• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ruang Publik

Pertanyakan Ruislag Tanah Kas Desa, Warga Medokan Semampir Demo di Balai kota

13 March
15:42 2019
0 Votes (0)

KBRN, Surabaya : Puluhan warga Medokan Semampir melakukan unjuk rasa di Balai Kota, Rabu (13/3). Sembari membawa beberapa spanduk, mereka memprotes alih fungsi lahan seluas 6,1 hekatar di wilayahnya, yang sebelumnya merupakan tanah kas desa beralih menjadi hak milik perorangan, dan akhirnya kembali dibeli oleh pemerintah kota Surabaya. “Kami menanyakan kepada pemkot keberadaan tanah kas desa yang dulu pernah diruislag, karena banyak menyalahi aturan,” kata Miko Saleh, Ketua Umum Lembaga Anti Korupsi East Java Corruption And Judicial Watch Organization ECJW saat mendampingi warga

Miko mengkritisi pembelian aset negara menggunakan dana APBD. Ia mengungkapkan, Pemkot Surabaya membeli tanah di Medokan Semampir untuk perluasan lahan makam di kawasan Surabaya Timur. Tanah yang dipersoalkan warga, secara fisik berada di Medokan Semampir berbatasan dengan Keputih. Namun, dalam sertfikatnya tertulis berada di Keputih. “Padahal, lahan milik pemkot. Namun dibeli seakan milik perseorangan,” tegasnya

Ia menyampaikan warga Medokan Semampir menuntut pemerintah kota transparan soal proses ruislag yang berlangsung sekitar Tahun 2002, terutama saat tanah tersebut tiba-tiba menjadi milik perseorangan. Miko mengatakan, bahwa tanah ganjaran awalnya seluas 6,1 Hektar. Namun fakta dilapangan hanya tinggal kurang dari 4 hektar dan, terbagi menjadi tiga bagian. “Yang jadi persoalan 2,2 hektar dari luas 6,1 hektar. Dan, di situ berdiri nama seseorang,” kata Caleg DPRD Jatim Dapil 5 Jember – Lumajang dari Partai Perindo.

Aksi unjuk rasa warga Medokan Semampir mendapat respon pemerintah kota. Beberapa perwakilan bertemu dengan Kepala Dinas Pengelolan Tanah dan Bangunan, Maria Theresia Rahayu, dan beberapa pejabat lainnya. Pertemuan tersebut berlangsung singkat karena pemerintah kota akan mengundang warga dan beberapa pihak terkait untuk menuntaskannya. Usai menemuia warga, Maria Theresia mengatakan, bahwa pihaknya tak bisa merespon langsung tuntutan warga, karena harus mengklarifikasi terlebih dahulu datanya. “Jika masalah tanah gak ada datanya kuaitir keliru,” sebutnya Perempuan yang akrab disapa Yayuk ini mengungkapkan, pihaknya akan mengkroscek data lahan yang dipersoalkan warga ke kelurahan setempat. Apalagi, menurutnya kasus tersebut juga berlangsung cukup lama. “Harapan kita ada solusi terbaik,” katanya

Dia menyebut, data yang diperlukan adalah berkiatan dengan kapan ruislag dilakukan, lokasinya dimana, siapa yang melakukan, kemudian prosedurnya bagaimana. “Kalau belum menemukan data itu, saya ngomong bisa keliru,” terangnya Maria Theresia menyampaikan, pertemuan dengan warga Medokan Semampir direncanakan, Rabu (20/3). Dalam petrtemuan tersebut, selain warga, juga akan diiukuti perwakilan kelurahan, kecamatan, Dinas Tanah dan Bangunan, Kejaksaan dan Kepolisian.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00