• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kesehatan

Surabaya Tuan Rumah Indonesia PLHIV Treatment Advocacy Summit 2019

27 August
21:57 2019
1 Votes (5)

KBRN, Surabaya: Secara global, dunia menetapkan target 90-90-90 yang artinya 90% ODHA mengetahui statusnya, 90% dari mereka yang mengetahui status ada dalam pengobatan ARV dan 90% yang berada dalam pengobatan ARV, HIV di dalam tubuhnya bisa ditekan sampai dengan tingkat tidak terdeteksi. Target ini harus dicapai di tahun 2020. Angka 90-90-90 ini menjadi sangat penting karena sebuah negara hanya bisa mengendalikan epidemi dan menurunkan tingkat kematian akibat AIDS jika target ini bisa dipenuhi.  

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan, dr Wiendra Waworuntu, M.Kes, dalam sambutannya pada Indonesia PLHIV Treatment Advocacy Summit 2019 mengungkapkan, terkait dengan data pengobatan di Indonesia terdapat gap yang harus dicapai guna mampu mengendalikan epidemi HIV dan AIDS di Indonesia masih cukup besar. 

"Komitmen semua pihak dalam memastikan upaya untuk meningkatkan jumlah ODHA mengakses pengobatan menjadi penting, dengan perhitungan target yang jelas setiap tahunnya dan ketersediaan obat ARV itu sendiri."kata dr Wiendra Waworuntu, M.Kes, di Surabaya, Selasa, (27/8/2019).

Persoalan HIV dan AIDS masih menjadi sebuah ancaman bagi kesehatan di Indonesia. Berdasarkan data permodelan dengan spektrum Asia Epidemic Model (AEM), diestimasikan ada 631,635 orang dengan HIV pada tahun 2015 . Dua kelompok terbesar pengidap HIV didapati ada pada kelompok LSL dan low risk women. 

Di tataran negara di benua Asia sendiri, kondisi Indonesia cukup tertinggal. Diantara negara Asia dan Central Asia, cakupan pengobatan pada ODHA di Indonesia adalah yang paling rendah hanya 15% dari jumlah estimasi ODHA (630.000). 

"Kita akselerasi, Semua layanan semuanya harus pelayanan harus buka, bukan cuma tes tapi harus langsung obat. jadi tes dan pengobatannya itu harus sejalan. Kalau dulu Kita tes dulu nanti pengobatannya. akhirnya orang yang sudah kita temukan sekitar 45 ribu tiap tahun jangan lost follow up."tegasnya.

Menurut Aditya Wardhana dari IAC, sebenarnya pencapaian target kalau secara strategi yang dibangun di atas kertas dokumennya itu sudah menunjukkan bahwa Indonesia sudah semakin progresif. Hanya tantangannya mungkin juga Karena wilayah Indonesia yang luas dan penduduk yang beragam, bagaimana kemudian mengartikulasikan strategi itu menjadi terimplementasi. 

Contohnya, misalnya untuk angka cakupan 17%, idealnya ARV itu bisa diproduksi oleh perusahaan lokal, lalu bisa bisa didapatkan di layanan yang dekat. Prakteknya saat ini yang bisa menyediakan obat ARV itu hanya terbatas di rumah sakit rumah sakit tertentu segala macam gitu."paparnya.

Rencananya hal tersebut akan diskusikan selama 3 hari di Surabaya.

"Yang pasti akses itu harus dipermudah dan mendekati klien. Termasuk type layanan bagi target sasaran sehingga ODHA mau mengakses."jelas Aditya.

Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia masih terkonsentrasi di kelompok risiko tinggi dengan pengecualian pada dua propinsi di Tanah Papua dengan low level generalized epidemic. Kemudian, prevalensi HIV di Indonesia pada populasi di atas umur 15 tahun diestimasikan sebesar 0,32 dan sebesar 2,3 untuk prevalensi HIV di tanah papua .  

Bahkan jika dibandingkan dengan India yang jumlah estimasinya sampai 2.100.000 cakupan pengobatan pada ODHAnya sudah mencapai 57%, sementara itu Cambodia cakupan pengobatan bagi ODHAnya sudah 87% yang artinya sebentar lagi akan mencapai target 90 kedua. Bahkan Viral Suppresion pada ODHA yang telah melakukan pengobatan pun jumlahnya sangat sedikit hanya sekitar 3,69% dari total ODHA yang telah berobat saat ini.  
 
Sementara itu, Kepala Dinas kesehatan Provinsi Jawa Timur Kohar Harisantoso mengatakan, langkah kongkrit harus dilkukan melalui strategi sosialisasi, cari para pengidap HIV, obati para penderita HIV, Evaluasi.

