• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Menanti "Keramahan" Energi Di Negeriku

3 November
18:04 2018
1 Votes (5)

RRI, Kediri : Siang itu, di tengah teriknya sang mentari, sekitar pukul 12.00 WIB, Mohammad Irvan, pelajar kelas 3, di salah satu SMK Negeri di Kabupaten Kediri berangkat dari rumah menuju sekolah. Dengan mengendarai sepeda motor milik neneknya, dia menempuh perjalanan dari Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri menuju gedung sekolahnya yang berada di Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Untuk sampai di lokasi, biasanya Irvan, panggilan akrab siswa tersebut, membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Namun, karena siang itu dia melihat tangki bensin di motornya, hanya tersisa sedikit bahan bakar, maka kendaraan roda duanya pun dibelokkan sejenak ke sebuah pom bensin di Desa Maron, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri. Pemilihan SPBU ini, bukan tanpa sebab, tapi karena memang area tersebut kerap dilaluinya, saat berangkat sekolah.

Akan tetapi, sesampainya di lokasi pengisian bahan bakar ini, pria dengan hobi di bidang otomotif tersebut terpaksa gigit jari. Lantaran, stok BBM jenis premium yang biasa digunakannya dalam keadaan kosong. Bahkan, tepat sebelum di lajur pembelian bahan bakar ini terpasang papan pemberitahuan "BBM sedang dalam pengiriman".

"Sejak menempuh pendidikan di SMK ini, jadwal masuk sekolah saya memang siang hari, karena ada pembagian jadwal dengan kelas lain. Tapi, dengan adanya kekosongan stok bensin ini, saya jadi terlambat masuk sekolah, karena harus mencari BBM di SPBU lain," kata pelajar pengguna BBM jenis premium, Mohammad Irvan, di Kabupaten Kediri, Sabtu (3/11/2018).

Kondisi ini, lantaran selama ini premium adalah bahan bakar yang "ramah" bagi kantong seorang pelajar, termasuk Irvan. Sementara, kalaupun harus memaksakan diri membeli Bahan Bakar Khusus (BBK) yang notabene non subsidi, pihaknya mengaku tidak sanggup. Apalagi, baik BBK jenis pertalite maupun pertamax 92, dan pertamax 95, harganya tidak stabil dan cenderung terlampau mahal.

Padahal, karena adanya keterbatasan ekonomi di keluarganya, dia terpaksa dibesarkan oleh neneknya di Kabupaten Kediri. Di sisi lain, sejak dilahirkan hingga berusia 18 tahun ini, hidupnya terpisah dengan kedua orang tuanya, yang merantau dan mencari nafkah di Kota Pahlawan, Surabaya.

"Iya, mau bagaimana lagi, agar uang saku tetap bisa cukup membeli makan pas jam istirahat, lebih baik terlambat masuk sekolah sebentar. Yang penting, motor saya bisa terisi bensin yang harganya terjangkau, dan selesai sekolah tetap bisa pulang ke rumah tanpa harus menuntun motor," ujarnya.

Apalagi, baik di Kota Kediri maupun di Kabupaten Kediri, jarang sekali dijumpai penjual BBM jenis premium. Kalaupun ada, biasanya mereka adalah penjual bensin eceran. Tapi, untuk sampai ke lokasi penjualan ini umumnya sangat jauh. Di sisi lain, di area ini juga menyebar berbagai pemilik usaha pom bensin mini atau yang sering disebut Pertamini. Namun tampaknya, tidak banyak Pertamini yang menjual premium, melainkan hanya menyediakan pertalite dan pertamax.

Walau begitu, Irvan pun merinci, jatah uang saku yang diperolehnya dari nenek, memang sangat terbatas atau sebesar Rp 10.000 per hari. Sementara, untuk berangkat ke sekolah, maka setiap dua hari sekali pihaknya harus membeli premium sekitar Rp 20.000. Di lain pihak, kini harga premium di Kota Kediri berkisar Rp 7.500 per liter.

Dengan demikian, sebisa mungkin Irvan harus menyisihkan uang jajannya,  demi menyelesaikan pendidikannya yang kini di jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Alhasil, dia berharap agar pemerintah berupaya sekuat tenaga, supaya ketersediaan premium ini dapat terjaga sampai kapan pun.

"Saya juga berharap kepada Pertamina, sebagai penyedia BBM di Tanah Air, bisa memberikan jaminan tidak adanya kelangkaan stok. Saya pun berterima kasih kepada pemerintah, yang beberapa waktu lalu, tidak jadi menaikkan harga premium, sehingga masyarakat kurang mampu masih bisa menggantungkan hidupnya dari BBM jenis ini," katanya.

Di lokasi berbeda, seiring terjadinya penguatan nilai tukar Dolar AS terhadap mata uang Rupiah, yang berimbas pada revisi harga pertamax, Febry Tri Sukma, ibu rumah tangga dan pengguna BBK jenis pertamax di Kota Kediri, mengaku, tidak terlalu terpengaruh dengan kenaikan harga pertamax.

