• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Politik & Pemerintahan

NKRI Bersyariah ala Gus Dur dan Ruang Publik yang Manusiawi

31 July
09:00 2019
0 Votes (0)

KBRN, Surabaya : Pancasila kembali mendapat ujian dari sekelompok orang, yang menilai bahwa Bangsa Indonesia perlu ditegakkan syariat. Mereka beranggapan, bahwa kondisi Indonesia memerlukan pegangan yang berlandaskan Islam, untuk mengendalikan situasi dan kondisi. 

Sosok Habib Rizieq, yang sejak 2016 lalu telah menggaungkan NKRI Bersyariah. Namun memang tidak jelas konsep NKRI Bersyariah yang dimaksud oleh Habib Rizieq. Bahkan Denny JA juga mengulas dan mengritik keras konsep yang diusung Habib pendukung Prabowo ini. 

Abdul Cholik, Pengamat Politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya mengatakan, konsep NKRI Bersyariah sedianya telah menjadi pembicarakan banyak kalangan, salah satunya oleh sosok KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. 

"Jadi ini adalah pandangan-pandangan yang memang sudah banyak dibicarakan NKRI bersyariah itu. Nah sebenarnya dalam konteks konsep itu sudah banyak didengungkan oleh salah satunya adalah oleh Gus Dur oleh Kyai Haji Abdurrahman Wahid," katanya, Rabu (31/7/2019).

Tetapi, kata Cholik, konsep NKRI Bersyariah yang digaungkan Habib Rizieq sangat berbeda jauh dengan konsep yang disampaikan oleh Presiden Indonesia ke 4 tersebut, yaitu Pribumisasi Islam. Maksudnya adalah, menjadikan Pancasila tetap sebagai dasar negara, tetapi ajaran Islam sebagai pemersatu.

"Apa yang disebut dengan Pribumisasi Islam adalah sebuah konsep di mana meskipun Indonesia itu adalah negara Pancasila, tetapi Islam itu menjadi menyatu dengan kehidupan masyarakat Indonesia," ujar Choliq. 

Konsep tersebut, lanjut Choliq, penerapan Islam dalam kehiduoan berbangsa dan bernegara yang dimaksud Gus Dur waktu itu adalah, bukan dalam konteks Islam secara formal atau menjadikan NKRI ini secara penuh berasazkan Islam, tetapi lebih kepada nilai nilai Islam yang dipraktekkan dalam kehidupan.

"Dalam hal ini adalah bukan dalam konteks Islam secara formal akan tetapi adalah nilai-nilai Islam itu menjadi salah satu pijakan dasar tujuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," tambahnya. 

Namun konsep NKRI Bersyariah yang digaungkan oleh Habib Rizieq, menurut Choliq, ada nuansa ingin menghidupkan kembali Piagam Jakarta. Dimana dalam Piagam Jakarta itu, adalah mewajibkan seluruh umat Islam itu tunduk patuh kepada ajaran ajaran Islam.

"Sebagaimana yang tertuang dalam Piagam Jakarta itu tentang sila Ketuhanan Yang Maha Esa, berkaitan dengan kewajiban untuk menjalankan syariat sesuai dengan yang dilakukan oleh umat Islam, diyakini oleh umat Islam," tuturnya. 

Lebih jauh Choliq memaparkan, konsep NKRI Bersyariah yang digaungkan Gus Dur melalui Pribumisasi Islam artinya nilai-nilai Islam itu tidak merubah yang namanya Pancasila. Tetapi Habib Rizieq itu ada kecenderungan untuk menghidupkan kembali yang namanya Piagam Jakarta.

"Memang ada perbedaan-perbedaan itu dari sisi nomenklatur, bahasa NKRI Bersyariah dengan Pribumisasi Islam," ucapnya. 

Disisi lain, Denny JA juga menyoroti Ruang Publik yang Manusiawi. Bahkan menunjukkan temuan salah satu lembaga, ternyata Top 10 negara yang paling islami, yang paling tinggi skor Islamicitynya adalah negara di Barat. Di tahun 2017, negara itu antara lain: Selandia Baru, Netherland, Swedia, Irlandia, Switzerland, Denmark, Kanada, Australia.

Sedangkan negara yang mayoritasnya Muslim justru skor Islamicitynya biasa saja dan cenderung rendah. Misalnya: Malaysia (rangking 43), United Arab Emirat (rangking 47), Indonesia (rangking 74), dan Saudi Arabia (rangking 88).

Kesimpulan riset menohok ini, kata Denny JA: masyarakat yang mempraktekkan nilai-nilai sosial yang islami, yang dianjurkan Al Quran justru terjadi di negara Barat. Banyak negara yang bahkan berlabel negara Islam tidak berhasil menggapai rangking teratas dalam mempraktekkan nilai yang islami.

Berkaitan dengan pandangan pandangan bahwa negara barat justru lebih toleran dibandingkan dengan negara-negara Islam, Choliq tidak menampik hal tersebut, dikatakannya dalam banyak kasus juga banyak yang menyatakan bahwa negara Barat itu lebih Islami dibandingkan dengan negara Islam.

"Tapi dalam konteks tertentu ya, dalam konteks nilai, dalam konteks misalnya dalam hal toleransi, misalnya dalam hal penegakan hak asasi manusia. Tapi dalam konteks konteks formal itu justru menurut saya adalah mereka bukan Islam tetapi mereka Islami," ungkapnya. 

Sikap Islami yang dipraktekkan oleh negara nehara Barat itu, lanjut Choliq, adalah ajaran Islam secara penuh diterapkan dalam kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat, dan bersosial. Seperti di negara-negara Barat sebagaimana misalnya di Selandia baru.

Choliq menilai, apa yang sudah dilakukan di Indonesia dalam konteks berbangsa dan bernegara dengan menempatkan Pancasila sebagai dasar negara itu adalah on the track. Ketika kemudian ada pandangan-pandangan lain berkaitan dengan konsep negara NKRI bersyariah itu adalah sekali lagi dalam rangka untuk menghidupkan kembali Piagam Jakarta.

"Dimana perbedaannya dengan Pancasila itu adalah bahwa syariat Islam wajib dilaksanakan oleh para pemeluknya berkaitan dengan pandangan pandangan yang menyatakan ruang-ruang publik," ujarnya. 

Choliq kembali menegaskan, bahwa yang namanya NKRI Bersyariah itu adalah dalam konteks Pribumisasi Islam. Dan Pancasila itu adalah merupakan harga mati yang sudah tidak bisa diutak-atik. Karena sesungguhnya adalah Pancasila itu dari sila 1 sampai ke 5 itu adalah merupakan penerjemahan dari Alquran dan hadis.

"Dari nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-quran dan begitu juga dengan bahasa-bahasa yang dikemas oleh para pendiri bangsa dengan bahasa Pancasila itu dan tidak ada satupun dari sila-sila Pancasila itu yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam," tegasnya. 

Penegasan kedua yang disoroti Choliq, adalah bahwa ada kecenderungan untuk membawa paham NKRI Bersyariah itu ditarik dalam konteks politik, dalam konteks kepentingan, tetapi konteks politik kepentingan itu kemudian masuk, tentu saja adalah nuansanya berbeda pandangan pandangan Gus Dur.

"Adalah pandangan pandangan yang lebih fleksibel yang mudah diterima oleh sebagian masyarakat Indonesia," tandasnya.

Foto : islam.co

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00