• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

RUANG PUBLIK

Polda Jateng: Sangsi Tegas Kekerasan Perempuan &Anak, Kurungan Max 15 Tahun! Ini Rincian Hukumannya

8 December
10:15 2019
0 Votes (0)

KBRN, Semarang: Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel bersama dengan pemerintah provinsi Jawa Tengah berkomitmen anti kekerasan terhadap Perempuan dan Anak.

Komitmen tersebut secara simbolis ditandai dengan bubuhan tanda tangan dalam perrnyataan komitmen anti kekerasan terhadap perempuan dan anak usai Jalan Sehat Hari Ibu ke – 91 di area Car Free Day Simpanglima Semarang, Minggu ( 8/12/2019)

Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel melalui Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Iskandar Fitriana Sutrisna menyebut ada sangsi tegas bagi pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Sanksi pidana kekerasan terhadap perempuan dan anak, Pasal 351 KUHP max 7 th penjara dan Undang- undang 35 thn 2014 tentang perlindungan Perempuan dan anak ancaman penjara maksimal 15 tahun,” katanya.

Dijelaskan sangsi kurungan maksimal akan dijatuhkan jika menyebabkan korban kekerasan meninggal dunia.

“Pasal 1 bila mengakibatkan luka biasa ancaman 3,8 thn, Pasal 2 Bila luka berat ancaman 5 thn dan pasal 3 bila MD ancaman 15 thn. Bila dilakukan oleh orang tuanya maka hukuman ditambah sepertiga lagi dari  pasal 1, 2 dan 3,” tandasnya.

Ketua Tim Pengerak PKK Provinsi Jawa Tengah, Siti Atikoh menyebut dari sisi pencegahan edukasi ditingkat keluarga, remaja dan memperkuat ekonomi keluarga menjadi penting.

“Perlu awareness dari masyarakat pada sisi pencegahan terhadap angka kekerasan terhadap perempuan, jadi edukasi ditingkat keluarga kemudian remaja yang mau menikah makanya kita stop pernikahan pada anak karena dari sisi psikis perkawinan pada anak cenderung belum kuat,” pesannya.

Ia menyebut angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jawa Tengah dalam kurun waktu 2019 masih cukup tinggi tercatat mencapai sekitar 1.800 kasus.

“Ini menunjukan bahwa administrasi pelaporan di Jawa Tengah terhadap angka kekerasan di masyarakat cukup baik, karna kalau kita bicara data kekerasan itu seperti fenomena gunung es,” katanya

Menurutnya, banyak masyarakat yang masih enggan melaporkan kasus kekerasan, terutama yang menyangkut Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

“Belum semua orang itu berani melaporkan kasus kekerasan, karena paling banyak kan kasus KDRT ya, dan itu kadang masih dianggarp ranah privasi . Kita harapanya itu kesadaran dari masyarakat dari ibunya, anaknya terlindungi dengan baik,” pungkasnya

 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00