• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Pariwisata

Bondowoso, Republik Kopi Yang Mendunia

28 August
13:36 2018
2 Votes (3)

KBRN, Surabaya: Indonesia merupakan salah satu pemain utama yang bahkan masuk dalam daftar negara penghasil kopi terbesar di dunia nomor empat. Selain itu, Indonesia memiliki varietas atau jenis kopi yang sangat beragam dan tersebar hampir di setiap daerah mulai dari Sabang hingga Merauke. Sebut saja beberapa jenis yang populer diantaranya Aceh Gayo, Java Ijen, Flores Bajawa, Toraja, Papua Wamena, dan masih banyak lagi.

Kepopuleran kopi tidak hanya menarik perhatian para pebisnis, namun juga pemerintah. Salah satunya adalah kabupaten Bondowoso yang kini bahkan mendeklarasikan dirinya sebagai Republik Kopi. Hal ini berlaku sejak peresmian yang dilakukan oleh Bupati Amin Said Husni pada tanggal 22 Mei 2016 lalu. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya mengangkat nama kabupaten Bondowoso hingga ke kancah internasional. 

Kabupaten Bondowoso, satu-satunya kabupaten di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur yang tidak memiliki wilayah laut itu, kini semerbak namanya. Kopi Arabica khas Bondowoso telah mendapat pengakuan dunia internasional. Bahkan, sepertiga dari produksi kopi Arabica Java Ijen Raung asal Bondowoso telah menembus pasar Eropa.

Kabupaten Bondowoso memang memiliki suhu udara yang cukup sejuk berkisar 15,40 hingga 25,10 derajat celcius. Kabupaten yang memiliki sebutan "Republik Kopi" itu memang dikelilingi pegunungan. Ada pegunungan Kendeng Utara dengan puncaknya Gunung Raung, Gunung Ijen di sebelah timur. Selain itu, kaki pengunungan Hyang dengan puncak Gunung Argopuro, Gunung Krincing dan Gunung Kilap berada di sebelah barat. Sementara, Gunung Alas Sereh, Gunung Biser, dan Gunung Bendusa di sisi utara. Sekira 60 persen masyarakat pra-sejahtera di Bondowoso bekerja sebagai petani. Sayangnya, lahan pertanian yang mereka miliki sangat terbatas.

Rerata petani Bondowoso hanya memiliki lahan seluas 0,3 hektar. Bahkan, sebagian warga Bondowoso menjadi buruh tani karena sama sekali tidak memiliki lahan. Meski demikian iklim Bondowoso sangat cocok untuk budi daya kopi. Oleh karenanya, Kementerian Pertanian memberi 500 bibit pohon kopi untuk rumah tangga miskin (RTM) di Bondowoso.

Dengan adanya 3 klaster pertanian, diharapkan Bondowoso bisa menghasilkan kopi lebih banyak lagi. Ditargetkan produksi kopi Indonesia mencapai 2 juta ton per hektar agar bisa bersaing dengan Vietnam. Sebab produksi kopi Indonesia belum optimal. Dengan total kebun kopi seluas 1,2 juta hektar, produktivitas Indonesia hanya 500 kilogram per hektar.

Bupati Bondowoso Amin Said Husni menyebut, Kerja bersama Sejak 2011 anatara Pemerintah Kabupaten Bondowoso dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), Perhutani, perbankan, dan asosiasi petani kopi untuk mengembangkan kopi arabica. Sinergi itu pun membuahkan hasil. Pada 2013, kopi Arabica Java Ijen Raung mendapat sertifikat internasional. 

"Tanaman kopi yang ditanam di lahan milik Perhutani itu dikelola para petani. Hingga kini, lebih dari 1.300 hektar lahan Perhutani yang digarap para petani Bondowoso. Produksi kopi Arabica Java Ijen Raung yang dihasilkan pada 2017 mencapai 2.900 ton per tahun. Ada pun harga kopi yang dijual ke pasar ekspor mencapai Rp 70.000 hingga Rp 80.000 per kilogram.Saat ini, produksi kopi Bondowoso mencapai 3.000 ton per tahun. Dari total volume tersebut, 1.000 ton telah diekspor ke berbagai negara lain dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan kopi di Bondowoso dan daerah sekitarnya."ungkap Bupati Amin Said Husni, Selasa, (28/8/2018).

