• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

SEPUTAR KAMPUS

Mahasiswa UIN Walisongo Kunjungi Desa Tawangsari

14 October
20:44 2019
5 Votes (4)

KBRN, Semarang : Sebanyak 92 mahasiswa Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang kunjungi Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, Senin (14/10/2019).

Kunjungan para mahasiswa dalam rangka mengikuti lokakarya Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Masyarakat tersebut dipimpin oleh Drs. Sadiman Al Kundarto, pengampu mata kuliah Patologi Sosial UIN Walisongo dan diterima langsung oleh Kepala Desa Tawangsari Yayuk Tutiek Supriyanti.

"Mereka para mahasiswa itukan selama ini di kelas sudah mendapatkan teori-teori, tapi bagaimana penerapannya mereka kan tidak paham, maka saya bawa ke sini," tutur Sadiman.

"Di samping harus punya ilmu pengetahuan, biar punya keterampilan juga harus melihat kenyataan seperti apa di lapangan. Jadi ini mereka saya bawa ke sini juga biar mereka bisa belajar bagaimana membuat orang itu terampil," imbuhnya.

Menurut Sadiman, sekarang mahasiswa tidak hanya cukup dengan pengetahuan dan keterampilan saja, tetapi dia harus menjadi seorang ahli. Artinya mahasiswa melaksanakan sesuatu itu harus selalu didukung metode dan teknik dengan proses indikator baru.

"Menjadi seorang ahli itu pun tidak cukup. Mereka harus punya kepribadian yang bagus biar menjadi orang yang punya integritas tinggi, supaya dia bisa diterima di masyarakat secara umum," ucap Sadiman.

Lebih lanjut dijelaskan, para mahasiswa UIN Walisongo khususnya yang mengambil mata kuliah Patologi Sosial dia bawa ke Desa Tawangsari, karena desa ini dulunya merupakan desa miskin yang mempunyai permasalahan yang cukup komplek, tetapi sekarang sudah menjadi desa maju dengan banyak prestasi.

"Mengapa mereka saya bawa ke sini karena saya tahu persis Tawangsari dulu kondisinya pada awal tahun 2013 itu termasuk Desa miskin. Dulu permasalahan di desa Tawangsari ini cukup komplek, diantaranya banyak pengangguran, dan banyak pemuda yang mabuk-mabukan minuman keras," ungkap Sadiman.

"Jadi mengapa saya bawa ke sini karena di sini sudah berhasil bagaimana penyandang masalah kesejahteraan sosial dirubah menjadi potensi kesejahteraan sosial, dan Alhamdulillah sudah mendapatkan banyak penghargaan. Maka saya bawa ke sini supaya mahasiswa itu tahu sendiri, mendengar sendiri cara-cara merubah dari Desa miskin menjadi tidak miskin dari lurahnya," pungkas Sadiman Al Kundarto.

Sementara itu Yayuk Tutiek Supriyanti mengaku, dirinya bisa membawa Tawangsari yang tadinya merupakan desa miskin menjadi desa yang cukup maju seperti sekarang juga berkat bimbingan bapak Sadiman Al Kundarto.

Selama menjadi kepala desa Tawangsari, Yayuk berhasil menurunkan angka kemiskinan dari 27% menjadi 11%.

"Kami selalu menekankan interpreneur,  kemudian anak-anak yang suka mabuk-mabukan kita rangkul ternyata potensi dia itu tinggi sekali untuk terjun di sana. Jadi kalau ada orang bilang bahwa anak nakal itu menjadi kendala, tapi kalau saya ndak, asal bisa cara merangkulnya," ungkap penggagas desa mandiri tersebut.

Kepada para mahasiswa, Yayuk berharap agar tidak hanya terpaku dengan ilmu yang mereka dapat di kampus, tetapi juga harus mencari ilmu di luar kampus sehingga jika lulus nanti tidak hanya ingin menjadi PNS, atau mencari pekerjaan tapi justru sebalik ya mampu menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain.

"Karena penerimaan PNS hanya 100 orang sedangkan yang memperebutkan sebanyak seribu orang. Begitu ketatnya, sehingga tidak mungkin semuanya bisa tertampung. Untuk itu jadilah entrepreneur yang justru menciptakan lapangan pekekerjaan," katanya.

