• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Hukum & HAM

Sidang Praperadilan Kasus Q-Net, Pemohon Tunjukkan Bukti Legalitas

28 November
18:54 2019
1 Votes (5)

RRI, Kediri: Dimulainya sidang praperadilan untuk Kasus Penyitaan Barang Tim Cobra Polres Lumajang di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, maka penasehat hukum dari PT Amoeba Internasional dan PT Anugerah Wirausaha Indonesia (AWI) siap menunjukkan bukti legalitas perusahaan dan seperti apa keterkaitannya dengan Q-Net.

"Kami siap menunjukkan semua bukti legalitas yang ada, seperti apa izin perusahaan, izin perdagangan, dan bagaimana keterkaitan dengan PT AWI. Karena perusahaan ini disebut ilegal, dan ini tidak enak didengar, padahal secara sah, kami punya legalitasnya," kata Penasehat Hukum PT Amoeba Internasional, Muhammad Solihin HD., S.H, usai menghadiri Sidang Praperadilan, di Ruang Sidang Cakra Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri, Kamis (28/11/2019).

Menurut Solihin, dalam agenda sidang mendatang, Tim Penasehat Hukum ini juga tidak hanya membuktikan legalitas perusahaan. Akan tetapi, sekaligus membeberkan sejarah PT Amoeba Internasional dan PT Akademi Wirausaha Indonesia (AWI).

"Kami Tim Penasehat Hukum PT Amoeba Internasional, juga akan mendatangkan saksi ahli dari Universitas Padjajaran Bandung. Rencananya, saksi ahli di bidang perdagangan ini akan kami hadirkan pada agenda sidang hari Senin mendatang (2/12)," katanya.

Kedatangan saksi ahli ini, ungkap dia, sangat penting direalisasikan mengingat ia bisa memberikan pandangannya tentang seperti apa syarat-syarat mendirikan perusahaan secara legal dan bagaimana seharusnya perusahaan itu menjalankan bisnisnya dengan izin resmi dari dinas terkait. 

Solihin mencontohkan, dalam pengembangan usaha perusahaan itu, kliennya telah memiliki izin pendirian perusahaan, dan daftar perusahaan. Bahkan, sekaligus ada pula keterangan domisili.

"Usaha ini juga ada pengurusnya, ada izin perdagangan, dan PT Amoeba Internasional yang selama ini didengungkan ilegal, kami semua ada dokumen lengkap," katanya.

Di sisi lain, Kuasa Hukum Polres Lumajang, Abdul Rokhim., S.H., M.Si, menyanggah, pernyataan PT AWI. Hal ini karena pihak Polres Lumajang menegaskan,  sesuai laporan yang baru diterima, korban bermula dari Lumajang dab saksi juga ada yang dari Lumajang, sehingga penyidik berani menelusuri kasus ini.

"Memang kasus ini sudah pernah dilimpahkan ke Polda Jatim, tapi akhirnya dikembalikan ke Polres Lumajang untuk dilanjutkan," katanya.

Kemudian, lanjut Abdul Rokhim, jikalau terkait dengan SP3 di Polda, ia menilai, konteks perkara itu sesuai dengan laporannya, jadi laporan terdahulu bukan berarti laporan yang sekarang.

"Jadi begini, kami sampaikan bahwa korban bermula dari Lumajang, kami sampaikan saksi di Lumajang ada, korbannya di rumah ada, sehingga penyidik di Lumajang berani mengangkat perkara ini," katanya.

Sementara itu, dalam agenda sidang perdana di PN Kabupaten Kediri ini terlihat belum menghasilkan keputusan dari majelis hakim. Lantaran, karena ada permintaan revisi dari pihak termohon. Untuk sidang selanjutnya, bakal digelar Jumat (29/11) dan Senin mendatang (2/12).

Perlu diketahui, dalam praperadilan itu, gugatan Rp 100 miliar dibatalkan dan diganti Rp 10 oleh pemohon. Pembatalan itu dilakukan, sebab pemohon tak ingin dianggap meminta uang gugatan kepada Kapolres Lumajang.

Sebelumnya, kasus ini bermula ketika Tim Cobra Satreskrim Polres Lumajang melakukan pengembangan kasus PT Amoeba Internasional. Perusahaan ini diduga, melakukan koordinasi berkedok bisnis Multi Level Marketing (MLM) di kawasan Lumajang, Jawa Timur, karena menjadi pendukung sistem operasional PT QN International Indonesia (Q-Net).

Melalui kasus itu, PT Amoeba Internasional menerbitkan barang menggunakan merek Q-Net, sehingga atas laporan itu polisi juga menggeledah beberapa rumah atau kantor Q-Net di sejumlah wilayah, termasuk di Kediri. (ac)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00