• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Ketika Mantan Teroris dan Korban Ledakan Bom Kampanyekan Perdamaian

23 October
18:29 2016
0 Votes (0)

KBRN, Surabaya : Suara lirih Vivi Normasari seketika itu bergetar. Matanya berkaca-kaca ketika menceritakan Ledakan bom di Hotel JW Marriott di Jakarta pada 2003. Vivi merupakan saksi hidup dan korban dari kedasyatan bom marriott.

Meskipun sudah 13 tahun berlalu perempuan kelahiran Purwakarta ini ingat betul bagaimana musibah itu merenggut nyawa orang tak bersalah.

"Ketika kami menunggu di lobby, sekitar pukul satu siang tiba-tiba ada dentuman, dan refleks saya melihat ke dentuman itu. Pada saat menoleh bola api dan dentuman sangat keras seperti mau melahap kami, saya dan orang disekitar hotel. Saya tidak sadarkan diri, dan saya baru sadar setelah membuka mata dengan kondisi sangat gelap dan pengap," ungkap Vivi Normasari menceritakan kisahnya di sela kegiatan Short Course Penguata­n Perspektif Korban d­alam Peliputan Isu Te­rorisme bagi Insan Me­dia di Surabaya, Minggu (23/10/2016).

Dalam musibah itu Vivi mengalami luka bakar dan kecacatan permanen pada tangan. Namun semua itu tak menyurutkan dirinya untuk bangkit meski diakui sempat ada rasa trauma dan minder.

"Menjelang pernikahan saya memutuskan tidak menyelenggarakan pernikahan dengan kekasih saya. Pernikahan saya di November itu diundur dua kali. Namun sebelum bulan November saya memutuskan tidak melaksanakan pernikahan. Saya merasa tidak pantas mendampingi calon saya, karena tidak lagi berguna anggota tubuh salaya alami kecacatan," paparnya.

Titik balik anak kedua dari empat bersaudara ini seketika itu berubah ketika berjumpa dengan korban bom lainnya. Sikap yang sebelumnya tertutup akibat kecacatan yang dialami perlahan terbuka. Bahkan Ia juga tak sungkan lagi berbagi cerita.

Baginya, dengan bercerita setidaknya bisa membuka mata hati pelaku bom bahwa tindakan mereka mengakibatkan orang lain cacat seumur hidup dan trauma.

"Setelah kejadian saya di undang JW Marriott hotel untuk memperingati satu tahun bom Marriott dan saya bertemu korban juga securty JW Marriott namanya Bambang, ia mengalami luka bakar hampir 70 persen, kehilangan telinga, tangannya dua-duanya pakai tangan palsu, kakinya juga sama. Saya melihat kok mereka tidak ada rasa sedih. Disitu saya mulai berpikir luka saya tidak seberapa. Saya berkaca dari mereka untuk bangkit," terangnya.

Ia juga mengaku sekarang ini tidak menaruh dendam terhadap kelompok pelaku meskipun organ tubuhnya tidak lagi normal. Pertemuan dengan Ali Fauzi Manzi mantan teroris sekaligus adik kandung Amrozi dan Ali Imron seakan menjadi misi baru mengampanyekan pencegahan terorisme di Indonesia.

"Memang pada saat itu kondisi saya marah. Saya belum diperkenalkan secara pribadi. Namun pada saat titik Pak Ali nangis, mulai saya introspeksi wah saya jahat. Pak Ali nangis dan bilang dia tak tahan berada di ruangan ini. Saya merasa kok saya jahat. Akhirnya kami saling memaafkan," urainya.

Ali Fauzi menyatakan kasus teror bom yang terjadi merupakan bentuk pembelokan akidah. Penyesalanpun tumbuh ketika yang menjadi korban adalah orang tidak bersalah.

Ali juga menerangkan bagaimana dia direkrut hingga dididik menjadi seorang yang ahli merakit bom. Namun baginya ilmu yang dimiliki justru membawa bencana sehingga jatuh banyak korban.