Kisah sukses petani kopi Bondowoso mengembangkan Arabica Java Ijen Raung pun menginspirasi warga lainnya. Saat ini, pertanian kopi meluas dan tengah dikembangkan di lereng Gunung Argopuro. Bagai bola salju, produksi kopi Bondowoso juga memiliki dampak bagi daerah di sekitarnya. Kini, di daerah-daerah sekitar Bondowoso mulai menjamur kafe kopi yang menyajikan kopi Arabica Java Ijen Raung. 

“Hadirnya program Bekerja sangat tepat mengentaskan masyarakat miskin di Bondowoso. Kami optimis pasti bisa melakukan akserasi pembangunan pertanian di pedesaan sehingga pendapatan petani makin meningkat dan angka kemiskinan terus ditekan,” ujarnya.

LINDUNGI PETANI KOPI MELALUI PERDA

Sebagai upaya perlindungan hukum terhadap kluster kopi arabika, Pemerintah Kabupaten Bondowoso mengusulkan Raperda Kluster kopi arabika untuk dibahas oleh Dewan Pimpinan Rakyat Daerah (DPRD).
Raperda kluster ini menurut Bupati Amin Said Husni, merupakan upaya Pemkab Bondowoso dalam mengatur tata niaga, perkembangan kualitas dan kuantitas kopi sehingga tidak di rusak oleh kepentingan-kepentingan jangka pendek.

“Perda ini nantinya diharapkan bisa menjadi payung hukum kluster kopi di masa yang akan datang. Sehingga bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas kopi di Bondowoso untuk masa yang akan datang,” ujar Bupati Bondowoso Amin Said Husni.

Bupati menginginkan, kluster kopi yang sudah dibina dan dikerjasamakan oleh Pemerintah Kabupaten dengan beberapa pihak harus tetap eksis dan dikembangkan di masa yang akan datang.

“Bentuk pengembangannya, selain kopi Java Ijen Raung, nantinya kita akan mengembangkan kawasan Argopuro, seperti yang telah kita mulai tahun 2018 ini. Sehingga dengan Raperda ini, perkembangan kopi di Bondowoso lebih cepat,” tambahnya.

Jika ditetapkan menjadi Perda nanti, diharapkan bisa melindungi tata niaga kopi di Bondowoso yang selama ini masih diatur dalam Peraturan Bupati. Sehingga posisi yuridisnya semakin kuat.

“Hubungan transaksi antara petani dengan BUMD, BUMD dengan pembeli, pembeli dengan petani, nantinya akan diatur tata kelolanya. Sehingga kita bisa memastikan dari segi kualitas dan kuantitas kopi arabika Bondowoso bisa ditingkatkan, dan tidak dirusak oleh kepentingan-kepentingan jangka pendek, baik itu kepentingan petani maupun kepentingan pembeli,” tegasnya.

Ekspansi perkebunaan kopi di Bondowoso, diakui oleh Amin Said Husni, berkat kontribusi Perhutani yang membuka lahan besar-besaran bagi warga untuk menanam kopi.Sehingga, sampai saat ini luas lahannya tidak kurang dari 14 ribu hektar dengan jumlah petani mencapai 4 ribu orang lebih, di kawasan gunung Ijen dan gunung raung.


ANCAMAN KRISIS KOPI DI 2015

Tingginya konsumsi kopi dalam negeri yang tak diimbangi dengan pola tanam dan pemeliharaan tanaman kopi yang baik dikhawatirkan akan mendatangkan krisis kopi untuk Indonesia. Ini diungkapkan Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia, Sumarhum. Kekhawatiran ini wajar mengingat saat ini produksi kopi di Indonesia mulai dipengaruhi perubahan iklim. Selain itu, banyaknya bencana alam seperti letusan gunung api juga diakui memiliki pengaruh pada cita rasa dan kualitas kopi.

"Kalau tidak segera ambil langkah bisa saja kita krisis kopi 2025 mendatang. Kalau sekarang kita ekspor, bisa-bisa nanti kita impor. Karena konsumsi kopi dalam negeri setiap tahun juga kenaikannya luar biasa," ujar Sumarhum.

Satu-satunya cara agar ancaman tersebut tak terjadi, kata Sumarhum adalah dengan mempertahankan cara dan sistem pengolahan kopi sesuai SOP yang sudah ditetapkan. Ini untuk menjaga kualitas dan cita rasa kopi Indonesia yang sudah mendunia. Selain itu, pihaknya juga mendorong agar lahan kopi diperbanyak. 

"Sudah kita dorong untuk memperluas lahan kopi agar produksi kita mampu memenuhi permintaan pasar, sebab saat ini tingginya permintaan konsumen kopi tentu jangan sampai kita impor.” ungkapnya.

