yang menyertai seperti jantung, hipertensi yang tidak terdeteksi.

"Faktornya penyakit yang menyertai tidak terdeteksi. Makanya kita perbaiki tingkat pelayanan kita," ungkap Yuni kepada RRI disela menjadi pembicara sarasehan di Harris Hotel Solo.

Oleh sebab itu pihaknya menekankan preventif, kuratif, penyuluhan, kepada ibu hamil.

"izin wong meteng Jateng gayeng itu efektif sekali bahwa kita semua harus turun ke lapangan. Bahwa semua kades dan aparat tahu semua ibu hamil dan kondisinya yang ada di desa, berapa yang punya resti itu tanggung jawab bersama," tandasnya.

Bupati mengatakan, bahwasnya bidan desa harus mendekatkan pelayanan pada masyarakat. Bidan harus bertugas di desa tempat ia berdomisili. Pihaknya berupaya agar membangunkan tempat tinggal berdekatan dengan  Pusat kesehatan desa (PKD).

"Memang masih ada beberapa desa di perbatasan yang tidak bisa satu desa. Seperti di Gilirejo Baru itu masih agak jauh," ungkapnya.


  • Tentang Penulis

    Mulato Isha'an

    Mulato Isha'an RRI Surakarta<br />

  • Tentang Editor

    Mulato Isha'an

    Mulato Isha'an RRI Surakarta<br />

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00