"Saya remuk pertama kali ditemukan kawan-kawan korban bom. Disitu saya seperti dadili. Tapi saya sudah niatkan apapun yang keluar, apapun hujatan dari korban saya akan terima karena bagi saya itu merupakan konsekwensi dari perdamaian," terang Ali Fauzi.

Perhatian Pemerintah Kurang

Penyembuhan luka dan psikologis korban bom bukanlah perkara mudah. Rasa traumatik yang berkepanjangan dan rasa sakit yang dialami seakan menjadi tantang bagi pemerintah untuk memberikan yang terbaik. Alih-alih melindung warganya, namun penilaian pemerintah belum hadir secara maksimal dirasa Mulyono Sutrisman korban Bom Kuningan.

Meski Mulyono mengaku memori daya ingatnya melemah akibat ledakan bom, namun dirinya mencoba mengingat kejadian 2004 lalu itu.

Dari serangkaian kejadian hingga dagunya hilang akibat bom, ada memori yang masih melekat, dimana rumah sakit tidak mau menangani karena tidak adanya jaminan.

"Rumah sakit tidak ada jaminan tidak mau nangani. Sore baru ditangai karena ada jaminan dari kantor. Di evakuasi ke Singapura Jumatan malam. Dan akhirnya Pemerintah Austalia memberikan bantuan," katanya.

Pemerintah lanjut Mulyono harus hadir baik itu masalah biaya kesehatan. Sebab proses penyembuhan pastilah lama dan membutuhkan proses. Mulyono yang juga Ketua Forum Kuningan ini juga menyayangkan bantuan pengobatan LPSK yang akan dihentikan karena keterbatasan anggaran.

"Harusnya itu tidak terjadi. Kalau dihentikan kan sakit tidak bisa dihentikan, itu realitasnya, semestinya ada dana tersendiri bagi korban maupun keluarga korban terkena bom," urai Mulyono.

Terkait masalah pendidikan anak korban ledakan bom juga menjadi sorotan Mulyono. Tulang punggung yang sebelumnya bisa menafkahi keluarga kini  tidak lagi. Ledakam bom yang terjadi menyebabkan Kecacatan permanen bahkan kematian.

"Yang terjadi ada korban meninggal. Kami mencoba mendapatkan beasiswa bagi anak-anak karena kondisi ekonomi benar-benar jatuh pada saat Ayahnya meninggal. Pendayaan ekonomi juga perlu karena pada saat jatuh, kondisi ekonomi juga jatuh," ujar Mulyono.

Harapan sama juga diutarakan Ni Wayan Leniasih istri dari korban Bom bali yang menjadi korban.Praktis sejak musibah terjadi. Leniasih harus membanting tulang menghidupi dua anaknya yang masih kecil.

"Saya benar-benar kewalahan. Saat ini saya belum rasakan bantuan pemerintah. Tulang punggung saya sekarang tidak ada. Ya saya berharap ada bantuan pendidikan dan kesehatan," beber Leniasih.

Direktur Aliansi Indonesia, Damai Hasibullah Satrawi, mengatakan pemerintah harus lebih memperhatikan korban. Hasibullah berpendapat berdasarkan pengakuan dari beberapa korban, pada waktu kejadian pemboman, tidak sedikit dari mereka yang harus menunggu selama berjam-jam untuk mendapatkan layanan medis karena menunggu jaminan pembiayaan dari pemerintah.

"Ini harus ada dana khusus. Agar tak kesulitan mengeluarkan dana, anggaran untuk korban terorisme. Kita mendorong Kemenkeu menggunakan dana cadangan supaya bisa dikeluarkan sewaktu-waktu," pungkasnya. (BH/RPP)

  • Tentang Penulis

    Admin_Surabaya

    <strong>Team</strong> <strong>Website RRI Surabaya / website.rrisby@gmail.com</strong>

  • Tentang Editor

    Admin_Surabaya

    <strong>Team</strong> <strong>Website RRI Surabaya / website.rrisby@gmail.com</strong>

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00