• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

Berawal Dari Curhat Petugas Kebersihan, Mahasiswa UKWMS Buat Komposter Tenaga Surya

10 June
08:52 2016
0 Votes (0)

KBRN, Surabaya - Data dari situs Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia menunjukkan bahwa setiap tahunnya, kota-kota di dunia menghasilkan sampah hingga 1,3 miliar ton. Diperkirakan oleh Bank Dunia, pada tahun 2025, jumlah ini bertambah hingga 2,2 miliar ton. Masalah sampah, baik organik maupun anorganik sudah sepantasnya menjadi perhatian bagi seluruh masyarakat. Dari sampah yang menumpuk, bisa terjadi berbagai masalah seperti bau tidak sedap, banjir, bencana alam lainnya hingga penyebaran wabah penyakit. Kondisi ini mencerminkan kebutuhan masyarakat modern akan suatu teknologi yang tepat guna dalam pengelolaan masalah sampah.

Berawal dari mendengarkan ‘curhat’ petugas kebersihan serta melihat kondisi sekitar, menyaksikan banyaknya sampah menumpuk, berbau menyengat dan tidak diolah dengan baik. Kondisi ini membuat dua orang dosen Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) membentuk tim penelitian dengan mahasiswa untuk membuat sebuah Komposter Bertenaga Surya. “Petugas kebersihan punya tugas yang berat, namun susah memperoleh pendapatan tambahan karena tidak punya waktu untuk menjalankan usaha lain. Dari sana terbesit ide untuk membuat alat pengolah sampah organik menjadi kompos dengan tenaga surya dengan sistem elektrik yang bekerja otomatis. Memanfaatkan tenaga surya, tidak perlu biaya operasional listrik, tidak perlu banyak waktu dan dapat dipergunakan untuk meningkatkan pendapatan dengan menjual hasil komposnya,” urai Andrew Joewono, ST., MT, Jumat (10/6/2016).

Dosen yang telah bergabung di UKWMS sejak tahun 1997 itu lantas menjelaskan cara kerja Komposter Tenaga Surya. “Bahan atau sampah organik dimasukkan ke dalam tabung pengolah dan dicampur dengan bakteri starter secara merata, lalu ditambahkan bulk agent (penggembur). Sesudah semuanya tercampur dengan baik, maka proses pengkomposan sudah dimulai, alat ditutup, dan setiap harinya diputar selama 5 menit dengan sistem elektrik otomatisnya. Dalam 5-7 hari proses pengkomposan akan mengalami proses puncaknya,” ungkap Andrew. Keunggulan lain dari menggunakan peralatan ini adalah bisa mempercepat proses pengkomposan yang umumnya membutuhkan waktu hingga sebulan.

Hebatnya, komposter ini juga dapat dipergunakan untuk mengolah sampah organik di rumah-rumah susun atau perumahan, karena tidak menimbulkan bau. Alat ini bekerja dengan listrik, yang diperoleh dari solar panel yang mengolah energi cahaya matahari menjadi energi listrik yang disimpan dalam baterai. Solar panel yang digunakan jenis policrystaline, sehingga dengan cahaya matahari yang sedikit saja, sudah dapat menghasilkan listrik. “Jadi dengan cuaca yang agak mendung sekalipun, maka alat ini masih dapat menyimpan energinya,” tandas Lanny Agustine, ST., MT. Bersama dua orang mahasiswa yakni Pandyapratita Putra dan Alvian Nugraha, Lanny dan Andrew lantas berhasil meraih Juara ke III dalam ajang Lomba Teknologi Tepat Guna Tingkat Surabaya tahun 2016 yang diserahkan pada tanggal 31 Mei 2016 kemarin.

Harapan tim peneliti lokal ini tidak muluk-muluk. Mereka ingin masyarakat dapat memanfaatkan sistem peralatan ini dengan mudah, dikelola secara mandiri oleh kelompok rukun tetangga atau yang lebih besar. “Sampah-sampah rumah tangga (organik) dapat dipergunakan kembali untuk kepentingan penghijauan di lingkungan tempat tinggal, dapat juga dipergunakan untuk memproduksi pupuk cair dan kompos yang bernilai jual (peningkatan ekonomi masyarakat),” demikian Pandya menuturkan angan-angan kelompoknya.

Melalui proses penelitian selama lebih kurang 10 bulan, Komposter Tenaga Surya digagas menjadi suatu perwujudan teknologi tepat guna yang sedianya dapat mengajarkan masyarakat untuk mengelola sampah organiknya secara pribadi. Hidup bersih dan ramah lingkungan tanpa harus membebani lahan tempat tinggal mereka dengan tempat penampungan sampah dan pembuangan akhir yang seringkali menimbulkan bau tak sedap yang bisa tercium hingga berkilo-kilometer jauhnya. Memilah sampah dan mengolahnya kembali menjadi kompos bahkan dapat membawa manfaat yang terwujud dengan menghijaunya lingkungan sekitar. Itulah mimpi yang diusung oleh Tim Jurusan Teknik Elektro UKWMS yang akan segera berlaga kembali dalam Gelar Teknologi Tepat Guna Tingkat Nasional yang akan digelar pada bulan November 2016 mendatang di Mataram. (anik/rpp)

  • Tentang Penulis

    Anik Hasanah

    Reporter RRI Surabaya

  • Tentang Editor

    Rio Putera Perdhana

    Admin Website-Media Sosial RRI Surabaya / website.rrisby@gmail.com

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00