• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

BBKP Surabaya Musnahkan 59 Paket Ilegal Dari 16 Negara

18 October
13:49 2019
1 Votes (5)

RRI, Kediri: Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya, memusnahkan 59 paket tanpa dokumen lengkap (ilegal), yang berasal dari 16 negara. Agenda pemusnahan barang ini, bertempat di Kantor Pos Besar Kediri, Jumat (18/10/2019).

"Pada era globalisasi, transaksi perdagangan dengan memanfaatkan media online merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat kita hindari.Sisi positif dari penggunaan media online diyakini mempermudah masyarakat  dalam membeli barang yang murah ataupun yang tidak ditemukan di offline store," kata Kepala BBKP Surabaya, Dr. Ir. M. Musyaffak Fauzi, SH. MSi, usai menghadiri Pemusnahan Paket Tanpa Dokumen, di Kantor Pos Besar Kediri, Jumat (18/10/2019).

Di sisi lain, ungkap dia, penggunaan perdagangan online dapat membuka peluang lalu lintas komoditas pertanian melalui jasa pengiriman.  Misalnya, di kantor pos dan dilakukan tanpa disertai dokumen yang dipersyaratkan  (ilegal).

"Kondisi ini terbukti, dengan adanya pemasukan 59 paket ilegal sejumlah 67,96 Kilogram. Paket tersebut, berisi berbagai macam benih tanaman hias, tanaman perkebunan, sayuran dan buah, umbi ginseng, bawang putih, lada, jamur, dan kurma dari berbagai negara periode Juni - September 2019 melalui Kantor Pos Besar Kediri," katanya.

Padahal, dia menerangkan, dokumen yang dipersyaratkan, di antaranya, Surat Izin Pemasukan (SIP) dari Kementerian Pertanian untuk benih dan sertifikat kesehatan (phytosanitarry certificate/PC) dari negara asal.

"Walaupun hanya berjumlah belasan kilogram dan nilai ekonominya tidak terlalu tinggi, tapi jika dilihat berdasarkan dampaknya, maka benih merupakan media pembawa risiko tinggi untuk menyebarkan penyakit tumbuhan," katanya.

Dia merinci, dari temuan paket di Kantor Pos Kediri, diketahui bahwa pemasukan komoditas pertanian tersebut berasal dari 16 negara. Masing-masing Perancis, Hongkong, Korea, Rumania, Malaysia, Saudi Arabia, Thailand, Taiwan, Amerika Serikat, Belanda, India, Inggris, Jepang, China, Singapura, dan Laos.

Lalu, untuk tindakan penahanan yang dilanjutkan dengan pemusnahan, hal ini bermula dari informasi hasil X Ray bea cukai yang disampaikan kepada petugas Kantor Pos Besar Kediri. Selanjutnya, petugas kantor pos meneruskan kepada petugas karantina setempat dan melakukan pengamanan dengan menahan komoditas pertanian ilegal tersebut sambil menunggu kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan.

"Saya memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Bea Cukai dan pihak Kantor Pos Besar Kediri, berkat informasi dan kerja sama yang baik dengan petugas karantina sehingga pemasukan komoditas pertanian ilegal dapat digagalkan," katanya.

Lebih lanjut, Musyaffak menilai, pemasukan ilegal ini telah melanggar UU Nonor 16 Tahun 1992 pasal 6 menyatakan bahwa setiap media pembawa/komoditas pertanian yang dilalulintaskan dalam wilayah Indonesia wajib dilengkapi sertifikat kesehatan, melalui tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran yang telah ditentukan, serta dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina setempat untuk dilakukan tindakan karantina. 

Kemudian, dari pihak Kantor Pos Besar Kediri menyatakan bahwa dia siap bekerja sama dengan lebih baik lagi, untuk mencegah masuknya komoditas pertanian ilegal dan belum terjamin kesehatannya. 

Sebagai informasi, sampai batas waktu yang ditentukan pemilik/kuasanya tidak dapat melengkapi dokumen yang dipersyaratkan, maka dilakukan penahanan, penolakan, dan pemusnahan. Sementara, pemusnahan ini dilakukan dengan cara dibakar pada 18 Oktober 2019 di Kediri.

Dia meyakini, selain untuk menegakan wibawa pemerintah, pemusnahan dilakukan untuk melindungi kekayaan hayati Jawa Timur dari hama penyakit tumbuhan luar negeri dan untuk memberikan efek jera kepada pemilik/pelaku.

Pada agenda pemusnahan ini, tampak disaksikan oleh Kepala  KPP Bea Cukai Kediri, Suryana, Kepala Kantor Pos Kediri, Herman Hoedoyo, BKSDA Kediri, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota Kediri, dan Pemilik Barang/Kuasanya.(ac)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00