Aulia Ningsih, mahasiswi semester 3  jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo yang turut hadir dalam lokakarya, mengaku telah mendapatkan banyak pengetahuan yang tidak pernah didapat di dalam kampus.

"Terkait acara lokakarya kunjungan lapangan di desa Tawangsari ini sungguh luar biasa kita mendapatkan pengalaman untuk belajar secara strategis seperti cara membuat biogas, cara berwirsusaha dan lain-lain," tuturnya.

"Saya berharap kita sebagai generasi milenial dapat mengembangkan budaya masyarakat desa, dengan memberdayakan masyarakat yang ada di desa kita sendiri seperti yang dilakukan Bu Lurah Yayuk, biar desa kita bisa maju seperti desa Tawangsari ini," tuturnya.

Hal yang sama dikemukakan Sari, yang juga mahasiswi semester 3. Dia mengaku berkesan dengan sepak terjang Lurah Tawangsari yang berhasil memberdayakan warganya untuk memberantas kemiskinan.

"Komentar saya tentang Desa Tawangsari sungguh sangat luar biasa, karena dengan ini kita bisa mencontoh bagaimana nanti kita akan turun ke masyarakat. Dari sini bisa kita teruskan ke desa-desa lain yang belum bisa mandiri," ucapnya.

Sedangkan mengenai kepemimpinan Yayuk sebagai kepala desa Tawangsari, menurut Sari, beliau benar-benar merupakan sosok Kartini di masa sekarang.

"Bu Yayuk itu sosok wanita tangguh seperti ibu kita Kartini zaman sekarang.  Dia itu sangat menginspirasi kita semua. Bagaimana beliau sangat dekat dengan masyarakatnya," pungkas Sari.

Yayuk Tutiek Supriyanti, yang kini menjabat sebagai kepala desa Tawangsari, menjadi motor perubahan di desanya berawal dari keinginannya untuk menciptakan lingkungan yang asri dan sehat dengan cara menggalakkan warga untuk menanam pohon dan disiplin dalam mengelola sampah.

Dia juga menginisasi pusat pengolahan sampah yang bisa dimanfaatkan. Sampah yang terkumpul kemudian dipilah. Sampah organik dimanfaatkan untuk pupuk, anorganik dimanfaatkan untuk daur ulang.

Karena sampahnya menggunung, pupuk yang dihasilkan pun juga banyak. Di sinilah Yayuk terinspirasi untuk membuat persediaan pupuk untuk mendorong pengembangan buah-buahan yang memiliki nilai jual.

Salah satunya adalah perkebunan buah naga yang sudah berhasil panen beberapa bulan lalu. Selain itu, pupuk datri sampah itu juga bisa dimanfaatkan warga secara gratis untuk menyuburkan tanaman.

Dengan berkembangnya perkebunan buah naga ini, Yayuk tertantang untuk menciptakan Desa Wisata dan Edukasi yang terpadu. 

Yayuk juga menjelaskan, sebelum adanya program ini, warga Desa Tawangsari rata-rata bekerja sebagai buruh di pabrik, sehingga wajar bila kesejahteraan warga setempat masih jauh dari kata cukup. Bahkan boleh disebut miskin.

Namun menurutnya, sekarang ibu-ibu di desa Tawangsari sudah mampu memproduksi kerupuk beras sebanyak 3 ton dalam waktu satu minggu. Bahkan saat ini sudah ada permintaan ekspor ke Malaysia dan China.

"Kita juga memproduksi kerupuk beras per minggu 6 ton. Sudah ada permintaan ekspor ke Malaysia dan China dan kami tengah mempersiapkan proses pengemasan," jelas Yayuk.

Belum merasa puas, wanita peraih peringkat 1 Kalpataru tingkat Jawa Tengah ini, masih ingin menggapai mimpi. Dia berobsesi Desa Tawangsari bisa masuk sebagai destinasi wisata. 

"Namun bukan hanya sekadar wisata biasa, tapi wisata yang menggabungkan edukasi dengan kebersihan lingkungan yang dilengkapi dengan river tubing," pungkas Yayuk. (don).




tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00