"Buat saya, yang terpenting stok bahan bakarnya aman dan tidak langka. Jadi, dengan terjaganya pasokan energi jenis ini maka aktivitas saya sehari-hari tetap lancar," katanya.

Akan tetapi, jika melihat perjalanan harga pertamax, kenaikan tersebut telah dirasakan konsumen sejak bulan Juli 2018.

Hal inipun, diamini oleh, Rico Raspati, Section Head Communication PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region V Area Jatim Balinus, saat dihubungi dari Kediri.

Rico membenarkan, kenaikan harga BBM non subsidi, jenis pertamax tampak per 1 Juli 2018. Kemudian, hingga pertengahan Oktober 2018, harga pertamax kembali terkoreksi.

"Revisi harga pertamax ini sudah kompetitif, jika dibandingkan dengan perusahaan lain. Kenaikan harga ini, karena mengacu pada perkembangan harga minyak mentah dunia yang semakin meningkat, di mana per 1 Juli lalu, menyentuh 75 dolar AS per barel, tapi semoga akhir tahun ini bisa kembali stabil," kata Rico.

Sebelumnya, tim survei dari PT Pertamina (Persero) MOR V Jatim, Balinus telah memiliki data terkait penggunaan bahan bakar di Jawa Timur pada tahun 2018. Dari pemantauannya kepada ratusan mahasiswa di Jatim, diketahui sebanyak 48,5 persen dari mahasiswa merupakan konsumen pertalite. Kemudian, 46,8 persen lainnya adalah pengguna pertamax. Berikutnya 3,3 persen konsumen premium dan 1,2 persen pengguna solar.

"Melalui survei ini pula, kami mengetahui sebanyak 90 persen responden tidak menggunakan premium. Mereka lebih memiliki BBK, karena dinilai ramah lingkungan dan membuat mesin kendaraan lebih awet," katanya.

Berbeda dengan Rico, kenaikan harga bahan bakar khusus (BBK) jenis pertamax, justru disikapi lain oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri, Ellyn T. Brahmana.

Ellyn menyatakan, koreksi harga pertamax memiliki andil besar terhadap terjadinya inflasi di Kota Kediri selama bulan Oktober 2018. Yang mana, selama bulan Oktober 2018 Kota Tahu, Kediri mengalami inflasi mencapai 0,16 persen.

Menurut Ellyn, pada bulan ke-10 tahun ini, harga pertamax naik 1,4 persen. Salah satu energi yang digemari masyarakat ini, bahkan tampak memberikan kontribusi terhadap inflasi sebesar 0,81 persen, atau paling besar dibandingkan andil komoditas lain terhadap inflasi.

Dari catatan BPS setempat, kenaikan harga pertamax ini dikarenakan pengaruh faktor eksternal. Khususnya, yang terlihat pada pertengahan bulan Oktober 2018. Salah satunya akibat makin menguatnya nilai tukar Dolar AS terhadap Rupiah. Apalagi, sempat menyentuh Rp 15.000 lebih per Dolar AS.

"Di dalam kandungan pertamax ini, ada bahan baku yang komposisinya impor. Lantas, saja ketika Dolar AS menguat, harga BBK ini langsung terimbas," katanya.

Menanggapi hal serupa, Nasrullah, perwakilan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri, mengimbau, kini mau tidak mau, masyarakat juga harus menyadari bahwa beberapa tahun mendatang, BBM jenis premium bukanlah energi baru terbarukan (EBT). Akan tetapi, suatu saat stok bensin bakal habis dari muka bumi.

Oleh karenanya, diperlukan langkah strategis dari Pemerintah Pusat bersama PT Pertamina (Persero), serta pihak terkait guna menyediakan bahan bakar yang termasuk EBT, tapi memiliki harga keekonomian yang terjangkau bagi rakyat. Di samping itu, bahan bakar tersebut juga harus bisa diproduksi dalam jumlah massal dan selalu ada sampai kapanpun, alias pasokannya terjamin tanpa kelangkaan di pasaran. Hal lainnya adalah, perlu dipertimbangkan juga bahwa inovasi energi pada masa mendatang, diharapkan tak mudah terguncang oleh faktor eksternal, seperti penguatan Dolar AS terhadap Rupiah.

Idealnya pula, para ahli di sektor perminyakan asal Indonesia bisa menemukan formula tepat, dalam menghasilkan Energi Baru Terbarukan dengan bahan baku lokal yang aman, ramah lingkungan, dan mudah didapat di Tanah Air. Ke depan, masyarakat bisa menikmati bahan bakar dengan harga stabil, tanpa harus khawatir terhadap dampak keberlanjutan dari kenaikan harga energi. Terlebih lagi, umumnya berpengaruh pada meningkatnya harga bahan pangan di daerah, serta tarif transportasi di negeri tercinta ini. (ac)

  • Tentang Penulis

    Ayu Citra Sukma Rahayu

    Reporter SP RRI Kediri

  • Tentang Editor

    Admin_Surabaya

    <strong>Team</strong> <strong>Website RRI Surabaya / website.rrisby@gmail.com</strong>

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00