• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Menanti Hari Kemenangan dengan Kopiah Rajut Masa Kini

12 June
14:03 2016
1 Votes (5)

RRI, Kediri - Kota Tahu Kediri tak hanya dikenal dengan menjamurnya pengusaha tahu kuning atau biasa disebut tahu takwa. Akan tetapi, kawasan yang juga terkenal dengan legenda Calon Arang maupun Kisah Dewi Kilisuci itu juga tersohor dengan sebutan kota santri. Apalagi kota itu memiliki banyak lembaga pendidikan Islam atau pondok pesantren yang menyebar hingga ke pelosok desa.

Dari kondisi itu, tak dapat dipungkiri, bila Kediri banyak menjadi acuan pendidikan agama Islam. Selain itu kota ini sekaligus didapuk sebagai pasar Islam atau syariah yang potensial bagi sejumlah pengusaha berbagai produk bernuansa muslim.

"Misalnya saja, kopiah atau sering disebut songkok maupun peci. Produk yang umumnya berbahan kain beludru warna hitam itu kini punya model baru dan semakin berkembang dari tahun ke tahun," kata Pemilik Usaha Kopiah Rajut, Muhammad Ihwan, di Kediri, Minggu (12/6/2016).

Menurut dia, berdasarkan sejarahnya konon kopiah merupakan sejenis topi tradisional bagi orang Melayu. DiIndonesia penutup kepala itu kemudian menjadi bagian dari pakaian nasional dan dipakai oleh orang Islam. Songkok juga dikenakan oleh tentara maupun polisi Malaysia dan Brunei Darussalam pada upacara tertentu. Bahkan, barang tersebut menjadi variasi dari Fes atau Tharbusy yang berasal dari Maroko.

"Sampai sekarang, kopiah sangat populer bagi masyarakat Melayu di Malaysia, Singapura, Indonesia, dan selatan Thailand. Perlengkapan ini juga berasal dari pakaian yang dipakai di Ottoman Turki," katanya.

Lalu, penutup kepala itu juga menjadi populer di kalangan India Muslim. Kemudian perlahan-lahan menjadi songkok di dunia Melayu. Dalam sastra Melayu, songkok telah disebut dalam Syair, Siti Zulhaidah (1840) yakni berbaju putih bersongkok merah.

Bagi kalangan orang Islam di Nusantara, kopiah menjadi penutup kepala resmi ketika menghadiri upacara-upacara penting. Seperti upacara perkawinan salat Jumat, upacara keagamaan, dan  menyambut  Hari Kemenangan, Idul Fitri maupun saat Idul Adha tiba. Songkok juga dipakai sebagai pelengkap baju adat Melayu yang dipakai untuk menghadiri pertemuan-pertemuan tertentu.

Dengan kian banyaknya penggemar kopiah, seorang pengusaha muda asal Dusun Ngawinan, Desa Bulu, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri tersebut mendirikan usaha kecil-kecilan, dengan memproduksi, Kopiah Rajut.

Usaha itu, dimulai Muhammad Ihwan pada tahun 2014 di mana idenya didapat setelah mengikuti pelatihan kewirausahaan saat dia masih menjalani Kuliah Kerja Nyata/KKN. Meskipun selepas kuliah di salah satu kampus ternama di Kota Kediri, pihaknya sempat bekerja menjadi web programmer di sebuah perusahaaan tetapi dia memilih berusaha dibandingkan bekerja.

Dia merasa, bekerja dengan orang kurang merasa bebas karena sangat terikat jam kerja. Oleh sebab itu dia memberanikan diri terjun di dunia bisnis. Walau mengawali usaha dengan modal minim atau sekitar Rp4 juta saat itu dia sudah mempunyai tiga orang pekerja yang memiliki keahlian merajut benang demi benang.

"Selain itu, dengan modal tersebut juga sudah mampu membeli sejumlah perlengkapan dan alat rajut," katanya.

Perlahan, tapi pasti sejak dua tahun lalu hingga sekarang kopiah produksinya telah memiliki ratusan motif buatan sendiri. Motif yang paling banyak diburu pembeli adalah motif NKRI yakni perpaduan warna merah putih, bintang lima, dan lolly pop.

Pada bulan Ramadhan ini, dia mengaku, kebanjiran order dari pembeli. Kalau pada hari normal terjual empat hingga lima kopiah per hari maka kini meningkat signifikan menjadi laku 40 hingga 60 kopiah Angka itu setara dengan dua hingga tiga kodi per hari. Barang itu dipatoknya dengan harga relatif mahal atau di atas Rp50.000 per buah.karena bahan baku benangnya memakai kualitas nomor satu.

Selama ini, ulas dia, perkembangan usahanya terganjal sejumlah kendala. Salah satunya dari sisi pemasaran. Apalagi pemerintah daerah setempat juga belum memperhatikan usahanya. Oleh sebab itu dia kembali nekad belajar mengembangkan bisnisnya. Namun, kini dengan sistem online baik melalui media sosial maupun membuat web.

Alhasil, berkah ramadhanpun diraihnya. Apabila selama ini pembelinya dari tingkat lokal seperti Kediri maupun di luar pulau Jawa saja. Sekarang sudah memulai ekspor ke India.

Untuk itu, dia mulai tekun belajar cara berbisnis di pasar internasional. Seperti bagaimana mengemas barang yang baik mengirimkannya ke luar negeri dan menjamin barang diterima dengan utuh oleh si konsumen.

Bahkan, lanjut dia, dengan derasnya animo pasar muslim pada bulan Ramadhan jikalau awalnya bisnis itu hanya dibantu tiga orang pekerja yang umumnya kalangan ibu-ibu, sekarang jumlah pekerjanya meningkat menjadi 15 orang. Dia berharap, pemda setempat dapat membantu pengembangan usahanya sehingga mampu melakukan ekspansi pasar. (ac/rpp)

  • Tentang Penulis

    Ayu Citra Sukma Rahayu

    Reporter SP RRI Kediri

  • Tentang Editor

    Rio Putera Perdhana

    Admin Website-Media Sosial RRI Surabaya / website.rrisby@gmail.com

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00