• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Kampung Flory, Destinasi Wisata Berbasis Alam dan Pertanian

23 August
13:15 2019
0 Votes (0)

KBRN, Yogyakarta - Kawasan Malioboro memang masih menjadi jawara pusat kunjungan wisata di Kota Gudeg, Yogyakarta. Namun, tidak ada salahnya, usai jalan-jalan dan berbelanja di Malioboro, wisatawan lanjut menuju desa wisata di pinggiran Kabupaten Sleman yang populer dengan nama Kampung Flory.

Desa wisata ini berada di pinggir Kali Bedog yang airnya dikenal jernih dengan air gemericik plus suasana khas pedesaan yang sawahnya masih menghampar.

Lokasi Kampung Flory seluas tiga hektar yang terletak di Desa Wisata Tlogoadi, Mlati, Kabupaten Sleman, Yogyakarta itu cukup mudah di akses lewat Jalan Magelang-Yogya atau tidak sampai 20 kilometer di utara Jalan Malioboro.

Desa wisata yang resmi beroperasi sejak 2016 itu, kerap menjadi langganan outbond dan plesiran keluarga karena memiliki fasilitas cukup lengkap. Ada sarana outbond, wahana bermain, kolam terapi ikan, gazebo, kedai kopi, track sepeda, sentra kuliner atau main air langsung di Kali Bedog nan jernih dan dangkal.

"Kampung Flory itu memiliki dua pengelolaan, Taruna Tani dan Desa Wisata Flory," ujar Sudihartono, Pendiri Kampung Flori, Jumat, (23/8/2019).

Zona Taruna Tani merupakan area pertanian di Kampung Flory yang di dalamnya terdapat usaha tanaman hias, tanaman buah, dan sentra kuliner bernama Iwak Kalen.

Sedangkan zona Dewi Flory merupakan kawasan desa wisata yang menyajikan jasa penginapan (homestay), area outbond, dan sentra kuliner Bali Ndeso serta kedai kopi bernama Kopi Keceh.

Sudihartono menuturkan Kampung Flory awalnya terbentuk dari inisiatif kelompok pemuda desa dalam wadah bernama Taruna Tani tahun 2015 silam yang berfokus pada kegiatan budidaya tanaman hias dan hortikultura.

Namun dari kegiatan itu lantas muncul ide untuk menularkan ilmu budidaya itu dalam bentuk wadah baru yang berfokus pada edukasi bernama Dewi atau Desa Wisata Flory. Akhirnya brand Kampung Flory pun lahir dan menyusul terbentuknya sentra-sentra kuliner.

Sudihartono yang telah 15 tahun lebih malang melintang di dunia pertanian juga berusaha melibatkan warga desa untuk ikut mengelola Kampung Flory.

Usaha ini, katanya, memang sengaja dibangun untuk turut meningkatkan perekonomian warga sekitar.

Kampung Flory ini dikelola seluruhnya oleh 150 KK warga desa setempat dengan omzet Rp. 1 Miliar/bulan. Tahun 2019 ini ditargetkan naik menjadi Rp. 1,2 Miliar/ bulan.

"Salah satu bentuk pemberdayaan desa diwujudkannya di Puri Mataram. Kendati tergabung ke dalam manajemen Kampung Flory, Puri Mataram didirikan sebagai Badan Usaha Milik Desa."ungkapnya.

Dengan pengelolaan yang profesional, Sudihartono berharap, Puri Mataram bisa ikut membantu meningkatkan kehidupan warga desa.

"Melibatkan masyarakat sekitar dibutuhkan upaya lebih keras, sebab SDMnya juga harus didukung. Kita latih mereka khususnya anak-anak muda berorganisasi lewat kelompok tani. Lalu ada bantuan dari Dinas instansi terkait."ujarnya.

Untuk outbond sendiri di Kampung Flory relatif murah, hanya sekitar Rp 25-100 ribu per orang. "Outbond yang tersedia untuk berbagai usia," ujarnya.

Meski mulai mapan membawa Kampung Flory menjadi wisata alternatif di Yogyakarta, diakui Sudihartono, pihaknya masih belum puas dan tetap berharap sentuhan pemerintah daerah juga swasta demi menyempurnakan desa wisata itu. 

"Kami ingin membawa Kampung Flory ini menjadi sarana penggerak perekonomian warga sekitar, kalau bisa jadi percontohan nasional, sehingga semua bisa ikut merasakan peningkatan kesejahteraan dari destinasi wisata ini," ujarnya.

Sementara itu Kepala Perwakilan BI Jawa Timur Difi A. Djihansyah dalam kesempatan itu mengatakan, model pengembangan desa seperti Kampung Flory sebenarnya telah ada di Jawa Timur, misalnya di Brenjonk Mojokerto. Namun demikian dengan adanya sharing pengalaman tentu akan memberi ilmu baru bagi masyrakat desa yang ingin menjadikan wilayahnya sebagai penggerak perekonomian melalui wisata.

Difi mengaku para pemuda di sekitar Kampung Flory memiliki kesadaran yang tinggi di sektor ekonomi. Para pemuda menilai saat ini untuk mencari uang tak hanya dilakukan dengan menjual produk pertanian, namun juga wisata pertanian.

“Bahwa jual view pemandangan, jual aktivitas, itu duitnya lebih banyak daripada jual produk pertanian. Karena kebutuhan orang untuk bisa outbond sekarang makin bertambah makin besar, anggarannya makin besar. Ini yang yang coba ditangkap disini. Oleh karena itulah BI masuk dan buat sinergi dengan mereka. Jadi intinya kalau BI masuk itu bukan dari nol, tapi bibitnya sudah ada nah tinggal kita sinergikan,” pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00