• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Seni & Budaya

Melalui Prabubakso, Ning Surabaya 2019 Ingin Kenalkan Batik Semanggi

7 May
21:36 2019
0 Votes (0)

KBRN, Surabaya : Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Surabaya (Ubaya), Phinta Mutiara Kusuma Simangungsong telah terpilih sebagai Ning Surabaya 2019, melalui program kerja berjudul Prabubakso yaitu Peragaan Busana Batik Suroboyo.

Grand Final pemilihan Cak dan Ning Surabaya 2019 digelar di Convention Hall Lt. 6 Tunjungan Plaza 3, Surabaya. 

Tongkat estafet Cak dan Ning Surabaya 2019 yang diterima menjadi simbol awal penugasan yang harus diemban Ning Phinta selama satu tahun kedepan sebagai Duta Pariwisata dalam memperkenalkan dan membanggakan Kota Surabaya. 

Setiap finalis memiliki program kerja sendiri dalam mengembangkan pariwisata dan budaya di kota Surabaya yang mengangkat tema bertajuk The Power Of Surabaya. 

Tema yang diangkat bertujuan mengajak anak muda bisa menggunakan bakat dan talentanya dalam mengenalkan Kota Surabaya kepada masyarakat. 

Melihat kondisi warga Surabaya yang masih jarang menggunakan batik Semanggi, Ning Phinta membuat program kerja berjudul Prabubakso yaitu Peragaan Busana Batik Suroboyo. 

Melalui program kerja inilah, mahasiswa Fakultas Hukum Ubaya angkatan 2018 ini membawa pulang selempang Ning Surabaya 2019. 

Program kerja ini merupakan salah satu program yang akan diimplementasikan dengan mengajak anak-anak muda untuk mengenal dan menggunakan batik Surabaya. 

"Saya berencana untuk memperagakannya di taman-taman kota Surabaya agar warga Surabaya dari anak-anak, remaja, hingga lansia dapat melihat bagaimana batik Semanggi, batik khas kota Surabaya," katanya, selasa (7/5/2019). 

"Saya ingin nantinya batik Surabaya juga dapat dikenakan oleh wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke kota Surabaya," lanjutnya.

Ajang pemilihan Cak dan Ning Surabaya 2019 menjadi kompetisi pertama bagi Ning Phinta di bidang pariwisata dan budaya.

"Tidak terduga bisa diberi kepercayaan untuk mengemban tugas sebagai Ning Surabaya 2019. Saya melihat banyak Ning yang memiliki potensi yang hebat dan lebih baik," ujarnya. 

"Namun, dengan kepercayaan dan tanggung jawab besar yang diberikan maka saya harus siap membawa kota Surabaya lebih dikenal oleh masyarakat luas hingga di tingkat Internasional," ungkap gadis berusia 19 tahun ini. 

Ning Phinta bersama 15 pasang finalis Cak dan Ning menjalani karantina selama 6 hari di Graha Widya Bhakti, Surabaya. Pada masa karantina berlangsung, gadis yang memiliki hobi membaca buku puisi ini mendapat banyak pengalaman dan wawasan terkait building character, personal branding, team work, dan time management. 

"Melalui ajang kompetisi ini, kita diajak untuk saling menghargai satu sama lain dan dilatih untuk kompak. Sebenarnya pemilihan Cak dan Ning bukanlah tempat untuk bersaing tapi membangun sebuah keluarga, karena kita memiliki misi dan tujuan yang sama untuk kemajuan pariwisata kota Surabaya," jelas gadis asli Surabaya ini. 

Mendapat gelar sebagai Ning adalah sebuah anugerah dan tanggung jawab yang besar. Persiapan yang dilakukan tidak hanya sebelum kompetisi berlangsung, namun juga dilakukan setelah dirinya dinobatkan sebagai Ning Surabaya 2019. 

"Setiap hari saya belajar sejarah dan budaya Kota Surabaya. Saya ingin berpesan untuk anak muda, jangan malu untuk terus belajar dan mengenal budaya di kota Surabaya, sebagai anak Surabaya tentu kita harus paham dan tahu Kota Surabaya. Semoga anak muda Kota Surabaya bisa mengenal, melestarikan, dan lebih mencintai budaya di kota Surabaya," pesan Ning Phinta. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00