• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Walikota Kediri Apresiasi Usaha Produsen Obat Pembasmi Hama Berbahan Alami

23 June
18:56 2019
0 Votes (0)

RRI, Kediri: Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar memberikan apresiasi besar terhadap usaha yang dikembangkan produsen obat pembasmi hama dengan menggunakan bahan alami, di Kota Kediri. Pelaku usaha ini, bernama Mohamad Zaini, warga Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

"Saya lihat, produk pembasmi hama yang diproduksi Zaini layak dikembangkan. Karena ini, pakai bahan baku alami alias organik, bukan kimia sehingga produknya lain dari obat pembasmi hama di pasaran," kata Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar, di Kota Kediri, Minggu (23/6/2019).

Menanggapi hal ini, Mohamad Zaini mengaku, produk dengan brand "Zainkent" ini tak hanya dapat membasmi hama, tapi sampai telur-telurnya pun ikut mati. Contohnya wereng cokelat, kalau disemprot obat pembasmi ini matinya agak lama.

"Namun, kalau pakai obat kimia memang bisa langsung mati dan umumnya telurnya tetap hidup. Tapi ini berbeda, produk kami pakai bahan alami berupa fermentasi kentang dan kedelai," katanya.

Mengenai latar belakang usahanya, Zaini mengaku, hal ini karena dulu dia khawatir dengan tanamannya yang mati diserang hama. Kemudian, dengan imbauan dari Dinas Pertanian setempat, Zaini disekolahkan ke Universitas Brawijaya Malang.

"Selama di Malang, saya disekolahkan untuk membuat obat pembasmi hama dari bahan organik. Akhirnya obat ini saya coba pada lahan setengah hektare, sejak tahun 2018 hingga sekarang obat ini saya pakai dengan baik dan hasilnya bagus," katanya.

Terkait penggunaan obat ini, tambah dia, tiap satu tangki dibutuhkan satu gelas air minum mineral. Untuk selanjutnya, petani hanya perlu menyesuaikan dengan kebutuhan obat ini pada tanaman pertaniannya.

"Soal harga, kami tawarkan dengan harga terjangkau, di mana sekitar Rp 20 ribu per botol (ukuran 900 mililiter). Kalau produksi, dalam satu hari bisa mencapai 120 botol," katanya.

Sementara itu, lanjut dia, untuk pemasaran produk tersebut, pihaknya mengoptimalkan cara getok tular alias dari mulut ke mulut. Akhirnya, pembeli tak hanya datang dari kalangan petani di Kediri, tapi mulai meluas hingga ke Ponorogo, dan daerah lain di Jawa Timur. (ac)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00