Pusat penelitian kopi dan kakao (Puslit Koka) Indonesia mendorong petani untuk meningkatkan agribisnis kopi dan kakao dari hulu hingga hilir sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

"Lembaga riset hanya menghasilkan teknologi, kemudian ditawarkan kepada 'stakeholder' untuk digunakan untuk meninmgkatkan produktivitas kopi dan kakao di wilayah masing-masing," kata staf khusus Direktur Puslit Koka yang juga Manajer Edukasi Wisata Puslit Koka Indonesia Agus Budi Santoso di Jember.

Menurutnya Puslit Koka juga menghasilkan teknologi pascapanen baik kopi maupun kakao karena selama ini industri kedua komoditas tersebut masih kecil di Indonesia, padahal nilai tambah dari agroindustri tersebut cukup besar.

"Untuk itu, kami dorong agar petani meningkatkan agribisnisnya dengan tidak hanya menghasilkan biji kopi atau kakao, namun menghasilkan olahannya dan kami sudah menyiapkan teknologi pengolahan kedua komoditas itu dari hulu hingga hilir," tuturnya.

Puslitkoka yang sudah berdiri selama 107 tahun di Kabupaten Jember itu telah memproduksi banyak teknologi dan penelitian untuk mendukung sektor kopi dan kakao, mulai dari penetapan lokasi pengembangan kopi dan kakao, persiapan lahan, bahan tanam unggul, pemeliharaan, hingga teknologi pengolahan. 

"Hasil olahan kopi dan kakao yang dikelola Puslit Koka masih belum bisa diekspor karena produksinya masih sedikit akibat lahan percobaan yang terbatas, namun sejumlah konsumen dari berbagai daerah luar Jember rutin melakukan pemesanan produk Puslit Koka itu," katanya.

PUSAT Penelitian (Puslit) Kopi dan Kakao Indonesia memiliki tiga aset kebun sebagai koleksi plasma nutfah kopi dan kakao. Pertama di Kaliwining, Nogosari, Kecamatan Rambipuji, Jember dengan luas 160 ha berada di ketinggian 45 m di atas permukaan air laut sebagai koleksi plasma nutfah kopi robusta dan kakao.

Kedua di Sumberasin, Kecamatan Sumbermanjing, Kabupaten Malang. Di lahan seluas 110 ha itu berada di ketinggian 50 m di atas permukaan air laut. Di sana juga sebagai koleksi kakao dan kopi Robusta.

Ketiga di Andungsari, Bondowoso sebagai koleksi kopi Arabika, karena ketinggiannya mencapai 1.100-1600 m di atas permukaan air laut di lahan seluas 110 ha.

Puslit Kopi dan Kakao Kaliwining Nogosari, Kecamatan Rambipuji Jember memiliki laboratorium Somatic Embrigenesis terbesar di dunia. Tidak kurang dari 150 juta bibit kakao dan kopi dihasilkan per tahunnya di sini.

Selain menghasilkan teknologi melalui penelitian, lanjut dia, pihak Puslit Koka Indonesia juga mengembangkan edukasi wisata melalui Taman Sains dan Teknologi Kopi dan Kakao Indonesia atau "Coffee and Cocoa Science Techno Park (CCSTP)" yang diresmikan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) pada 2016.

"Total area yang dimiliki Puslit Koka Indonesia sekitar 380 hektare yang terbagi di tiga daerah yakni Kabupaten Jember, Malang, dan Bondowoso, namun edukasi wisata hanya di Kabupaten Jember," tuturnya.

Sumarhum menyebutkan, harga kopi arabika "green bean" bervariasi yakni mulai kopi arabika yang berkualitas baik atau spesialti yang kisaran harganya Rp80.000 hingga Rp.100.000 per kilogram dan harga kualitas biasa antara Rp30.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Khusus jenis Blue Mountain harganya bisa mencapai Rp. 150 ribu per kilogram. Saat ini produksi kopi Indonesia belum optimal. Dengan total kebun kopi seluas 1,2 juta hektar, produktivitas Indonesia hanya 500 kilogram per hektar.

Guna memperkokoh kedaulatan petani kopi di Republik Kopi, Pemkab Bondowoso menargetkan luasan kebun kopi rakyat mencapai 20.000 hektar pada tahun 2020. Salah satu caranya ialah membuka daerah baru sebagai sentra kopi.(EJ)

  • Tentang Penulis

    Ermina Jaen

    Editor Siaran RRI Surabaya

  • Tentang Editor

    Admin_Surabaya

    <strong>Team</strong> <strong>Website RRI Surabaya / website.rrisby@gmail.com</strong>

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00