• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

3.505 Dawet Lele Kabupaten Kediri Raih Rekor MURI

25 February
20:28 2020
1 Votes (4)

KBRN, Kediri: Sebanyak 3.505 porsi 'Dawet Lele' yang dihasilkan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Rukun Tani, Desa Pranggang, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri berhasil meraih Penghargaan Rekor MURI. Pemberian anugerah ini dihadiri langsung oleh Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Provinsi Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, yang pada kesempatan ini juga mendapatkan penghargaan dari MURI, di Acara Pemecahan Rekor MURI, di Desa Pranggang, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Selasa (25/2/2020).

Menurut Senior Manager MURI, Ariyani Siregar, mewakili Ketua Umum Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Jaya Suprana, pemberian Rekor MURI di Desa Pranggang, tersebut diberikan karena Pokdakan Rukun Tani berhasil membuat Sajian Dawet Lele Terbanyak.

"Dari yang ditargetkan panitia sebanyak 3.000 gelas, tadi setelah dihitung maka totalnya ada 3.505 gelas Dawet Ikan Lele. Tentunya, penghargaan ini pantas diberikan karena memang baru pertama kali dan ini juga dicatatkan di rekor dunia," kata Senior Manager MURI, Ariyani Siregar, di Pemecahan Rekor MURI Sajian Dawet Lele Terbanyak, di Desa Pranggang, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Selasa (25/2/2020).

Ariyani mengungkapkan, pemberian Rekor MURI untuk Sajian Dawet Lele Terbanyak ini juga lantas dicatatkan untuk rekor ke-9427. Kalau sebelumnya, rekor MURI untuk di wilayah kerja Forikan juga ada beberapa yang sudah diberikan.

"Misalnya, Sajian Bandeng Presto Terbanyak dan Sajian Ikan Lele Terbanyak. Nah kalau yang di Kabupaten Kediri ini, penghargaan yang diberikan untuk olahan Ikan Lele berupa Dawet," katanya.

Sementara, dalam sambutannya, Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Provinsi Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, menyatakan, bahwa pihaknya memberikan apresiasi besar terhadap masyarakat Desa Pranggang di Kabupaten Kediri yang berhasil mengolah Ikan Lele menjadi produk Dawet.

"Upaya ini pantas diberikan apresiasi, karena tidak mudah mengolah ikan yang umumnya tidak disukai anak-anak. Tapi kini, dengan kreasi dan inovasi masyarakat Desa Pranggang, mereka bisa mengemas Ikan Lele dalam bentuk Dawet, minuman manis, dan notabene banyak diminati anak-anak, jadi gizi mereka bisa ditingkatkan," katanya.

Pada kesempatan ini, Arumi juga mengajak masyarakat, untuk terus mengonsumsi ikan. Lantaran, di dalam aneka jenis ikan air tawar maupun ikan air laut, banyak tersimpan kandungan Omega 3 yang sangat penting bagi kecerdasan otak dan gizi anak.

"Untuk mengonsumsi ikan, ibu-ibu tidak perlu beli yang mahal. Ataupun kalau mau diatur waktunya, bisa di awal bulan beli ikan yang harganya mahal, sedangkan di akhir bulan yang harganya terjangkau seperti Ikan Gurame dan Ikan Lele," katanya.

Di lokasi ini, Arumi memberikan imbauan, bagi masyarakat yang sudah merasakan jantung berdetak tidak seperti normal, maka ada baiknya bisa mengonsumsi Ikan Patin. Seperti memasak dengan cara digoreng atau lainnya.

"Dengan meningkatkan kegemaran kita makan ikan, maka otomatis anak-anak juga bisa ikut meniru kebiasaan kita nanti. Jangan lupa ya, kita masih punya PR besar untuk angka konsumsi ikan dan ini perlu dukungan semua pihak," katanya.

Arumi merinci, angka konsumsi ikan di Kabupaten Kediri yang kini masih 18 kilogram per kapita per tahun. Kalau performa angka konsumsi ikan  di Jatim sebesar 36 kilogram per kapita per tahun.

"Kondisi ini masih rendah, dan kalah dengan angka konsumsi ikan Nasional sebanyak 50 kilogram per kapita per tahun, dan lebih rendah dibandingkan angka konsumsi ikan masyarakat Jepang sebesar 70 kilogram per kapita per tahun," katanya.

Senada dengan Arumi Bachsin Emil Dardak, Bupati Kediri, Haryanti Sutrisno, menerangkan, meskipun wilayah ini tidak memiliki laut, tapi Kabupaten Kediri memiliki potensi pengembangan ikan air tawar sangat besar, terutama Ikan Lele.

"Makan ikan tidak harus mahal, dan cara mengolahnya tidak perlu aneh-aneh. Cukup digoreng saja, anak-anak pasti suka dan gizi dari ikan itu bisa diserap langsung oleh mereka, sehingga ini dapat membantu mencegah gagal tumbuh atau Stunting sejak dini," katanya.

Sementara itu, penggagas Dawet Lele sekaligus Ketua Pokdakan Rukun Tani, Desa Pranggang, Heru Surawan, mengemukakan, pengembangan olahan Ikan Lele ini bertujuan menambah nilai ekonomi bagi masyarakat. Jika selama ini, mereka beternak ikan lele, hanya mendapatkan penghasilan kurang memadai, tapi dengan membuat menu olahannya justru pundi-pundi keuangan kian bertambah.

"Biasanya Ikan Lele yang dijual biasa hanya dihargai Rp 14.000 per kilogram. Tapi, setelah diolah menjadi Abon Lele ataupun Dawet Lele, maka pendapatan kami bisa meningkat signifikan. Selama ini memang bapak-bapak yang ternak Ikan Lele, kini ibu-ibu ikut diberdayakan untuk memasak olahannya," katanya.

Ke depan, lanjut Heru, untuk lebih mengenalkan produk olahan Ikan Lele tersebut, dalam waktu dekat, maka pihaknya bersama warga setempat siap membuka gerai usaha khusus, sebagai etalase publik. (ac)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00