"Supaya tidak ada lagi yang stigma. Ini perlu pondasi lebih kuat. Termasuk dari sisi ketersediaan obat dan anggarannya. Bagaimana pula pemberdayaan ODHA agar memiliki aktifitas dan bermanfaat bagi masyarakat." ungkapnya.

Kohar berharap melalui pertemuan di Surabaya, Menjadi wahana pemikiran yang konkrit dalam menyelesaikan persoalan HIV Aids di Indonesia.

Dalam memenuhi gap yang ada dalam kaskade pengobatan, Kementerian Kesehatan telah menetapkan target pengobatan yang telah dihitung per tahun sampai dengan tahun 2020. 

Target pengobatan yang telah ditetapkan secara bertahap adalah (i) 2018, 20% dari estimasi ODHA atau sebesar 132,042, (ii) 2019, 28% dari estimasi ODHA atau sebesar 184,346 dan (iii) 2020, 40% dari estimasi ODHA atau sebesar 258,340.   
 
Guna mencapai target pengobatan ini, pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmen yang tinggi dalam bentuk pengalokasian anggaran yang memadai. Dalam kurun waktu sejak 2010 hingga 2017, tercatat telah ada peningkatan yang signifikan dalam alokasi pembelian obat antiretroviral ini. Bahkan estimasi alokasi pemerintah tahun 2018 sampai 2020 dalam pembelanjaan obat antiretroviral, jika ingin mencapai target pada 258,340 ODHA on treatment pada tahun 2020 akan dibutuhkan anggaran sebesar 2,458 trilyun rupiah. 
 
Lebih dari tiga dekade HIV-AIDS berkembang di Indonesia memang telah mengalami banyak kemajuan dan perkembangan.  Terutama peran ODHA sebagai penerima manfaat sangat penting guna menciptakan demand serta memonitor dan mengadvokasi layanan agar lebih bersahabat pada kebutuhan ODHA. Keterlibatan yang bermakna dari ODHA telah memberikan sumbangsih yang sangat besar pada penanggulangan HIV di Indonesia dari tahun ke tahun.  
 
Untuk itu kerja sama Pemerintah – Komunitas – Sektor Privat akan memegang kunci penting dalam memastikan no one left behind dalam penanggulangan HIV di Indonesia sehingga mampu mencapai komitmen kesehatan yang sudah dinyatakan adalam Undang-Undang Dasar 1945. 

Indonesia PLHIV Treatment Summit merupakan sebuah ajang pertemuan besar bagi seluruh ODHA di Indonesia memiliki tujuan untuk kembali merefleksikan, berdiskusi dan menstrategikan kembali selama lebih dari tiga dekade penanggulangan HIV di Indonesia yang berdampak pada kesehatan dan akses pengobatan ODHA. 

Secara bersamaan kemudian menata visi secara bersama program penanggulangan HIV di Indonesia hingga 2030 dengan menekankan pelibatan dan memastikan keberlanjutan peran ODHA secara bermakna melalui kerja sama Pemerintah – Komunitas – Sektor 
Privat.  
 
Tujuan besar dari Indonesia PLHIV Treatment Summit adalah untuk merefleksikan, berdiskusi dan menstrategikan kembali penanggulangan HIV di Indonesia selama lebih dari tiga dekade yang berdampak pada kesehatan dan akses pengobatan ODHA. 
 
Hasil yang diharapkan adalah:
 
1. Mengumpulkan secara bersama ODHA, pemerintah, penggiat HIV, akademisi, para ahli dan mitra pembangunan untuk melihat perjalanan 3 dekade program penanggulangan HIV dan menata visi ke depan program penanggulangan HIV yang berdampak kepada kesehatan dan akses pengobatan.  

2. Diskusi update pedoman pengobatan HIV dan regimen ARV terbaru demi meningkatkan treatment literacy, kepatuhan dan cakupan pengobatan pada ODHA.  

3. Adanya pembahasan strategi kebijakan keberlanjutan pengobatan HIV melalui kerjasama Pemerintah – Komunitas dan Sektor Privat.  

4. Melihat kontribusi dan peran kritis ODHA, penggiat HIV dalam implementasi program penanggulangan HIV khususnya untuk pengobatan HIV.  

5. Adanya visi dan strategi advokasi ke depan program penanggulangan HIV khususnya cakupan pengobatan ODHA demi mencapai target eliminasi HIV di 2030.  

Indonesia PLHIV Treatment Advocacy Summit 2019 
berlangsung dari Selasa – Jumat, 27 – 30 Agustus 2019
di Fairfield by Marriott Surabaya. Acara yang terbagi dalam 23 sesi ini diikuti oleh 233 peserta, dimana 70% diantranya adalah ODHA.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00