• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

RUANG PUBLIK

Strategi Penanggulangan Kemiskinan Yang Efektif

15 August
08:59 2019
0 Votes (0)

KBRN, Semarang : Program Penanggulangan Kemiskinan (GULKIN) sebenarnya sudah dimulai sejak lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, tertuang dalam BAB XIV Pasal 34 Ayat (1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantardipelihara oleh negara.

Hampir seluruh kementerian yang dibentuk, telah mencanangkan program dimaksud, namun hasil yang dicapai tampak belum optimal, disebabkan antara lain tidak adanya alat ukur yang realitik dan kurang mendasarkan pada hasil analisis penyebab masalah.

Faktor ekonomi, bisa disebabkan karena : kurangnya pendapatan yang disebabkan tidak punya modal, tidak punya alat dan tidak punya keterampilan.

Faktor sosial, bisa disebabkan karena : rendahnya tingkat hubungan dengan lingkungan sosialnya yang disebabkan rasa rendah diri, a sosial dan anti sosial.

Faktor politik, bisa disebabkan karena : kebijakan yang didasarkan atas keinginan pejabat yang hanya sekedar memenuhi persyaratan administratif yang telah ditetapkan dalam dokumen perencanaan, sehingga cenderung tingkahlakunya terkesan ada egoisme sektor. Program ditetapkan  tidak didasarkan atas hasil analisis yang dapat dicapai secara terukur, atau bahkan memang tidak dibuat secara terukur, supaya program bisa lestari. 

Faktor sikap mental, bisa disebabkan karena : mental rusak, boros, tidak mematuhi norma-norma yang dianut oleh masyarakat sekitarnya.

Faktor kondisi lingkungan yang tidak mendukung : lingkungan padat penduduk, banyak kelahiran, lapangan kerja terbatas dan bahkan tidak tersedia.

Memperhatikan konstelasi tersebut, jelas bahwa GULKIN tidak mungkin bisa diselesaikan hanya oleh satu instansi. GULKIN harus dilaksanakan secara terkordinasi, terukur dan berkesinambungan.

Adalah Ir. Agus Wariyanto, SIP.,MM meskipun baru beberapa bulan menjabat Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, telah dapat mengatur Strategi GULKIN yang Efektif yang dapat dilihat dari pelaksanaannya dengan menggunakan metoda, teknik dan pendekatan yang dilaksanakan secara bersama-sama dalam upaya mencapai tujuan program.

Metoda yang dipergunakan Community Development dengan jalan menggerakkan potensi yang ada di lingkungan sosialnya, baik berupa Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam, Sumber Daya Kelembagaan dan Sistem Nilai yang berkembang di masyarakat. 

Teknik yang dipergunakan Motivatif, Persuasif dan Partisipatif dengan cara menyadarkan, merayu dan melibatkan peranserta aktif pelbagai pihak termasuk keterlibatan sasaran binaan.

Pendekatan yang dipakai: 1)  Mutual Opportunity (gotong-royong) dengan asumsi bahwa tidak ada sukses sendirian, sukses selalu bersama orang lain. Dalam pelaksanaan melibatkan peranserta aktif : BAPPEDA, BPS, Womens International Clubs Semarang, Lembaga Amil Zakat Infak dan Sodaqoh Muhammadiyah (LAZISMU) dan Lembaga Sosial Keagamaan yang lain, Relawan Sosial, Legiun Veteran, BABINSA, BABINKAMTiBMAS, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, berbagai organisasi perempuan, instansi yang memiliki kesamaan misi dan Lembaga Pendidikan/Perguruan Tinggi. 

2). Prosperity (kesejahteraan), bahwa setiap orang pada hakekatnya ingin hidup sejahtera. Namun tidak semua orang bisa mencapainya, disebabkan berbagai kendala. 

3). Security (perlindungan), bahwa pada hakekatnya program yang dilaksanakan harus didasarkan atas kesadaran (motivatif) dan integritas yang tinggi, didukung pelbagai pihak, tanpa paksaan dan tanpa tekanan. Dilaksanakan melalui proses penyadaran, antara lain melalui DIA PETAPA (Media Peduli Ketahanan Pangan). Konsep dasar yang dikembangkan “menolong orang supaya ia dapat menolong dirinya sendiri, selanjutnya ia dapat menolong orang lain.” 

Hal ini dikandung maksud bahwa sasaran kegiatan program “mau merobah sikap mental dari ketergantungan menjadi kemandirian dan dari pola pikir konsumtif menjadi pola pikir produktif”. 

4) Religi (agama, budaya, adat-istiadat, kepercayaan yang dianut oleh sebagian besar masyarakatnya). Hal ini dikandung maksud bahwa sasaran pembinaan, tidak merasa terusik tingkat kepercayaannya.

Alat ukur yang dipergunakan adalah merubah 14 kriteria miskin BPS 2014 dengan target minimal kurang dari 9 kriteria. Alat ini, bisa dipergunkanan oleh siapa saja untuk mengukur keberhasilan program dengan membandingkan pre test, middle test dan pos test.

Oleh : Sadiman Al Kundarto                                                                                                                                                     Seorang Relawan Sosial.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00