• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Masyarakat Kediri hingga Jepang Berburu Tasbih Cendana di Kota Tahu

29 June
05:19 2016
1 Votes (5)

RRI, Kediri : Tasbih adalah rangkaian bulatan kecil dari kayu yang dirangkai dengan menggunakan tali benang. Umumnya, tiap rangkaian tasbih terdiri dari 100 butir atau 33 butir kayu.

Salah satu Pengrajin Tasbih asal Kabupaten Kediri, Siti Budiyah, Rabu (29/6/2016), mengatakan, dengan menggunakan tasbih maka seseorang  dapat mengetahui jumlah dzikir yang telah diucapkan untuk mengagungkan  nama Allah SWT.

"Saat ini, ada banyak tasbih dipasarkan di Tanah Air. Namun, pada bulan Ramadhan seperti sekarang yang paling banyak diburu adalah tasbih cendana," kata Siti, di Kediri, Rabu (29/6/2016).

Perempuan yang mengawali bisnis tasbih sejak tahun 1976, menjelaskan, saat ini tasbih yang terbuat dari kayu pohon cendana memang mulai sulit dicari. Hal itu karena keberadaannya sangat langka.

Namun, pemburu tasbih jenis itu banyak  membutuhkannya karena kelebihan dari bahan bakunya. Salah satunya, terletak pada aroma wangi alami yang ditimbulkan dari kayu cendana.

"Aroma itu secara otomatis membantu kekhusukan dalam berdzikir," katanya.

Kayu Cendana itu sendiri, merupakan kayu dari pohon penghasil yang juga bisa menghasilkan minyak cendana. Kayunya digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, campuran parfum, serta sangkur keris (warangka). Kayu cendana yang berkualitas bisa menyimpan aromanya selama berabad-abad secara alami.

Konon di Sri Lanka, kayu cendana ini digunakan untuk membalsam jenazah putri-putri raja sejak abad ke-9. Kalau di negara Indonesia, kayu ini banyak ditemukan di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Pulau Timor.

Akan tetapi, sekarang keberadaan pohon cendana juga mulai banyak ditemukan pula di Pulau Jawa dan pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya. Sebelumnya, Tanaman Cendana dianggap sebagai tumbuhan parasit.

Apalagi, kecambahnya memerlukan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya. Penyebabnya, karena perakarannya sendiri tidak sanggup mendukung kehidupannya. Karena prasyarat inilah cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan.

Di samping itu, pengembangan bisnis tasbih di Kediri tak bisa lepas dari keberadaan Kampung Tasbih. Lokasinya berada di Dusun Jurangwuluh, Desa Kedawung, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.

Ratusan warganya pernah menggantungkan hidup dengan membuat tasbih secara manual. Tapi sekarang situasi berubah akibat perkembangan teknologi permesinan. 

Salah satunya, Siti Budiyah sendiri yang mana dia adalah saudara pembuat tasbih pertama di Jurangwuluh, yaitu Purnadi. Mengenai harga tasbih saat ini, dia mengaku, sangat stabil. Tasbih paling murah berbahan kayu mentaos dan dijual per kodi (20 buah). Sementara, tasbih berbahan baku kayu mahal bisa ditawarkan ratusan ribu rupiah per kodi.

Selama ini, tasbih produksinya secara rutin dikirim per minggu ke berbagai daerah. Seperti, ke Surabaya, Cirebon, Jakarta, sampai ke luar Jawa.

"Untuk pengerjaan dengan mesin bubut, dalam sehari kami bisa menghasilkan 10 untai tasbih sedangkan secara manual hanya dua untai tasbih," katanya.

Meski demikian, lanjut dia, untuk menjawab permintaan pasar saat ini pihaknya sengaja mengelola usahanya dengan sistem khusus. Dengan 10 orang pekerja, dia menggabungkan pengerjaan manual dan mesin modern.

Alhasil, perjuangannya selama puluhan tahun terbayarkan pada masa kini. Apalagi, tatkala dia banjir pesanan tasbih dari berbagai penjuru Nusantara hingga Jepang. Umumnya, penjualan tasbihnya laris manis pada bulan Ramadhan maupun ketika musim haji tiba. (Ac/Rpp)

  • Tentang Penulis

    Ayu Citra Sukma Rahayu

    Reporter SP RRI Kediri

  • Tentang Editor

    Rio Putera Perdhana

    Admin Website-Media Sosial RRI Surabaya / website.rrisby@gmail.com

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00