• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

RUANG PUBLIK

Industri Rumahan KemenPPPA Telurkan 3.000 Pelaku Perempuan, Untuk Ketahanan Keluarga

13 November
13:25 2019
0 Votes (0)

KBRN, Semarang: Program prioritas Pengembangan Pelaku Industri Rumahan (IR) milik Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) kini telah berjalan 3 tahun.

 

Kementerian PPPA sendiri telah menginisiasi model pengembangan Industri Rumahan (IR) dimulai sejak tahun 2016. Model IR ini disasarkan kepada perempuan pelaku usaha level mikro atau bahkan ultra mikro, yang sebagian besarnya belum tersentuh oleh program pemerintah, di antaranya berada di wilayah kantong-kantong kemiskinan, tempat pengiriman Pekerja Migran Indonesia (PMI).

 

Asisten Deputi Kesataraan Gender Bidang Ekonomi, M. Ihsan menyebut selama 3 tahun Kementerian PPPA telah merintis model pengembangan industri rumahan di 21 kabupaten/kota, sudah ada sekitar lebih dari 3 ribu perempuan pelaku industri rumahan.

 

“Hasil evaluasi sementara terhadap pelaksanaan model pengembangan IR ini menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan pelaku IR merasakan manfaat dari program ini, dan usaha mereka berkembang lebih maju dan status ekonomi keluarganya meningkat,” katanya saat membuka Workshop Pengembangan Industri Rumahan di Hotel Aston, Semarang, Rabu (13/11/2019)

 

Ihsan dalam panel menambahkan capaian keberhasilan tampak dalam grafik perkembangan IR. Dalam grafik tersebut tampak banyak para pelaku telah mengalami kenaikan kelas hingga sudah ada yang berhasil masuk dalam skala Usaha Kecil dan Menengah.

 

“Sudah ada 8 yang berhasil masuk dalam skala usaha kecil dan menengah,” paparnya.

 

Tak hanya itu, selama 3 tahun ini telah tampak pula  peningkatan produk yang di pasarkan.

 

“514 orang pelaku IR telah memiliki Perizinan Produk Industri Rumah Tangga (PIRT), 275 telah memiliki Izin Usaha Mikro Kecil (IUMK), 253 IR memiliki Surat Keterangan Usaha (SKU) Desa serta 140 pelaku IR memiliki hahal MUI,” tandasnya.

 

Menurutnya, selama ini mereka mengalami berbagai masalah seperti minimnya informasi bahan baku,  kurangnya pengetahuan dalam proses bahan baku,  packaging hingga pemasaran.

 

"Dalam pemasaran apalagi mereka hanya masarkan secara tradisuonal,  jadi belum menyentuh IT,  maka atas dasar itulah kami berkontribusi dalam permen P PPA," ujarnya.

 

Meski kerangka model atau pilot project, dan secara teknis administrasi sudah berakhir tahun 2019 ini. Namun secara komitmen, Kemen PPPA akan tetap membantu, tapi dalam bentuk lain. Salah satunya adalah dengan menghadirkan beberapa kementerian dan para mitra.

 

“Harapannya, ini menjadi pintu masuk kita untuk bersinergi. Ini ada 21 kabupaten/kota yang sudah punya sekian ribu perempuan pelaku IR dengan beragam capaiannya. Jadi tidak perlu lagi susah payah mencari target sasaran. Tinggal bagaimana mereka diberikan dukungan dan support yang lebih riil lagi, agar mereka semakin berkembang usahanya.” Tuturnya.

 

Ia mengatakan orientasi pemberdayaan ekonomi perempuan dibidang industri rumahan ini tak hanya untuk peningkatan ekonomi, melainkan juga untuk ketahanan rumah tangga, mecegah kekerasan terhadap perempuan, hingga peningkatan gizi anak.

 

“Kadang juga masalah KDRT pada perempuan ini dipicu oleh ekonomi, sehingga dengan kita melakukan modelinbg ini diharpakan merubah relasi laki –laki para suami agar bisa memahami usaha usaha perempuan perlu disuport,” pungkasnya.

 

Sementara itu, Kepala DP3AKD Jawa Tengah, Retno Sudewi menyambut kegiatan KemenPPPA di Jawa Tengah karena dapat saling bertukar informasi dan edukasi untuk mengembangkan industri rumahan di Jawa tengah.

 

“Karena kita tidak hanya meningkatkan potensi di daerah jawa tengah, tapi kita juga bisa sharing dengan provinsi lain di luar Jawa Tengah,” katanya.

 

 

 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00