• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Umum

Surabaya Butuh Perwali Pembatasan Plastik Sekali Pakai

23 February
09:17 2020

KBRN, Surabaya: Tanggal 21 Februari 2005 ribuan ton sampah yang menumpuk di TPA Luwihgajah Bandung meledak sehingga menimbun ratusan rumah dan 143 org tewas tertimbun sampah. Tragedi ini kemudian diperingati Sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) dan menjadi titik awal perbaikan pengelolaan sampah di Indonesia. 

Pada peringatan tahun ini Komunitas Indonesia Smile Club (ISC) mengingatkan kita semua akan bahaya sampah plastik. salah satunya adalah tas kresek. 

Pemakaian tas kresek dari tahun ke tahun terus meningkat. Sampah plastik dari tahun ke tahun terus meningkat. Dari 67 juta ton sampah yang dihasilkan pendudukan Indonesia per tahun, 5,4 juta ton adalah plastik. 

Wawan Some dari Komunitas Nol Sampah menerangkan, sumber plastik beragam, namun satu fakta menyebutkan sekitar 43,4% dari plastik di Indonesia dipergunakan sebagai kemasan. Setiap orang di Indonesia membuang 700 sampah tas kresek per tahun (greeneration Indonesia, 2010). 

"Dan satu fakta lagi, konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) terus meningkat 10% per tahun. Satu liter AMDK butuh sekitar 38 gram plastik PET dan 2 gram plastik HDPE utk tutupnya. Konsumsi AMDK tahun 2013 sekitar 23,1 miyar liter berarti butuh sekitar 850.000 ton plastik."ujarnya, Minggu, (23/2/2020).
 
Faktanya lanjut Wawan, rata-rata di Indonesia sampah plastik yang bisa didaur ulang kurang dari 15%. Lalu kemana sampah-sampah plastik tersebut? 

"Sampah plastik akan menumpuk di TPA atau masuk ke sungai dan akhirnya ke laut. Faktanya 70% sampah yang ada di laut adalah sampah yang berasal dari daratan. Dan 70% dari sampah tersebut adalah sampah plastik."jelas Wawan.

 Satu penelitian yang dipimpin Jenna Jambeck dari Universitas Georgia, Amerika Serikat memperkirakan  4,8 – 12,7 juta ton sampah plastik masuk ke lautan di seluruh dunia. 

Indonesia menjadi peringkat kedua negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia yaitu sebesar 3,2 juta ton. Tiongkok menempati urutan pertama sebesar 8,8 juta ton dan disusul oleh Filipina diperingkat ketiga yaitu sebesar 1,9 juta ton sampah plastik. 

Dalam rangka HPSN 2020 Komunitas Nol Sampah Surabaya bersama beberapa komunitas pada Minggu, (23/2/2020),  melakukan kampanye mengajak warga Kota Surabaya untuk Diet Plastik, khususnya diet tas kresek. Kegiatan diselenggarakan di Car Free Day Jl Darmo dan Taman Bungkul.  

Kegiatan yang melibatkan 75 org dari Bonek Garis Hijau, siswa SMP 18, SMP SAIMS dan the body shop community ini dilakukan dengan cara merampok tas kresek engunjung CFD atau taman Bungkul. 

"Kami akan menukar tas kresek dengan tas kain yang bisa dipakai berulang kali. Selama proses penukaran akan ada edukasi dari relawan tentang mengapa kita harus iet tas kresek. Tentang DOSA-DOSA TAS KRESEK yang menyangkut bahaya tas kresek bagi lingkungan dan kesehatan manusia. bahaya tas kresek."Ujar Wawan Some Kordinator Nol Sampah. 

Harapannya ini akan membiasakan warga Surabaya untuk memakai tas yang bisa dipakai berulang kali. Ada 400 tas kain yang akan dibagikan.   

"Melalui kegiatan ini kami juga berharap Pemerintah Kota Surabays segera mengeluarkan perwali tentang pembatasan pemakaian plastik sekali pakai."jelasnya.

Selain rampok kresek juga ada kegiatan melukis tas kain untuk anak-anak. Tas kain yg sudah dilukis dibawa pulang sehingga bisa dipakai belanja ke pasar atau toko. 

Wawan mengungkapkan, Sehari sampah plastik di Surabaya mencapai 400 ton per hari. Dengan jumlah penduduk 3 juta jiwa maka jumlah tas kresek yang dibuang di Surabaya mencapai 2.1 milyar. Kurang dari 15% yang bisa didaur ulang. Sisa nya menumpuk di TPA Benowo, atai dibuang ke lahan kosong dan masuk ke sungai lalu bermuara di laut. 

Sampah plastik tersebut terbukti berdampak buruk bagi biota di laut. Jutaan biota laut mati karena terjerat atau menelan sampah plastik. 

"Di Pantai Timur Surabaya, ribuan anak mangrove yang kami tanam mati terlilit sampah plastik. Fakta jerapah kebun binatang Surabaya tahun 2013 mati. Setelah dibedah di lambungnya ada berkilo-kilo sampah plastik yang ikut termakan."Jelasnya.

Plastik di laut, terutama yang berukran kecil (kurang dari 5 mm) atau disebut mikroplastik adalah satu fakta baru yang mengancam kehidupan di laut. Tas kresek yang masuk ke sungai atau laut pada akhirnya akan menjadi mikroplastik. 

00:00:00 / 00:00:00