• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

RUANG PUBLIK

Merasa Terhasut Hoax, Ratusan Pelajar Papua Putuskan Kembali ke Jateng.

15 November
10:30 2019
0 Votes (0)

KBRN, Semarang: Setelah sempat meninggalkan kotamereka belajar untuk kembali ke daerah asal (eksodus) dampak kerusuhan dan hoax,  kini ratusan pelajar asal Papua kembali ke Jawa Tengah. 


Anderson Natkime, pelajar kelas XII SMA Santo Michael Semarang mengatakan, dirinya kembali ke Semarang karena tempat sekolah barunya, tidak bisa menerima kiriman nomor peserta ujian nasional. Sebenarnya, sekolah di tempat asalnya, di Timika juga menerima dengan tangan terbuka, untuk warga setempat yang ingin melanjutkan pendidikan.


"Saya harus selesaikan dulu. Sebelumnya saya pulang ke Papua karena ingin bergabung dengan keramaian, setelah lihat di YouTube, sebenarnya orang tua tidak menyarankan, tapi itu kemauan saya pribadi saya karena saya sadar bahwa saya merasa dibohongi oleh pemberitaan yang berkembang saat itu, “ kata Anderson, di Press Room Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jumat, (15/11/2019).


Pelajar asal Timika, Papua Tengah ini mengungkapkan, ada puluhan pelajar yang kembali ke Semarang. Rata-rata mereka ingin meneruskan studinya ke yang belum selesai. Mereka sebelumnya pulang karena terjadi kerusuhan. Tapi ternyata informasi yang didapatnya melalui media sosial tidak sesuai dengan realita di Papua.


“Memang yang pulang ke Papua banyak, faktanya begitu karena isu-isu (negatif). Pelajar yang masih di sana bisa dihitung,” tutur Andreson.


Menurut dia, di Kota Semarang karakter masyarakatnya seperti Papua, orangnya juga ramah, baik, setelah kenalan cepat jadi teman. Bahkan seolah sudah dianggap seperti keluarga sendiri.


“Ini yang buat kami tambah nyaman, pengen di sini terus. Tapi hati kecil kami, tetap cinta Papua,” ucapnya.


Senada dengan siswa SMK Bagimu Negeri Semarang, Susan Manuaron mengaku sejak awal sudah memutuskan untuk tidak kembali ke rumahnya di Nabire, Papua Barat, karena tidak terprovokasi dengan isu-isu negatif yang berkembang saat itu. Bahkan, ketika diajak sepupunya yang kuliah di Semarang pun dia tolak baik-baik.


“Sepupu mengajak pulang, Papua katanya mau pisah sendiri. Di sini saya aman. Pokoknya tidak, itu hari Sabtu dan Senin mau pulang, papa sudah kirim ongkos untuk pulang,” ucapnya.


Siswi kelas XII ini merasa nyaman-nyaman saja sekolah di Semarang. Dirinya juga ditelepon oleh ibunya dan mengatakan bahwa Nabire Aman, dan Papua aman, meski ada sedang kacau saat itu. Mereka para pendemo masih marah-marah kepada pemerintah. Dirinya mengatakan kepada ibunya ingin fokus sekolah dan akhirnya berlima dengan rekannya satu sekolah tidak pulang kampung.


“Di Semarang aman kan, fokus kami sekolah saja, tidak terganggu apa-apa. Kami sudah terasa seperti Papua, kalau ketemu sesama halo kakak. Ini papua, kita mau membeda-bedakan tidak bisa,” ujarnya.


“Saya ingin selesaikan sekolah dulu, pengen menjadi orang sukses dan ingin kembali dan membangun Papua kelak,” ucapnya.


Sebelumnya,Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel menyebut sebanyak 107 mahasiswa dan siswa asal Papua kini telah kembali ke Jawa Tengah untuk melanjutkan studinya.


“Berdasarkan data yang ada di Polda Jawa Tengah terdapat 217 mahasiswa dan siswa asal Papua yang kembali ke Papua ketika mereka memperoleh informasi, isu bahwa tidak aman kuliah di Jawa Tengah, namun saat ini 107 Mahsiswa dan siswa yang telah kembali ke Jawa Tengah,” katanya usai gowes dan coffee morning bersama awak media, Selasa ( 12/11/2019).


Menurutnya, para mahasiswa yang kembali ke Jawa Tengah mengaku sadar bahwa isu yang beredar selama ini tidaklah benar.


“Seluruhnya merasa dibohongi, sampai disana tidak ada fasilitas, tempat tinggal seperti yang dijanjikan, sehingga mereka yang sudah kembali menyuarakan agar kawan- kawan yang lain dapat kembali kesini,” tandasnya.


Rycko mengklaim TNI dan Polri bersama pemerintah akan terus  memberi jaminan keamanan.


“Seluruh masyarakat di 35 kabupaten kota di Jawa Tengah menerima mereka dengan baik selama ini,” terangnya.


Sementara itu, guna menjamin suasana kamtibnas jelang Hari Ulang Tahun (HUT) Organisasi Papua Merdeka (OPM) , Kapolda mengaku akan melakukan upaya preventive dengan membangun komunikasi dengan berbagai pihak.


“Kami bersama sama dengan para sesepuh partai juga untuk mengelorakan bahwa Papua adalah bagian Indonesia, Indonesia adalah Papua, NKRI adalah Harga mati, kita harapkan tidak ada gejolak,” ujarnya.


Tercatat hingga kini terdapat hampir 3.000 mahasiswa dan siswa asal Papua di Jawa Tengah


 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00